Diposting Selasa, 8 November 2011 jam 5:31 am oleh Gun HS

Memasak Tingkatkan Energi dan Berperan dalam Mendorong Evolusi Manusia

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 8 November 2011 -


Para peneliti Harvard telah menunjukkan bahwa daging yang dimasak menyediakan lebih banyak energi daripada daging yang mentah, sebuah temuan yang menunjukkan bahwa manusia secara biologis telah beradaptasi untuk memperoleh keuntungan dari manfaat memasak, dan memasak memainkan peran penting dalam mendorong evolusi manusia, dari makhluk seperti kera menjadi lebih dekat menyerupai manusia modern.

Dikerjakan oleh Rachel Carmody, seorang mahasiswa di Departemen Biologi Evolusi Manusia di Graduate School of Arts and Sciences, dan dijelaskan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), penelitian ini juga memunculkan pertanyaan penting tentang cara makan manusia modern.

“Hasil makalah ini relevan dengan evolusi manusia dan cara kita berpikir tentang makanan di masa kini,” kata Carmody. “Sungguh menakjubkan bahwa kita tidak memahami sifat-sifat yang mendasar pada makanan yang kita makan. Segala usaha yang kita masukkan ke dalam hal memasak makanan dan penyajiannya – meramu itu, atau memotong ini, atau mengiris atau menumbuknya – kita tidak paham efek apa yang telah dihasilkan energi yang kita ekstrak dari makanan, dan energi adalah alasan utama kita untuk makan sejak awal.”

Meskipun studi sebelumnya sempat meneliti aspek tertentu dari apa yang terjadi selama proses memasak, namun yang mengejutkan, tidak pernah sepenuhnya meneliti apakah memasak mempengaruhi nilai energi vivo (dalam tubuh) pada makanan.

“Tak ada penelitian yang melihat efek net-nya – kita memiliki potongan-potongan yang tidak bisa kita integrasikan secara bersamaan, jadi kita tidak tahu jawaban keseluruhannya,” kata Carmody. “Kita tahu beberapa mekanisme yang mungkin berperan, tapi kita tidak tahu bagaimana mekanisme-mekanisme ini terkombinasi.”

Untuk menguji efek tersebut, Carmody merancang sebuah model eksperimental yang unik. Selama empat puluh hari, ia memberi makan dua kelompok tikus dengan serangkaian pola makan yang terdiri dari daging maupun ubi jalar yang disiapkan dalam empat cara – Mentah dan utuh, baku dan ditumbuk, dimasak dan utuh, serta dimasak dan ditumbuk.

Pada tiap-tiap pola makan, para peneliti melacak perubahan dalam massa tubuh masing-masing tikus, serta seberapa banyak mereka menggunakan roda latihan. Hasilnya, sangat jelas menunjukkan bahwa daging yang dimasak menghantarkan lebih banyak energi pada tikus.

Ini adalah penemuan yang memiliki implikasi menarik bagi pemahaman kita tentang bagaimana manusia berevolusi, kata Carmody.

Meskipun manusia purba sudah mengkonsumsi daging pada awal 2,5 juta tahun yang lalu, tanpa kemampuan untuk mengendalikan pembakaran, setiap daging dalam pola makan mereka adalah mentah, dan mungkin hanya ditumbuk dengan menggunakan alat-alat batu primitif. Namun, sekitar 1,9 juta tahun yang lalu, terjadi perubahan mendadak. Tubuh manusia purba tumbuh menjadi lebih besar. Otak mereka meningkat dalam hal ukuran dan kompleksitas. Muncul pula adaptasi untuk berlari dalam jarak jauh.

Meskipun teori-teori sebelumnya mengusulkan bahwa perubahan-perubahan tersebut adalah produk dari daging yang meningkat dalam pola makan mereka, penelitian Carmody menunjukkan hipotesis pada kemungkinan lain – bahwa memasak memberikan energi yang berlebih bagi manusia purba, yang memungkinkan perubahan evolusioner berenergi penuh.

Meskipun teori ini sebelumnya sudah dikembangkan selama bertahun-tahun oleh Richard Wrangham, Profesor Antropologi Biologi Ruth Moore dan Master of Currier House, namun baru saat ini terbukti secara meyakinkan.

“Saya seorang ahli biologi yang terlatih,” kata Wrangham. “Jika Anda ingin memahami fitur anatomis, fisiologis dan perilaku suatu spesies, pola makan adalah hal pertama yang perlu Anda tanyakan. Jika Anda ingin tahu apa yang membentuk kutu jerapah, adalah fakta bahwa jerapah memakan daun pada bagian atas pohon. Jika Anda ingin memahami bentuk kutu, itu karena ia mengkonsumsi darah. Namun semua menganggap apa yang utama tentang manusia faktanya adalah bahwa kita adalah variabel, bahwa kita baik dalam memecahkan masalah, dengan demikian adaptasi manusia pada umumnya adalah hasil dari otak kita. Tapi hal ini, dengan segera, menyimpang dari konsep biologis yang mendasar tentang pola makan.

“Itulah mengapa pekerjaan Rachel ini sangat penting,” lanjutnya. “Untuk pertama kalinya, kita menemukan jawaban yang jelas, mengapa memasak begitu penting secara lintas budaya dan biologis – karena memberikan kita peningkatan energi, dan yang terpenting dalam hidup adalah energi.”

Memasak diyakini membuat makanan lebih mudah dicerna sehingga dapat diserap oleh tubuh sebelum sempat “dicuri” oleh bakteri usus.

Sistem pencernaan manusia mencakup keseluruhan inang bakteri, dan bakteri yang memetabolisme sebagian makanan kita untuk keuntungan mereka sendiri,” kata Carmody.

“Peningkatan bukti menunjukkan bahwa bakteri mengambil sebagian yang cukup baik dari makanan yang kita makan. Bahkan, penelitian telah menunjukkan bahwa salah satu cara untuk meningkatkan nilai yang bisa diperoleh manusia, relatif terhadap bakteri, adalah dengan pengolahan makanan – dan memasak adalah salah satu cara untuk melakukannya.”

Penelitian Carmody juga bisa menginformasikan bagaimana para ilmuwan pangan mengatasi salah satu tantangan pola makan yang paling sulit – prevalensi obesitas di negara-negara Barat, dan kekurangan gizi di negara-negara berkembang.

“Sebagai ahli biologi evolusi manusia, kami berpikir tentang mendapatkan energik sebagai sesuatu yang positif, karena memungkinkan untuk pertumbuhan dan reproduksi, dan ini merupakan komponen yang penting bagi kebugaran evolusi suatu spesies,” kata Carmody.

Kredit: Universitas Harvard
Jurnal: Rachel N. Carmodya, Gil S. Weintrauba, Richard W. Wranghama. Energetic consequences of thermal and nonthermal food processing. Proceedings of the National Academy of Sciences, 7 November 2011. DOI: 10.1073/pnas.1112128108

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.