Paleontolog Beralih ke Jaringan Saraf untuk Menemukan Wilayah Penggalian Fosil
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login
Kamis, 10 November 2011 - Untuk menerapkan jaringan saraf dalam menemukan fosil, tim riset menggarap gambar satelit sistem yang dianalisis untuk memisahkan panjang gelombang cahaya yang berbeda sesuai dengan jenis medan.
Selama ratusan, bahkan mungkin ribuan tahun, para peneliti telah menggali ke dalam bumi untuk mencari petunjuk yang membantu menjelaskan masa lalu kita. Dengan upaya tersebut mereka telah menemukan bukti-bangsa kuno yang bertebaran di dalam lingkungan yang hanya dapat kita bayangkan secara samar-samar. Bukti tersebut umumnya terdiri dari sisa-sisa tempat tinggal, pakaian, peralatan dan terutama adalah tulang-belulang. Secara tradisional, relik-relik semacam itu telah ditemukan baik tanpa sengaja ataupun dengan niat serius tim ilmuwan profesional dengan melakukan pemindaian medan serta dengan kampak kecil dan sekop.
Namun kini, teknologi baru membantu tim ilmuwan dengan peluang yang lebih baik. Citra satelit, misalnya, dapat menyoroti jenis wilayah geografis tertentu yang mirip dengan kawasan lain yang telah ditemukan mengandung fosil, sehingga mengurangi jumlah lahan yang harus digarap para ahli paleontologi, bahkan dapat mengurangi begitu banyak pekerjaan yang sia-sia.
Paleontolog Bob Anemone bersama timnya dari Western Michigan University, telah mengembangkan sebuah sistem komputer yang dapat memindai gambar satelit untuk menyorot kawasan yang paling mungkin mengandung fosil, sehingga meningkatkan kemungkinan untuk menemukan fosil. Mereka telah mempublikasikan temuan ini dalam Evolutionary Anthropology.
Untuk membuat sistem ini, tim riset beralih ke teknologi jaringan saraf, yang pada dasarnya berarti menciptakan perangkat lunak komputer untuk meniru bagaimana otak manusia bekerja. Ini semua adalah tentang pencocokan pola dan pembelajaran dari apa yang sudah pernah dipelajari.
Untuk menerapkan jaringan saraf dalam menemukan fosil, tim riset menggarap gambar satelit sistem yang dianalisis untuk memisahkan panjang gelombang cahaya yang berbeda sesuai dengan jenis medan. Dengan demikian, sistem ini “diajarkan” untuk mencari pola-pola tertentu dengan menunjukkan tempat-tempat yang sudah diketahui mengandung fosil.
Setelah itu, gambar yang diambil dari wilayah perawan itu dimasukkan ke dalam sistem dan menyoroti kawasan yang cocok dengan apa yang telah dipelajari dari situs yang ada. Dengan informasi yang didapat, tim riset kemudian dapat menuju ke alam liar dengan keyakinan yang jauh lebih banyak untuk menemukan sesuatu yang berharga.
Menarik di laboratorium, namun tim riset tidak akan mengetahui seberapa baik sistem ini benar-benar bekerja sampai mereka benar-benar melakukan perjalanan musim panas berikutnya untuk target yang telah mereka pilih, yaitu Great Divide Basin di Wyoming, dan mulai menggali di sana.
Kredit: Western Michigan University
Jurnal: Robert Anemone, Charles Emerson, Glenn Conroy. Finding fossils in new ways: An artificial neural network approach to predicting the location of productive fossil localities. Evolutionary Anthropology, 2011. DOI: 10.1002/evan.20324
- Urutan Genom Coelacanth Menginformasikan Evolusi Vertebrata Darat
- Misi Kepler NASA: Tiga Planet Berukuran Super-Bumi Ditemukan Dalam Zona Layak Huni
- Teknik Ultra-cepat Menyingkap Prinsip-prinsip Perancangan dalam Biologi Kuantum
- Studi Telur Mengungkap Eratnya Hubungan Evolusi Antara Burung dan Dinosaurus
- Ilmuwan Membentuk Sel-sel Saraf Baru – Langsung di Dalam Otak
- Ilmuwan Temukan Kemungkinan untuk Menciptakan Bahan Bakar dari Karbon Dioksida di Atmosfer
- Metascreen Ultra-tipis: Setahap Mewujudkan Mantel Tembus Pandang ala Harry Potter
- Kehadiran Manusia di Kepulauan Pasifik Sebabkan Kepunahan Massal Burung
- Kehidupan Ditemukan Dalam Ekosistem Terluas di Bumi, Jauh di Kedalaman Kerak Samudera
- Ilmuwan Menghidupkan Kembali Embrio Katak yang Telah Punah
