Diposting Selasa, 22 November 2011 jam 9:58 pm oleh Gun HS

Proyeksi Terbaru Menunjukkan Permintaan Pangan Mencapai Dua Kali Lipat di Tahun 2050

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 22 November 2011 -


Permintaan pangan global bisa mencapai dua kali lipat pada tahun 2050, demikian menurut sebuah proyeksi terbaru yang dilakukan oleh David Tilman, Profesor Ekologi di Universitas College Minnesota of Biological Sciences, bersama rekan-rekan, termasuk Jason Hill, asisten profesor di College of Food, Agricultural and Natural Resource Sciences.

Memproduksi sejumlah makanan secara signifikan dapat meningkatkan kadar karbon dioksida dan nitrogen pada lingkungan dan menyebabkan kepunahan banyak spesies. Tapi hal ini dapat dihindari apabila teknologi pertanian dari negara-negara kaya diadaptasikan ke negara-negara miskin, dan apabila semua negara menggunakan pupuk nitrogen dengan lebih efisien.

“Emisi gas rumah kaca pertanian bisa dua kali lipat pada tahun 2050 jika kecenderungan dalam produksi pangan global ini terus berlanjut,” kata Tilman. “Pertanian global sudah menyumbang sepertiga dari seluruh emisi gas rumah kaca.” Sebagian besar emisi ini berasal dari pembukaan lahan, yang juga mengancam spesies.

Artikel dalam studi ini menunjukkan bahwa jika negara-negara miskin melanjutkan praktek-praktek seperti saat ini, mereka akan membuka lahan yang lebih besar lagi dari Amerika Serikat (dua setengah miliar hektar) pada tahun 2050. Tetapi jika negara-negara kaya membantu negara miskin meningkatkan hasil panen ke tingkat yang bisa dicapai, maka pembukaan lahan dapat dikurangi menjadi setengah miliar hektar.

Penelitian, yang dipublikasikan 21 November dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, menunjukkan bahwa mengadopsi pertanian “intensif” nitrogen-efisien dapat memenuhi permintaan pangan global di masa depan dengan dampak lingkungan yang jauh lebih rendah daripada “perluasan” pertanian yang dipraktekkan oleh negara-negara miskin, yang membuka lahan untuk menghasilkan lebih banyak makanan. Potensi manfaatnya cukup besar. Pada tahun 2005, hasil panen di negara-negara terkaya mencapai lebih dari 300 persen lebih tinggi dari hasil panen di negara-negara termiskin.

“Secara strategis mengintensifkan produksi tanaman pada negara berkembang dan negara maju akan mengurangi kerusakan lingkungan secara keseluruhan yang disebabkan oleh produksi pangan, serta menyediakan pasokan makanan yang lebih adil di seluruh dunia,” kata Hill.

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa baru-baru ini memproyeksikan peningkatan permintaan sebanyak 70 persen. Menurut Tilman, proyeksi ini pun menunjukkan bahwa dunia menghadapi masalah lingkungan yang besar kecuali adanya perubahan dalam praktek pertanian.

Dampak lingkungan akibat pemenuhan permintaan tergantung pada bagaimana pertanian global dikembangkan. Pembukaan lahan untuk pertanian serta penggunaan bahan bakar dan pupuk untuk tanaman pertanian meningkatkan karbon dan nitrogen pada lingkungan dan menyebabkan kepunahan spesies.

Dalam tulisan ini, Tilman bersama rekan-rekannya mempelajari berbagai cara untuk memenuhi permintaan pangan dan efek-efek lingkungannya. Pada dasarnya, pilihannya adalah meningkatkan produktivitas pada lahan pertanian yang ada, yang membuka lebih banyak lahan, atau melakukan kombinasi dari keduanya. Mereka mempertimbangkan berbagai skenario pada seberapa banyak penggunaan nitrogen, pembukaan lahan, dan pelepasan emisi gas rumah kaca yang berbeda-beda.

“Analisis kami menunjukkan bahwa kita dapat menghemat sebagian besar ekosistem bumi yang tersisa dengan membantu negara-negara miskin di dunia dalam memenuhi makanan mereka sendiri,” kata Tilman.

Kredit: University of Minnesota
Jurnal: David Tilman, Christian Balzer, Jason Hill, Belinda L. Befort. Global food demand and the sustainable intensification of agriculture. Proceedings of the National Academy of Sciences, 21 November 2011. DOI: 10.1073/pnas.1116437108

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.