Diposting Sabtu, 12 November 2011 jam 6:51 am oleh Gun HS

Studi Baru Memecahkan Misteri Resistensi terhadap Malaria

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 12 November 2011 -


Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Secara global, penyakit ini menyebabkan lebih dari satu juta kematian setiap tahunnya, dan sangat marak di beberapa bagian Afrika dan Asia. Parasit menginfeksi sel darah merah (hemoglobin yang mengandung sel-sel yang membawa oksigen ke seluruh tubuh) dan membajak struktur pendukung dalam sel. Beberapa orang diketahui secara alami resisten terhadap efek serius dari malaria, dan selama beberapa dekade para ilmuwan bertanya-tanya bagaimana persisnya fungsi resistensi mereka ini. Kini, penelitian terbaru telah berhasil memecahkan misteri tersebut.

Selama puluhan tahun telah diketahui bahwa beberapa orang di Afrika dan di tempat lainnya memiliki mutasi gen yang menyebabkan anemia sel sabit juga memiliki ketahanan terhadap malaria karena sel-sel darah merah mereka mengandung bentuk hemoglobin yang tidak biasa, yaitu hemoglobin S, yang menghasilkan hemoglobin diagregasi dalam sel.

Memiliki hanya satu salinan mutasi hemoglobin S membuat orang menjadi pembawa tanpa-gejala (asymptomatic carrier), sedangkan dua salinan menghasilkan gejala anemia sel sabit. Dalam kedua kasus ini, mutasi memberikan beberapa perlindungan terhadap malaria. Mutasi lain, hemoglobin C, menyebabkan anemia hemolitik ketika dua salinan mutasi hadir, dan bentuk ini juga melindungi terhadap malaria.

Dalam makalah yang dipublikasikan dalam Science, peneliti Marek Cyrklaff, dari Universitas Heidelberg di Jerman, dan rekan-rekan di Jerman dan Burkina Faso, melaporkan bahwa bentuk-bentuk hemoglobin yang tidak biasa dalam sel darah merah ini mencegah parasit malaria, Plasmodium falciparum, melakukan pembajakan filamen aktin yang menyediakan perancah kerangka dalam sel. Mereka membandingkan sel-sel darah merah sehat dan terinfeksi yang mengandung hemoglobin ‘normal’ dengan sel-sel sehat dan terinfeksi yang mengandung hemoglobin S atau hemoglobin C.

Dengan menggunakan tomografi cryoelectron yang canggih, para ilmuwan menemukan bahwa sel-sel sehat normal, filamen protein aktinnya adalah pendek dan terletak di bawah sel luar membran, di mana mereka menyediakan struktur pendukung untuk sel dan membuatnya kuat tapi cukup lentur untuk melewati pembuluh darah terkecil.

Dalam sel yang terinfeksi dengan hemoglobin normal, mereka menemukan bahwa protein aktin berada pada filamen panjang, yang digunakan parasit untuk membangun sitoskeleton, atau jembatan intraseluler, di dalam sel untuk mengangkut protein yang diproduksi sendiri, adhesin, ke permukaan sel. Efek dari adhesin, seperti namanya, adalah untuk membuat sel-sel yang bersebelahan tetap bersama dan sel-sel tetap pada dinding pembuluh darah, menyebabkan respon peradangan karakteristik dari malaria. Dalam hemoglobin S dan sel-sel C, jembatan ini tidak bisa terselesaikan dan adhesin tidak bisa secara efektif terangkut ke permukaan sel, sehingga mengurangi kelengketan sel.

Setelah penelitian lebih lanjut, para ilmuwan juga menemukan bahwa hemoglobin C dan S lebih mudah teroksidasi daripada bentuk yang tidak termutasi, dan ketika filamen aktin ditempatkan dengan hemoglobin, bentuk C dan S menghasilkan filamen aktin pendek dibandingkan hemoglobin normal, seperti yang dilakukan hemoglobin teroksidasi.

Malaria paling sering diobati dengan kina, tetapi uji klinis vaksinnya sekarang sedang dilakukan di Afrika oleh GlaxoSmithKline, dan hasilnya terlihat menjanjikan, dengan tingkat efektivitas 65%. Penelitian baru menunjukkan bahwa obat lebih lanjut pada akhirnya dapat dikembangkan untuk mengganggu kemampuan parasit dalam menggunakan filamen aktin untuk keperluannya sendiri.

Kredit: Universitas Heidelberg
Jurnal: Marek Cyrklaff, Cecilia P. Sanchez, Nicole Kilian, Cyrille Bisseye, Jacques Simpore, Friedrich Frischknecht, Michael Lanzer. Hemoglobins S and C Interfere with Actin Remodeling in Plasmodium falciparum–Infected Erythrocytes. Science, 10 November 2011. DOI: 10.1126/science.1213775

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.