Diposting Jumat, 14 Oktober 2011 jam 2:57 pm oleh Gun HS

Merekonstruksi Genom Black Death: Nenek Moyang dari Semua Wabah Modern

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 14 Oktober 2011 -


Sebuah tim internasional – dipimpin para peneliti dari Universitas McMaster dan Universitas Tubingen di Jerman – telah mengurutkan keseluruhan genom Black Death, salah satu epidemi yang paling menghancurkan dalam sejarah manusia.

Ini pertama kalinya para ilmuwan telah mampu merancang rekonstruksi genom dari setiap patogen kuno, yang memungkinkan para peneliti untuk melacak perubahan dalam evolusi dan virulensi patogen dari waktu ke waktu. Studi ini – yang saat ini dipublikasikan secara online dalam jurnal Nature – memberi pemahaman yang lebih baik tentang penyakit menular modern.

Ahli genetika Hendrik Poinar dan Kirsten Bos dari Universitas McMaster dan Johannes Krause dan Verena Schuenemann dari Universitas Tubingen berkolaborasi dengan Brian Golding dan David Earn dari Universitas McMaster, Hernán A. Burbano dan Matthias Meyer dari Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi dan Sharon Dewitte dari University of South Carolina.

Dalam studi terpisah yang dipublikasikan baru-baru ini, tim riset mendeskripsikan pendekatan metodologis terbaru untuk menarik keluar fragmen DNA kecil agen penyebab Black Death yang terdegradasi, dan menunjukkan bahwa varian tertentu dari bakteri pestis Yersinia, bertanggung jawab atas wabah yang menewaskan 50 juta orang Eropa antara tahun 1347 dan 1351.

Setelah keberhasilan ini, langkah utama berikutnya adalah mencoba untuk “menangkap” dan mengurutkan keseluruhan genom, jelas Poinar, profesor dan direktur Pusat DNA Kuno McMaster.

“Data genom menunjukkan bahwa strain, atau varian, bakteri ini merupakan nenek moyang dari semua malapetaka modern yang kita miliki saat ini di seluruh dunia. Setiap wabah di seluruh dunia saat ini berasal dari keturunan wabah abad pertengahan,” katanya. “Dengan pemahaman yang lebih baik terhadap evolusi patogen yang mematikan ini, kita memasuki era baru dalam hal penelitian penyakit menular.”

“Dengan menggunakan metodologi yang sama, semestinya saat ini memungkinkan untuk mempelajari genom segala macam patogen bersejarah,” tambah Krause, salah satu penulis utama studi tersebut. “Ini akan memberi kita wawasan langsung tentang evolusi patogen manusia dan sejarah pandemi.”

Keturunan langsung dari wabah pes yang sama terus ada hingga saat ini, menewaskan sekitar 2.000 orang setiap tahunnya.

“Kami menemukan bahwa dalam 660 tahun evolusi sebagai patogen manusia, terdapat perubahan yang relatif sedikit dalam genom organisme kuno, namun perubahan-perubahan ini, betapapun kecilnya, mungkin atau tidak mungkin diperhitungkan untuk mencatat peningkatan virulensi kutu yang memporak-porandakan Eropa,” kata Poinar. “Langkah berikutnya adalah menentukan mengapa ini sangat mematikan.”

Kemajuan teknis utama dalam pemulihan DNA dan pengurutan telah secara dramatis memperluas ruang lingkup analisis genetik spesimen kuno, membuka cakrawala baru dalam pemahaman tentang infeksi yang muncul dan muncul kembali.

Dewitte, Bos dan Schuenemann menganalisis sisa-sisa kerangka dari korban yang terkubur dalam “lubang wabah” Smithfield Timur di London, terletak di bawah lokasi yang sekarang adalah Royal Mint. Dengan penargetan spesimen – yang telah dipindai untuk mendeteksi kehadiran pestis Y. – dari pulpa gigi lima mayat, mereka mampu mengekstrak, memurnikan dan memperkaya DNA patogen, sehingga mengurangi DNA latar belakang yang terdiri dari DNA manusia, jamur dan non-wabah lainnya.

Dengan menghubungkan penanggalan 1349-1350 pada kerangka ke data genom, memungkinkan para peneliti menghitung usia nenek moyang pestis Yersinia yang menyebabkan wabah di abad pertengahan. Penanggalan ini menyatu suatu waktu antara abad ke-12 dan 13, menunjukkan bahwa wabah sebelumnya seperti wabah Justinian di abad ke-6 – yang pernah diduga disebabkan oleh patogen yang sama – kemungkinan disebabkan oleh pantogen lain. Wabah Justinian tersebar di seluruh Kekaisaran Romawi Timur, menewaskan sekitar 100 juta orang di seluruh dunia.

Kredit: Universitas McMaster
Jurnal: Kirsten I. Bos, Verena J. Schuenemann, G. Brian Golding, Hernán A. Burbano, Nicholas Waglechner, Brian K. Coombes, Joseph B. McPhee, Sharon N. DeWitte, Matthias Meyer, Sarah Schmedes, James Wood, David J. D. Earn, D. Ann Herring, Peter Bauer, Hendrik N. Poinar, Johannes Krause. A draft genome of Yersinia pestis from victims of the Black Death. Nature, 2011; DOI: 10.1038/nature10549

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.