Diposting Jumat, 18 November 2011 jam 1:04 pm oleh Gun HS

Menginvestigasi Kemampuan Adaptasi Hominin Zaman Es pada Perubahan Iklim

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 18 November 2011 -


Pemodelan komputasi yang meneliti bukti pada bagaimana kelompok-kelompok hominin berevolusi secara kultur dan biologis dalam menanggapi perubahan iklim selama Zaman Es terakhir, juga memberi wawasan baru tentang kepunahan Neanderthal. Rincian percobaan pemodelan kompleks yang dilakukan di Arizona State University dan University of Colorado Denver ini akan dipublikasikan dalam edisi Desember jurnal Human Ecology, tersedia secara online tertanggal 17 November.

“Untuk lebih memahami ekologi manusia, dan terutama bagaimana kebudayaan dan biologi manusia berevolusi secara berdampingan di antara pemburu-pengumpul di zaman Pleistocene Akhir di Barat Eurasia (kurang lebih 128.000-11.500 tahun yang lalu), kami merancang kerangka teoretis dan metodologis yang memasukkan umpan balik pada tiga sistem evolusioner: biologis, budaya dan lingkungan,” kata Michael Barton, pelopor di bidang arkeologi aplikasi pemodelan komputasi di Arizona State University.

“Salah satu hasil ilmiah yang menarik dari penelitian ini, yang mempelajari budaya dan lingkungan yang mendorong perubahan-perubahan perilaku penggunaan lahan, adalah bahwa hal ini menunjukkan bagaimana Neanderthal bisa menghilang bukan karena mereka kurang bisa bertahan dibandingkan semua hominin lain yang ada selama glasial terakhir, namun karena perilaku mereka yang sama canggihnya dengan manusia modern,” kata Barton, yang adalah penulis utama dari temuan ini.

Para penulis makalah “Modeling Human Ecodynamics and Biocultural Interactions in the Late Pleistocene of Western Eurasia” adalah Julien Riel-Salvatore, asisten profesor antropologi di University of Colorado Denver; John Martin “Marty” Anderies, profesor komputasi ilmu sosial di School of Human Evolution and Social Change and the School of Sustainability ASU; dan Gabriel Popescu, seorang mahasiswa doktor antropologi di Sekolah Evolusi Manusia dan Perubahan Sosial di ASU.

“Sudah lama diyakini bahwa Neanderthal tidak mampu bersaing dengan manusia bugar modern dan mereka tidak bisa beradaptasi,” kata Riel-Salvatore. “Kami sedang mengubah narasi utama Neanderthal sebagai yang mampu beradaptasi, dan dalam banyak hal, hanyalah korban dari kesuksesan mereka sendiri.”

Agen-agen komputer (titik-titik berwarna) mensimulasikan kelompok pemburu-pengumpul prasejarah melapis ke atas peta Pleistocene Akhir di Barat Eurasia. Gray menunjukkan lahan Pleistosen dengan tingkat laut yang lebih rendah, garis-garis hitam menunjukkan garis pantai modern, daerah putih menunjukkan lapisan es. Titik-titik biru mewakili kelompok manusia "modern", titik-titik merah mewakili kelompok manusia Neanderthal, dan titik-titik kuning mewakili kelompok dengan campuran biologis gen modern dan Neanderthal. Ini merupakan sebuah potret dari simulasi setelah ratusan siklus di mana kelompok pemburu-pengumpul memiliki mobilitas tinggi dalam menanggapi perubahan iklim es. Data dan analisis yang sesuai dikutip oleh para arkeolog dari Arizona State University dan University of Colorado Denver. (Kredit: Michael Barton/Arizona State University)

Tim peneliti interdisipliner menggunakan data arkeologis untuk melacak perubahan perilaku di Barat Eurasia selama 100.000 tahun dan menunjukkan bahwa mobilitas manusia mengalami peningkatan dari waktu ke waktu, mungkin dalam menanggapi perubahan lingkungan. Menurut Barton, Zaman Es terakhir menyaksikan para pemburu-pengumpul, termasuk Neanderthal dan nenek moyang manusia modern, dalam rentang yang lebih luas di seluruh Eurasia mencari makanan selama perubahan besar iklim bumi.

Para ilmuwan menggunakan pemodelan komputer untuk menjelajahi konsekuensi evolusi dari perubahan-perubahan tersebut, termasuk bagaimana perubahan dalam pergerakan Neanderthal dan manusia modern menyebabkan mereka untuk berinteraksi – dan kawin silang – menjadi lebih sering.

Menurut Riel-Salvatore, studi ini menawarkan bukti lebih lanjut bahwa Neanderthal lebih fleksibel dan berakal dari asumsi sebelumnya.

“Neanderthal telah membuktikan bahwa mereka mampu menyesuaikan diri dalam berbagai kesulitan dan ketika bertemu dengan lebih banyak manusia modern, mereka beradaptasi lagi,” kata Riel-Salvatore. “Tapi manusia modern mungkin melihat Neanderthal sebagai pasangan. Akibatnya, dari waktu ke waktu, Neanderthal terhapus sebagai populasi yang dikenali secara fisik.”

Untuk mencapai kesimpulan mereka, para peneliti menjalankan program komputer untuk setara dengan 1.500 generasi, menunjukkan bahwa Neanderthal dan manusia modern memperluas rentang tahunan mereka, Neanderthal secara perlahan diserap oleh manusia modern yang lebih banyak hingga mereka menghilang sebagai populasi yang dikenali.

“Kami menguji hasil pemodelan ini terhadap catatan arkeologi empiris dan menemukan adanya bukti bahwa Neanderthal, dan manusia modern, mengadaptasikan perilaku mereka dalam cara di mana kami memodelkannya,” jelas Barton. “Selain itu, pemodelan ini memprediksi jenis tingkat rendah campuran genetik gen Neanderthal yang ditemukan dalam penelitian genetik terbaru yang saat sekarang sudah dipublikasikan.

“Dengan kata lain, adaptasi perilaku yang sukses untuk kondisi lingkungan yang parah membuat Neanderthal, dan non-modern lain yang sedikit kita ketahui, rentan terhadap kepunahan biologis, namun pada saat yang sama, memastikan mereka membuat kontribusi genetik untuk populasi modern,” kata Barton .

Para penulis mencatat bahwa “metode yang kami ilustrasikan di sini menawarkan kerangka kerja baru yang kuat di mana para peneliti dapat mulai memeriksa efek karakteristik tak terlihat yang bisa saja ada pada catatan observasi.”

“Jenis pemodelan yang kami lakukan dalam penelitian ini adalah sangat baru dalam paleoantropologi, sebagaimana ruang lingkup benua pada analisis arkeologi kita digunakan untuk menguji hasil model,” kata Barton.

“Bagaimanapun juga, pemodelan komputasi dapat memperbaiki pemahaman kita tentang dampak jangka panjang manusia terhadap lingkungan, yang dapat membantu menginformasikan keputusan penggunaan lahan untuk masa depan kita,” kata Barton, yang juga adalah rekan direktur Pusat ASU untuk Dinamika Sosial dan Kompleksitas.

Kredit: Arizona State University
Jurnal: C. Michael Barton, Julien Riel-Salvatore, John M. Anderies, Gabriel Popescu. Modeling Human Ecodynamics and Biocultural Interactions in the Late Pleistocene of Western Eurasia. Human Ecology, 2011. DOI: 10.1007/s10745-011-9433-8

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.