Diposting Senin, 31 Oktober 2011 jam 5:27 pm oleh Evy Siscawati

Aborigin Australia ternyata Penjelajah Pertama

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 31 Oktober 2011 -


Hasil tersebut diterbitkan dalam jurnal Science dan menafsir ulang prasejarah spesies kita.

Dengan membariskan genome, para peneliti menunjukkan kalau Aborigin Australia diturunkan langsung dari ekspansi manusia purba ke Asia yang terjadi sekitar 70 ribu tahun lalu, setidaknya 24 ribu tahun sebelum gerakan populasi yang memunculkan bangsa Eropa dan Asia masa kini. Hasilnya berimplikasi kalau Aborigin Australia masa kini adalah keturunan langsung dari orang pertama yang tiba di Australia 50 ribu tahun lalu.

Studi ini diturunkan dari sekumpulan rambut yang disumbangkan seorang antropolog Inggris yang berasal dari seorang pria Aborigin dari daerah Goldfields di Australia Barat di awal abad ke-20. Seratus tahun kemudian, para peneliti mengisolasi DNA dari rambut yang sama, menggunakannya untuk menjelajahi genetika orang Australia pertama dan memberikan gambaran bagaimana manusia pertama menyebar di penjuru dunia.

Perpisahan

Genom tersebut, ditunjukkan tidak memiliki masukan genetik dari orang Eropa di Australia, yang mengungkapkan kalau leluhur orang Aborigin ini terpisah dari leluhur populasi manusia lainnya sekitar 64-75 ribu tahun lalu. Aborigin Australia berarti diturunkan langsung dari para penjelajah paling awal, orang yang bermigrasi ke Asia sebelum akhirnya mencapai Australia sekitar 50 ribu tahun lalu. Dalam menunjukkan ini, studi tersebut menunjukkan kalau aborigin Australia adalah populasi dengan asosiasi terpanjang dengan tanah dimana mereka tinggal sekarang. Penelitian ini disajikan dengan ucapan terima kasih penuh dengan Dewan Lahan dan Laut Goldfields, organisasi yang mewakili pemilik tradisional Aborigin di daerah tersebut.

Pola migrasi yang diusulkan

 Model baru migrasi

Sejarah aborigin Australia berperan kunci dalam memahami penyebaran manusia pertama meninggalkan Afrika. Bukti arkeologi menyatakan kalau keberadaan manusia modern pertama di Australia adalah 50 ribu tahun lalu, namun studi ini menulis ulang perjalanan mereka kesana.

Sebelumnya, teori yang paling diterima luas adalah kalau semua manusia modern diturunkan dari satu gelombang migrasi keluar Afrika menuju eropa, Asia, dan Australia. Dalam model tersebut, Australia pertama harusnya diturunkan dari populasi Asia, yang telah terpisah dari leluhur Eropa. Walau begitu, studi ini menunjukkan kalau ketika aborigin Australia kuno memulai perjalanan pribadinya, leluhur Asia dan Eropa belum lagi berpisah satu sama lain. Sekali mereka lakukan, sekitar 24 ribu tahun kemudian orang Australia pertama memulai eksplorasi mereka, Asia dan sisa-sisa Australia kuno saling campur untuk periode selanjutnya.

 Manusia pertama adalah penjelajah

Professor Eske Willerslev dari University of Copenhagen, yang mengepalai studi menjelaskan: “Aborigin Australia diturunkan dari penjelajah pertama manusia. Sementara leluhur dari bangsa Eropa dan Asia ada di suatu tempat di Afrika atau di Timur Tengah, belum lagi menjelajah dunia, leluhur Aborigin Australia telah menyebar dengan cepat; manusia modern pertama menyebar daerah yang tidak diketahui di Asia dan akhirnya melintasi laut menuju Australia. Ini sebuah perjalanan yang sangat mengesankan yang pasti menuntut kemampuan dan keberanian bertahan hidup yang tangguh.”

 Studi ini memiliki implikasi luas untuk memahami bagaimana leluhur manusia kita bergerak di bumi. Sejauh ini hanya genom manusia yang telah diperoleh dari rambut yang dilestarikan dalam kondisi beku. Para peneliti sekarang telah menunjukkan kalau rambut yang dilestarikan dalam kondisi yang kurang lebih ideal dapat dipakai untuk membariskan genom tanpa resiko pencemaran manusia modern yang umum ditemukan dalam tulang dan gigi purba. Lewat analisis koleksi museum, dan bekerjasama dengan kelompok keturunan, para peneliti sekarang dapat mempelajari sejarah genetika dari banyak masyarakat pribumi di dunia, bahkan ketika masyarakat tersebut sendiri sudah   pindah, atau saling campur.

Referensi Jurnal:

M. Rasmussen, X. Guo, Y. Wang, K. E. Lohmueller, S. Rasmussen, A. Albrechtsen, L. Skotte, S. Lindgreen, M. Metspalu, T. Jombart, T. Kivisild, W. Zhai, A. Eriksson, A. Manica, L. Orlando, F. De La Vega, S. Tridico, E. Metspalu, K. Nielsen, M. C. Avila-Arcos, J. V. Moreno-Mayar, C. Muller, J. Dortch, M. T. P. Gilbert, O. Lund, A. Wesolowska, M. Karmin, L. A. Weinert, B. Wang, J. Li, S. Tai, F. Xiao, T. Hanihara, G. van Driem, A. R. Jha, F.-X. Ricaut, P. de Knijff, A. B. Migliano, I. Gallego-Romero, K. Kristiansen, D. M. Lambert, S. Brunak, P. Forster, B. Brinkmann, O. Nehlich, M. Bunce, M. Richards, R. Gupta, C. D. Bustamante, A. Krogh, R. A. Foley, M. M. Lahr, F. Balloux, T. Sicheritz-Ponten, R. Villems, R. Nielsen, W. Jun, E. Willerslev. An Aboriginal Australian Genome Reveals Separate Human Dispersals into Asia. Science, 2011; DOI: 10.1126/science.1211177

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.