Diposting Selasa, 22 November 2011 jam 5:40 pm oleh Evy Siscawati

Air yang Menguap dari Pepohonan Mendinginkan Iklim Global

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 22 November 2011 -


Penemuan ini diterbikan dalam edisi 14 september Environmental Research Letters, berimplikasi besar pada pembuatan keputusan mengenai penggunaan lahan. Pendinginan evaporatif adalah proses dimana daerah lokal didinginkan oleh energi yang dipakai dalam proses penguapan, energi yang dapat memanaskan permukaan lahan. Diketahui kalau daerah perkotaan dan penggundulan hutan dapat menyebabkan pemanasan global dengan mengurangi pendinginan evaporatif lokal, namun tidak dipahami apakah penguapan yang menurun ini juga dapat menyebabkan pemanasan global.

Bumi telah menghangat dalam setidaknya beberapa dekade terakhir, terutama sebagai akibat dari emisi karbon dioksida dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas, serta penggundulan hutan. Namun karena uap air memiliki peran sangat banyak dalam sistem iklim, pengaruh perubahan uap dalam iklim global tidak dipahami dengan baik.

Para peneliti bahkan berpikir kalau mungkin bahwa penguapan dapat berpengaruh pemanasan pada iklim global, karena uap air bertindak sebagai gas rumah kaca di atmosfer. Selain itu, energi yang diambil oleh air yang menguap dilepas kembali ke lingkungan ketika uap air mengembun dan kembali ke bumi, sebagian besar dalam bentuk hujan. Secara global, siklus penguapan dan pengembunan ini menggerakkan energi, namun tidak dapat menciptakan atau menghancurkan energi. Sehingga, penguapan tidak dapat secara langsung mempengaruhi keseimbangan global energi di planet kita.

Tim yang dipimpin oleh George Ban-Weiss dahulu di Carnegie dan sekarang di Lawrence Berkeley National Laboratory, bersama tim dari Carnegie yaitu Long Cao, Julia Pongratz dan Ken Caldeira, serta Govindasamy Bala dari Institut Teknologi India di Bangelore. Menggunakan sebuah model iklim, mereka menemukan kalau peningkatan penguapan sesungguhnya memiliki efek pendinginan keseluruhan pada iklim global.

Penguapan yang naik cenderung menyebabkan awan terbentuk rendah di atmosfer, yang bertindak sebagai pemantul sinar pemanas matahari kembali ke luar angkasa. Beginilah uap air mendinginkan iklim.

“Hal ini menunjukkan kalau penguapan air dari pohon dan danau di taman kota, seperti Central Park di New York, bukan hanya membantu kota kita tetap dingin, namun juga membantu seluruh planet mendingin,” kata Caldeira. “Penelitian kami juga menunjukkan kalau kita perlu meningkatkan pemahaman kita mengenai bagaimana aktivitas harian kita dapat mengubah iklim global maupun lokal. Uap yang datang dari ceret teh anda dapat membantu mendinginkan Bumi, namun pengaruh pendinginan tersebut akan lenyap bila air dididihkan menggunakan gas atau batu bara.”

Sumber Berita: Carnegie Institution.

Referensi jurnal:

George A. Ban-Weiss, Govindasamy Bala, Long Cao, Julia Pongratz, Ken Caldeira. Climate forcing and response to idealized changes in surface latent and sensible heat. Environmental Research Letters, 2011; DOI: 10.1088/1748-9326/6/3/034032

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.