Diposting Selasa, 1 November 2011 jam 4:32 am oleh Gun HS

Nenek Moyang Asia Tenggara Pernah Kawin dengan Denisovan, Sepupu Manusia Modern

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 1 November 2011 -


Selama evolusi manusia, nenek moyang kita tidak hanya pernah kawin dengan Neanderthal, tetapi juga dengan hominid terkait lainnya. Dalam PNAS (Proceedings of the National Academy of Sciences) edisi online minggu ini, para peneliti dari Universitas Uppsala mempublikasikan temuan yang menunjukkan bahwa orang-orang Asia Timur berbagi bahan genetik dengan Denisovan, hominid yang pertama kali ditemukan di dalam gua di Siberia.

Studi kami meliputi bagian dunia yang lebih besar lagi dibandingkan dengan studi-studi sebelumnya, dan jelas bahwa ini tidak sesederhana seperti yang kita duga sebelumnya. Hibridisasi berlangsung di beberapa titik dalam evolusi, dan jejak-jejak genetiknya bisa ditemukan di beberapa tempat di dunia. Kita mungkin akan mengungkapkan lebih banyak lagi peristiwa-peristiwa seperti ini, kata Mattias Jakobsson, yang melakukan penelitian bersama dengan Pontus Skoglund.

Studi sebelumnya telah menemukan dua peristiwa hibridisasi yang terpisah di antara manusia purba (yang berbeda dengan manusia modern, baik secara genetik maupun morfologi) dan leluhur manusia modern setelah kemunculan mereka dari Afrika, yaitu hibridisasi antara Neanderthal dan nenek moyang manusia modern di luar Afrika dan hibridisasi antara Denisovan dan leluhur Oceanian pribumi. Perbedaan genetik antara Neandertal dan Denisovan kira-kira sama besarnya dengan tingkat maksimal variasi di antara kita sebagai manusia modern.

Penelitian para ilmuwan Uppsala menunjukkan bahwa hibridisasi juga terjadi di daratan Asia Timur. Koneksitasnya ditemukan dengan menggunakan data genotipe dalam rangka memperoleh satu set data yang lebih besar. Genom lengkap manusia modern hanya tersedia dari beberapa lusin individu saat ini, sedangkan data genotipe-nya tersedia dari ribuan individu. Data genetik ini dapat dibandingkan dengan urutan genom dari Neanderthal dan Denisovan yang telah ditentukan dari bahan-bahan arkeologis.

Data genotipe diperoleh dari penelitian genetik di mana ratusan ribu varian genetik dari panel uji dikumpulkan dalam sebuah chip. Namun, proses yang mengarah pada varian yang tidak biasa tidak disertakan, yang bisa menghasilkan bias jika bahan-bahannya diperlakukan seolah-olah terdiri dari genom yang lengkap. Skoglund dan Jakobsson menggunakan simulasi komputer canggih untuk menentukan apa arti dari sumber kesalahan ini untuk dibandingkan dengan gen-gen purba dan dengan demikian bisa menggunakan data genetik dari lebih dari 1.500 manusia modern dari seluruh dunia.

Kami menemukan bahwa individu-individu dari sebagian besar Asia Tenggara memiliki proporsi yang lebih tinggi terkait varian genetik Denisova dibandingkan dengan orang-orang dari bagian lain di dunia, seperti Eropa, Amerika, Asia Barat dan Tengah, serta Afrika. Temuan ini menunjukkan bahwa gen-gen yang mengalir dari kelompok manusia purba juga terjadi di daratan Asia, kata Mattias Jakobsson.

Sementara kita bisa melihat bahwa materi genetik dari manusia purba hidup pada tingkat yang lebih besar dari apa yang diperkirakan sebelumnya, masih sedikit yang kita ketahui tentang sejarah kelompok-kelompok ini dan ketika terjadinya kontak mereka dengan manusia modern, kata Pontus Skoglund.

Karena mereka menemukan varian gen terkait Denisova di Asia Tenggara dan Oseania, tetapi tidak ditemukan di Eropa dan Amerika, maka para peneliti menyimpulkan bahwa hibridisasi dengan manusia Denisova terjadi sekitar 20.000.000 tahun yang lalu, mungkin juga bisa terjadi sebelumnya. Ini adalah waktu yang lama setelah cabang manusia modern terpisah dari cabang yang mengarah ke Neandertal dan Denisovan antara 300.000-500.000 tahun yang lalu.

Dengan genom manusia modern yang lebih lengkap dan analisis yang lebih baik terhadap bahan-bahan fosil, maka akan memungkinkan untuk menggambarkan prasejarah kita dengan akurasi yang jauh lebih besar dan detail yang lebih melimpah, kata Mattias Jakobsson.

Kredit: Universitas Uppsala
Jurnal: Pontus Skoglund, Mattias Jakobsson. Archaic human ancestry in East Asia. Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), 31 Oktober 2011; DOI: 10.1073/pnas.1108181108

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.