Diposting Minggu, 9 Oktober 2011 jam 1:29 am oleh Gun HS

Mars Express Mendeteksi Uap Air yang Jenuh pada Atmosfer Mars

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 9 Oktober 2011 -


Analisis data yang dikumpulkan pesawat ruang angkasa Mars Express milik Badan Antariksa Eropa menunjukkan fakta yang tidak diragukan lagi: atmosfer Mars mengandung uap air dalam keadaan jenuh. Temuan yang mengejutkan ini memungkinkan para ilmuwan untuk lebih memahami siklus air di Mars, serta evolusi atmosfernya.

Penelitian ini dipimpin oleh tim dari Laboratoire Atmosphères, Milieux, Observations Spatiales (LATMOS, CNRS/UPMC/UVSQ), bekerjasama dengan rekan-rekan dari Rusia dan Prancis(1), dan menerima dukungan dari CNES. Dipublikasikan dalam jurnal Science edisi 30 September 2011.

Transportasi air pada atmosfer Mars. (Kredit: ESA/AOES Medialab)

Di bumi, uap air cenderung mengembun, yaitu berubah menjadi cairan, ketika suhu menurun di bawah titik embun. Atmosfer dikatakan ‘jenuh’ karena tidak mampu menahan kelembaban lagi pada suhu dan tekanan tersebut. Uap air yang berlebih kemudian mengembun di sekitar partikel dan debu yang tersingkirkan, membentuk presipitasi. Namun, pengembunan terkadang mungkin jauh lebih lambat, terutama ketika partikel dan debu menjadi jarang. Karena tidak bisa mengembun, uap air yang berlebih dengan demikian tetap dalam keadaan gas: inilah yang dikenal sebagai jenuh. Hingga kini, diasumsikan bahwa fenomena ini tidak bisa terjadi di atmosfer Mars meskipun tidak pernah terbukti.

Sementara beberapa pesawat ruang angkasa telah mengunjungi Mars sejak tahun 1970-an, sebagian besar instrumennya hanya terfokus pada data permukaan. Akibatnya, instrumen-instrumen ini hanya mengamati komponen-komponen atmosfer Mars secara horisontal. Cara di mana kadar air di Mars bervariasi dengan ketinggian yang tetap sebagian besar belumlah diselidiki.

Survei yang dilakukan spektrometer SPICAM(2) yang terpasang pada pesawat ruang angkasa Mars Express kini memungkinkan untuk mengisi kesenjangan tersebut. SPICAM mampu membangun profil vertikal atmosfer dengan menggunakan okultasi surya, yaitu dengan mengamati cahaya matahari karena cahaya ini melakukan perjalanan melalui atmosfer Mars saat matahari terbit dan matahari terbenam.

Bertentangan dengan anggapan sebelumnya, para peneliti menemukan bahwa uap air yang jenuh justru merupakan fenomena yang sering terjadi di Mars. Mereka bahkan mengamati tingkat jenuh yang sangat tinggi di atmosfer Mars, hingga sepuluh kali lebih besar daripada yang ditemukan di Bumi.

“Kemampuan uap air berada dalam keadaan yang sangat jenuh, misalnya, memungkinkan untuk memasok air pada belahan selatan Mars, jauh lebih efisien daripada yang diprediksi model saat ini,” kata Franck Montmessin, peneliti CNRS di LATMOS dan pemimpin proyek SPICAM(3).

Selain itu, kuantitas uap air yang jauh lebih besar daripada yang diduga mungkin terangkut cukup tinggi di atmosfer untuk dihancurkan oleh foto-disosiasi(4). Jika terkonfirmasi, fenomena ini akan berkonsekuensi untuk keseluruhan isu tentang air di Mars, bagian signifikan yang diketahui telah meloloskan diri secara terus-menerus ke ruang angkasa selama miliaran tahun, yang sebagian menjelaskan rendahnya jumlah air saat ini di planet tersebut (5).

Distribusi vertikal uap air merupakan kunci untuk mempelajari siklus hidrologi di Mars. Hipotesis berdasarkan jumlah air di atmosfer Mars dibatasi oleh proses penjenuhan, dengan demikian perlu direvisi. Temuan ini berimplikasi besar bagi pemahaman saat ini mengenai iklim maupun transportasi air di Mars.

Keterangan:

  1. François Forget, peneliti CNRS di Laboratoire de Météorologie Dynamique (LMD, CNRS/ENS Paris/UPMC/Ecole Polytechnique) mengambil bagian dalam pekerjaan ini. Laboratoriumnya maupun dan LATMOS merupakan milik Institut Pierre-Simon Laplace.
  2. Instrumen ini adalah ultraviolet ganda dan spektrometer inframerah dekat, dirancang dan diproduksi oleh tiga laboratorium (LATMOS, Institut d’Aéronomie Spatiale di Brusel dan Space Research Institute (IKI) di Moskow), dengan dana dari CNES.
  3. Luca Maltagliati, penulis utama studi ini, menerima pendanaan dari CNES selama pasca-doktor di LATMOS.
  4. Radiasi matahari memecah molekul air, melepaskan atom oksigen dan hidrogen, yang kemudian cukup ringan untuk meloloskan diri ke ruang antarplanet.
  5. Di bumi, jumlah airnya diperkirakan setara dengan 3 kilometer lapisan cairan di seluruh permukaan bumi. Perkiraan untuk Mars jauh lebih rendah, meskipun sedikit yang diketahui tentang kuantitas air tanahnya.

Kredit: CNRS (Délégation Paris Michel-Ange)
Jurnal: L. Maltagliati, F. Montmessin, A. Fedorova, O. Korablev, F. Forget, J.- L. Bertaux. Evidence of Water Vapor in Excess of Saturation in the Atmosphere of Mars. Science, 2011; 333 (6051): 1868 DOI: 10.1126/science.1207957

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Fans Facebook

Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.