Diposting Jumat, 11 November 2011 jam 7:53 am oleh Gun HS

Menciptakan Tikus Super di Laboratorium, Dua Kali Lipat Lebih Kuat dari Tikus Biasa

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 11 November 2011 -


Tim peneliti dari EPFL, Universitas Lausanne dan Institut Salk, menciptakan tikus dan cacing nematoda yang super kuat, dengan mengurangi fungsi dari inhibitor alami, menunjukkan bahwa pengobatan untuk degenerasi otot yang berkaitan dengan usia atau genetik berada dalam jangkauan.

Ternyata inhibitor kecil mungkin bertanggung jawab pada seberapa kuat otot-otot yang bisa kita peroleh. Ini adalah kesimpulan mengejutkan yang dicapai oleh para ilmuwan di Laboratory of Integrative Systems Physiology (LISP) EPFL, bekerjasama dengan kelompok di Center for Integrative Genomics Universitas Lausanne dan di Institut Salk, California. Dengan bertindak pada reseptor (NCoR1), mereka mampu memodulasi transkripsi gen tertentu, membuat strain tikus perkasa yang ototnya dua kali lipat lebih kuat dari tikus biasa.

Dua regulator bangunan-protein

Proses transkripsi, di mana protein diproduksi oleh organisme dalam menanggapi instruksi yang terkandung dalam DNA-nya, dimodulasi oleh faktor sampingan. Ini mendukung (coactivator) maupun menghambat (corepressor) transkripsi, pada prinsipnya dengan menanggapi konsentrasi hormon tertentu dalam tubuh, yang pada gilirannya berhubungan dengan lingkungan organisme.

Dalam artikel yang muncul dalam jurnal Cell, tim riset yang dipimpin profesor EPFL, Johan Auwerx, melaporkan hasil percobaan yang dilakukan secara paralel pada tikus dan cacing nematoda. Dengan memanipulasi genetik keturunan spesies ini, para peneliti mampu menekan corepressor NCoR1, yang biasanya bertindak untuk menghambat penumpukan jaringan otot.

Otot yang lebih baik

Dengan tidak adanya inhibitor, jaringan otot menjadi berkembang jauh lebih efektif. Tikus yang dimutasi menjadi pelari maraton sejati, mampu berlari lebih cepat dan lebih lama sebelum menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Bahkan, mereka mampu menjangkau hampir dua kali jarak yang dijalankan oleh tikus biasa. Mereka juga menunjukkan toleransi terhadap rasa dingin dengan lebih baik.

Tidak seperti percobaan sebelumnya dengan apa yang disebut tikus super, penelitian ini membahas cara pembakaran energi di otot dan cara otot terbangun. Pemeriksaan di bawah mikroskop menegaskan bahwa serat-serat otot tikus termodifikasi secara padat, otot-ototnya menjadi lebih besar, dan sel-sel dalam jaringan mengandung angka yang lebih tinggi dari mitokondria – organel seluler yang memberikan energi ke otot.

Obesitas tapi tidak diabetes

Artikel kedua yang dipublikasikan dalam jurnal yang sama dan juga melibatkan Laboratorium LISP EPFL, menyebutkan bahwa dengan menekan reseptor NCoR1 dalam jaringan adiposa (lemak) juga menyebabkan hasil yang menarik. Dengan bertindak pada corepressor, adalah mungkin untuk secara mendasar mengubah kegemukan pada tikus menjadi bisa dipelajari tanpa menginduksi penyakit yang berhubungan dengan berat badan. “Spesimen yang menjadi gemuk melalui perawatan ini tidak menderita diabetes, tidak seperti tikus yang menjadi gemuk karena alasan lain,” catat Auwerx.

Para ilmuwan belum mendeteksi efek samping yang merugikan yang berhubungan dengan penghilangan reseptor NCoR1 dari otot dan jaringan lemak, dan meskipun percobaan ini melibatkan pemanipulasian genetik, para peneliti sudah menyelidiki molekul obat potensial yang dapat digunakan untuk mengurangi efektivitas reseptor.

Perawatan degenerasi

Para peneliti mengatakan bahwa hasil studi mereka ini merupakan tonggak dalam pemahaman kita tentang mekanisme fundamental tertentu pada organisme hidup, khususnya peran corepressor yang sangat jarang dipelajari. Selain itu, studi ini juga memberikan sekilas kemungkinan jangka panjang untuk aplikasi terapeutik. “Ini dapat digunakan untuk memerangi kelemahan otot pada orang lanjut usia, yang mengalami penurunan, dan memberikan kontribusi bagi rawat inap,” tekan Auwerx. “Selain itu, kami berpikir bahwa ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan pengobatan bagi distrofi otot genetik.”

Jika hasil studi ini dikonfirmasi pada manusia, tak diragukan lagi ini akan menarik minat para atlet, begitu juga para ahli medis. “Ini akan menjadi penting bagi otoritas anti-doping untuk memantau perawatan ini agar tidak digunakan secara tidak sah,” simpul Auwerx.

Kredit: Ecole Polytechnique Federale de Lausanne
Jurnal: Hiroyasu Yamamoto, Evan G. Williams, Laurent Mouchiroud, Carles Cantó, Weiwei Fan, Michael Downes, Christophe Héligon, Grant D. Barish, Béatrice Desvergne, Ronald M. Evans, Kristina Schoonjans, Johan Auwerxsend. NCoR1 Is a Conserved Physiological Modulator of Muscle Mass and Oxidative Function. Cell, Volume 147, Issue 4, 827-839, 11 November 2011. DOI: 10.1016/j.cell.2011.10.017
Pingping Li, WuQiang Fan, Jianfeng Xu, Min Lu, Hiroyasu Yamamoto, Johan Auwerx, Dorothy D. Sears, Saswata Talukdar, DaYoung Oh, Ai Chen, Gautam Bandyopadhyay, Miriam Scadeng, Jachelle M. Ofrecio, Sarah Nalbandian, Jerrold M. Olefsky. Adipocyte NCoR Knockout Decreases PPAR? Phosphorylation and Enhances PPAR? Activity and Insulin Sensitivity. Cell, Volume 147, Issue 4, 815-826, 11 November 2011. DOI: 10.1016/j.cell.2011.09.050

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.