Diposting Senin, 31 Oktober 2011 jam 5:27 pm oleh Evy Siscawati

Makanan dan Genetika Menentukan Bentuk Rahang Orang Dewasa

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 31 Oktober 2011 -


Hasil penelitian ini dipublikasikan tanggal 23 Juni 2011 secara online dalam American Journal of Physical Anthropology.

“Penelitian kami bertujuan melihat seberapa banyak bentuk mandibel – atau tulang rahang – yang bersifat plastis, yaitu sebagai respon pada pengaruh lingkungan, seperti pola makan, dan seberapa banyak yang genetik. Kami menggunakan tulang rahang arkeologis dari dua daerah untuk menjawab pertanyaan ini,” jelas Megan Holmes, mahasiswa pasca sarjana Pusat Anatomi Fungsional dan Evolusi Johns Hopkins Center, dan penulis utama makalah tersebut. “Sebelum kami dapat menarik kesimpulan mengenai apa yang diberi tahu oleh bentuk tulang, seperti lingkungan tempat hidup individu, kepada siapa hubungannya dan apa yang ia makan, kita harus memahami apa yang membentuknya. Gagasan kalau fungsi mempengaruhi bentuk tulang  rahang baik untuk catatan arkeologis dalam penemuan pola makan suatu populasi, dan juga sangat bermanfaat untuk rekonstruksi catatan fosil – temuan yang berkaitan dengan fosil dan bagaimana.”

Kelompok ini memilih mempelajari populasi Arikara dan Indian Point Hope, karena mereka secara genetik terisolasi dari kelompok lain dan memakan makanan berbeda. Mereka meneliti tulang belulang dari daerah tersebut sejak tahun 1600an dan 1700an, saat dimana makanan mereka paling diketahui dibandingkan dari catatan lain. Populasi Point Hope di Alaska memakan makanan keras yang mencakup daging kering yang keras. Mereka juga memakai gigi mereka untuk berbagai pekerjaan yang tidak berhubungan dengan makanan, seperti mengoyak kulit. Arikara, dari daerah Dakota di Amerika Serikat, memakan makanan lembut, yang terdiri dari hasil pertanian yang ditambah dengan perburuan kecil-kecilan.

Para peneliti mengukur tulang rahang dengan teliti dari 63 anggota populasi Point Hope dan 42 individu dari populasi Arikara menggunakan senapan sinar-X dan caliper, dan mereka menggunakan pengukuran tersebut untuk mengekstrapolasi proporsi seluruh rahang. “Tulang rahangnya sama pada waktu anak-anak sebelum mereka cukup tua untuk mulai mengunyah, namun berbeda pada saat dewasa, yang menunjukkan kalau perbedaan ini kemungkinan merupakan hasil fungsional dari makanan mereka dan penggunaan rahang, bukannya dari genetik,” kata Holmes.

Perubahan tulang rahang dijelaskan menggunakan teori yang ditarik dari ilmu teknik, yang secara langsung menghubungkan geometri tulang dengan stress yang diberikan saat ia digunakan. Tim ini mampu menyelidiki bagian sangat spesifik dari tulang rahang dan menghubungkannya dengan kebiasaan makan tertentu. Pada populasi Point Hope misalnya, mereka menemukan tulang rahang yang bulat dan lebar – hasil dari penggunaan gaya lebih besar untuk mengunyah makanan keras. Arikara, di sisi lain, tidak meunjukkan pelebaran ini, yang menurut mereka disebabkan pengunyahan makanan lembut.

“Genetika menciptakan cetak biru tulangnya, namun banyak hal mempengaruhi pembentukan tulang,” kata Holmes. “Tekanan mekanis dari stress otot dan goresan dari aktivitas sehari-hari dapat memodel ulang permukaan dan struktur dalam tulang. Mengetahui seberapa besar bentuk mandibula yang kami temukan berkaitan dengan makanan dan seberapa besar hubungannya dengan genetika menghubungkannya dengan fosil-fosil yang ditemukan di belahan dunia lain dapat membantu kita membangun pohon keluarga.”

Studi ini didanai oleh Pusat Anatomi Fungsional dan Evolusi Johns Hopkins.

Christopher B. Ruff, Ph.D., juga dari Pusat Anatomi Fungsional dan Evolusi Sekolah Kedokteran Universitas Johns Hopkins, menjadi pembimbing sekaligus penulis dalam studi ini.

Referensi jurnal:

Megan A. Holmes, Christopher B. Ruff. Dietary effects on development of the human mandibular corpus. American Journal of Physical Anthropology, 2011; 145 (4): 615 DOI: 10.1002/ajpa.21554

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.