Diposting Jumat, 28 Oktober 2011 jam 3:46 am oleh Gun HS

Para Ilmuwan Himbau Pemerintah Dunia Lakukan Perencanaan Migrasi untuk Merespon Perubahan Iklim

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 28 Oktober 2011 -


Pemerintah di seluruh dunia harus mempersiapkan migrasi massal yang disebabkan oleh meningkatnya suhu global atau menghadapi kemungkinan dari hasil-hasil bencana, kata para ilmuwan dari Universitas Florida (UF) dalam sebuah tim peneliti, yang dilaporkan dalam jurnal Science, edisi 28 Oktober.

Jika suhu global meningkat hanya dengan beberapa derajat saja pada tahun 2100, seperti yang diperkirakan oleh Panel Antarpemerintah PBB tentang Perubahan Iklim, manusia di seluruh dunia akan terpaksa bermigrasi. Namun untuk mentransplantasikan populasi dari satu lokasi ke lokasi lain merupakan proposisi rumit yang telah menyisakan jutaan orang miskin dalam beberapa tahun terakhir ini. Para peneliti mengatakan bahwa kesiagaan harus dimulai dan pemerintah harus berhati-hati dalam memahami konsekuensi dari pengungsian.

Sebuah konsorsium 12 ilmuwan dari seluruh dunia, termasuk dua peneliti UF, berkumpul tahun lalu di Yayasan Rockefeller Pusat Bellagio untuk meninjau 50 tahun penelitian yang berkaitan dengan relokasi penduduk setelah bencana alam atau karena instalasi proyek-proyek pembangunan infrastruktur seperti bendungan dan pipa. Kelompok riset menetapkan bahwa upaya relokasi di masa lalu telah menyebabkan banyak masyarakat menjadi tinggal di tempat-tempat kumuh, dan bahwa para pembuat kebijakan harus memanfaatkan pelajaran dari masa lalu untuk melindungi masyarakat yang mengungsi akibat perubahan iklim.

“Dampak dari perubahan iklim mungkin akan dialami oleh banyak orang sebanyak yang diakibatkan bencana,” kata antropolog UF, Anthony Oliver-Smith. “Lebih banyak orang daripada sebelumnya mungkin akan mengungsi dalam merespon badai yang intens, peningkatan banjir dan kekeringan yang membuat hidup tidak bisa lagi dipertahankan di lokasi mereka saat ini.”

“Terkadang masalahnya hanyalah kurangnya perhatian terhadap masyarakat seolah-olah berada pada jalan kemajuan,” kata Oliver-Smith, seorang profesor emeritus yang telah meneliti isu-isu seputar pengungsian selama lebih dari 30 tahun. Namun upaya penampungan seringkali gagal dikarenakan kompleksitas dari tugas ini terlalu diremehkan. “Mentransplantasi populasi dan budaya dari satu lokasi ke lokasi lain merupakan proses yang kompleks – serumit operasi otak,” katanya.

“Sekarang ini akan menjadi masalah perencanaan ke depan,” kata Burt Singer, seorang anggota fakultas kehormatan di UF Institut Perkembangan Patogen yang bekerja dengan kelompok riset. Singer juga telah mempelajari isu-isu yang berkaitan dengan relokasi penduduk selama beberapa dekade.

Singer mengatakan bahwa upaya regulasi ini dipromosikan oleh International Finance Corporation, cabang pinjaman perusahaan dari Bank Dunia, membantu untuk memastikan kesejahteraan masyarakat pengungsi dalam beberapa kasus. Namun, karena lebih banyak orang yang direlokasi – terutama orang yang sangat miskin yang tidak memiliki sumber daya – pembiayaan kegiatan relokasi di tengah perubahan iklim bisa menjadi tantangan yang nyata.

Perencanaan dan pembiayaan untuk relokasi hanyalah bagian dari tantangan, kata Oliver-Smith. “Anda perlu pengambil keputusan yang handal untuk melaksanakan rencana ini,” katanya. Kurangnya pelatihan dan informasi dapat menggagalkan peletakan rencana yang terbaik. Dia mengatakan bahwa Bank Dunia semakin beralih pada para antropolog untuk membantu mereka mengevaluasi berbagai proyek dan hasil dari relokasi.

“Ini adalah kewajiban moral,” kata Oliver-Smith. Juga, analisis sederhana pada biaya-manfaat menunjukkan bahwa melaksanakan relokasi yang buruk akan menambah biaya di masa depan. Sumber daya dan biaya kekurangan gizi yang terbuang, penurunan kesehatan, kematian bayi dan usia tua, serta kehancuran keluarga dan jaringan sosial, harus dimasukkan ke dalam total biaya pemukiman yang gagal, katanya.

Oliver-Smith mengatakan bahwa kegagalan di masa lalu menghasilkan pelajaran yang berharga bagi para pembuat kebijakan di masa depan, karena menunjukkan banyaknya lubang-lubang potensial dibandingkan kelancaran dalam proyek relokasi. Tapi pengalaman-pengalaman ini juga menggarisbawahi kenyataan bahwa ada harga mahal yang harus dibayar oleh masyarakat yang direlokasi, bahkan sekalipun dalam skenario kasus yang terbaik.

Dalam tahun-tahun mendatang, katanya, banyak proyek seperti bendungan hidroelektrik dan perkebunan biofuel yang akan diusulkan dengan mengatasnamakan perubahan iklim, namun memindahkan masyarakat untuk mengakomodasi proyek-proyek ini mungkin bukanlah solusi yang sederhana.

Sebuah tinjauan yang jelas pada biaya untuk pengungsian bisa memperingatkan pemerintah terhadap kompleksitas dan risiko relokasi.

“Jika para ahli bedah otak memiliki tingkat keberhasilan seperti yang kita miliki dalam merelokasi populasi, maka akan sangat sedikit orang yang memilih untuk operasi otak,” katanya.

Kredit: University of Florida
Jurnal: A. de Sherbinin, M. Castro, F. Gemenne, M. M. Cernea, S. Adamo, P. M. Fearnside, G. Krieger, S. Lahmani, A. Oliver-Smith, A. Pankhurst, T. Scudder, B. Singer, Y. Tan, G. Wannier, P. Boncour, C. Ehrhart, G. Hugo, B. Pandey, G. Shi. Preparing for Resettlement Associated with Climate Change. Science, 28 October 2011: Vol. 334 no. 6055 pp. 456-457 DOI: 10.1126/science.1208821

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.