Diposting Selasa, 1 November 2011 jam 12:54 am oleh Gun HS

Mempengaruhi Keinginan Merokok dengan Menstimulasi Otak

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 1 November 2011 -


Sebuah studi baru dari Biological Psychiatry telah menemukan bahwa pentargetan stimulasi otak dapat meningkatkan nafsu merokok, yang pada akhirnya bisa mengarah pada pengobatan baru untuk membalikkan efeknya.

Melihat orang lain sedang merokok, timbul keinginan dan mungkin memprovokasi kekambuhan seorang perokok yang berusaha untuk berhenti. Ada banyak metode yang digunakan perokok dalam upaya mengurangi keinginan merokok, termasuk pengobatan farmakologis berkhasiat seperti nicotine patch (tempelan nikotin), dan pendekatan alternatif seperti hipnosis dan akupunktur. Para ilmuwan telah lama menduga bahwa berbagai pendekatan tersebut mungkin bekerja melalui mekanisme umum – pengurangan aktivitas dalam sirkuit otak yang bertanggung jawab atas keinginan untuk merokok.

Hipotesis ini didukung dengan studi pencitraan otak fungsional, yang secara konsisten melaporkan aktivasi area-area otak selama beberapa keinginan melibatkan area di korteks serebral serta sistem limbik, sirkuit otak yang terlibat dalam emosi.

Para ilmuwan di Center for Nicotine and Smoking Cessation Research Duke University Medical Center, memanipulasi aktivitas ‘sirkuit keinginan’ ini dengan menggunakan stimulasi magnetik transkranial (TMS), teknik non-invasif yang menggunakan arus elektromagnetik untuk target tertentu atau area umum di otak. Tergantung pada frekuensi yang digunakan, ini bisa digunakan untuk merangsang ataupun menekan aktivitas otak.

Para peneliti menemukan bahwa pengiriman TMS yang berulang-ulang pada frontal gyrus superior pada frekuensi tinggi (10 Hz) dapat meningkatkan keinginan untuk merokok.

“Kami secara langsung merangsang suatu wilayah otak frontal dengan menggunakan medan magnet dan menunjukkan bahwa hal ini meningkatkan keinginan merokok ketika melihat isyarat yang terkait merokok. Dengan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana otak mempengaruhi respon keinginan, strategi untuk memblokir tanggapan ini bisa dirancang dan perawatan untuk berhenti merokok yang lebih efektif pada akhirnya bisa dikembangkan,” jelas Dr. Jed Rose, salah satu penulis studi.

Bagaimanapun juga, mereka tidak menemukan bahwa stimulasi berfrekuensi rendah (1 Hz) bisa mengurangi keinginan. Dengan demikian, intervensi potensial yang mungkin telah mengurangi aktivasi di dalam sirkuit ini tidak menghasilkan efek sebaliknya.

Meskipun demikian, stimulasi berfrekuensi tinggi bisa mengurangi keinginan ketika peserta melihat isyarat merokok. Selain itu, kemampuan untuk memenuhi keinginan merokok, efek yang membuat perokok tetap ketagihan, sebagian diblokir oleh stimulasi berfrekuensi tinggi. Efek ini perlu dieksplorasi untuk aplikasi terapi yang potensial.

“Penelitian elegan ini mengimplikasikan frontal gyrus superior dalam mengendalikan aktivitas serangkaian keinginan,” komentar Dr. John Krystal, Editor Biological Psychiatry. “Penelitian tambahan akan diperlukan untuk menentukan nilai potensi berulang TMS sebagai pengobatan untuk merokok.”

Kredit: Elsevier
Jurnal: Jed E. Rose, F. Joseph McClernon, Brett Froeliger, Frédérique M. Behm, Xavier Preud’homme, Andrew D. Krystal. Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation of the Superior Frontal Gyrus Modulates Craving for Cigarettes. Biological Psychiatry, Volume 70, Issue 8 , Pages 794-799, 15 October 2011. DOI: 10.1016/j.biopsych.2011.05.031

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.