Diposting Jumat, 21 Oktober 2011 jam 1:43 am oleh Gun HS

Budaya pada Manusia dan Kera Memiliki akar Evolusi yang Sama

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 21 Oktober 2011 -


Kebudayaan bukanlah sifat yang hanya dimiliki manusia. Dengan mempelajari populasi orangutan, tim peneliti yang dipimpin antropolog Michael Krützen dari Universitas Zurich telah menunjukkan bahwa kera besar juga memiliki kemampuan untuk mempelajari sosial dan diturunkan kepada banyak generasi.

Para peneliti memberikan bukti pertama bahwa budaya pada manusia dan kera besar memiliki akar evolusi yang sama, sehingga hal ini menjawab pertanyaan kontroversial, apakah variasi dalam pola-pola perilaku pada orangutan secara kultural didorong, atau disebabkan oleh faktor genetik dan pengaruh lingkungan.

Pada manusia, inovasi-inovasi perilaku biasanya diturunkan melalui budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pembelajaran sosial. Keberadaan budaya pada manusia dianggap merupakan adaptasi utama yang membedakan kita dari hewan. Bagaimanapun juga, apakah budaya hanyalah dimiliki manusia atau memiliki akar evolusi yang lebih mendalam, tetap menjadi salah satu pertanyaan yang belum terpecahkan dalam ilmu pengetahuan.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, para ahli biologi yang telah mengamati kera besar di alam liar melaporkan variasi geografis pola perilaku yang hanya bisa terjadi melalui transmisi inovasi budaya, seperti halnya pada manusia. Pengamatan ini memicu perdebatan sengit di antara para ilmuwan. Untuk saat ini, masih diperdebatkan apakah variasi geografis dalam perilaku secara kultural didorong atau dihasilkan dari faktor genetik dan pengaruh lingkungan.

Manusia bukan satu-satunya yang menunjukkan budaya

Para antropolog dari Universitas Zurich kini mempelajari apakah variasi geografis pola perilaku pada sembilan populasi orangutan di Sumatera dan Borneo dapat dijelaskan dengan transmisi budaya.

“Inilah kasusnya; penafsiran budaya pada keragaman perilaku juga berlaku untuk orangutan – dan dengan cara yang sama persis seperti yang kita harapkan untuk kebudayaan manusia,” jelas Michael Krützen, penulis pertama studi hanya dipublikasikan dalam Current Biology.

Para peneliti menunjukkan bahwa faktor genetik atau pengaruh lingkungan tidak dapat menjelaskan pola-pola perilaku pada populasi orangutan. Kemampuan untuk mempelajari hal-hal secara sosial dan meneruskannya dalam evolusi selama beberapa generasi, bukan hanya pada manusia tapi juga pada kera.

“Sepertinya kemampuan untuk bertindak secara budaya ditentukan oleh harapan hidup panjang kera dan kebutuhan untuk dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berubah,” tambah Krützen, menyimpulkan bahwa, “Sekarang kita tahu bahwa akar budaya manusia jauh lebih mendalam dari yang diperkirakan sebelumnya, kebudayaan manusia yang dibangun di atas dasar yang kokoh ternyata berusia berjuta-juta tahun dan berbagi dengan kera-kera besar lainnya.”

Dataset terbesar untuk spesies kera besar

Dalam studi ini, para peneliti menggunakan dataset terbesar yang pernah dikompilasi untuk suatu spesies kera besar. Mereka menganalisis data perilaku selama lebih dari 100.000 jam, membuat profil genetik untuk lebih dari 150 orangutan liar dan perbedaan ekologi antar populasi diukur dengan menggunakan citra satelit dan teknik canggih sensorik jarak jauh.

“Hal yang baru dari studi kami,” kata rekan penulis Carel van Schaik, “adalah, berkat pengukuran dataset yang belum pernah terjadi sebelumnya, kami adalah yang pertama yang mengukur pengaruh genetika dan faktor lingkungan terhadap pola perilaku yang berbeda di antara populasi orangutan.”

Ketika para peneliti memeriksa parameter yang bertanggung jawab atas perbedaan dalam struktur sosial dan ekologi perilaku di antara populasi orangutan, pengaruh lingkungan dan, pada tingkat yang lebih rendah, faktor genetik, memainkan peran penting, membuktikan bahwa parameter yang diukur adalah yang tepat. Hal ini, pada gilirannya, merupakan hal yang penting dalam pertanyaan utama, apakah faktor genetik atau pengaruh lingkungan dapat menjelaskan pola-pola perilaku pada populasi orangutan. “Itu tidak terjadi. Sebagai hasilnya, kami bisa membuktikan bahwa penafsiran budaya bagi keanekaragaman perilaku juga berlaku bagi orangutan,” simpul van Schaik.

Kredit: Universitas Zurich
Jurnal: Michael Krützen, Erik P. Willems, Carel P. van Schaik. Culture and Geographic Variation in Orangutan Behaviour. Current Biology, Volume 21, Issue 21, 20 Oktober 2011, DOI: 10.1016/j.cub.2011.09.017

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.