Diposting Sabtu, 1 Oktober 2011 jam 3:06 pm oleh Gun HS

Tikus Autis Memiliki Perilaku yang Sama dengan Manusia Penderita Autis

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 1 Oktober 2011 -


Para ilmuwan UCLA telah menciptakan model tikus untuk autisme, membuka pemahaman tentang mekanisme biologis yang mendasari penyakit tersebut dan menawarkan cara yang menjanjikan untuk menguji pendekatan pengobatan yang baru.

Dipublikasikan dalam Cell edisi 30 September, penelitian ini menemukan bahwa tikus autis menampilkan gejala dan perilaku yang sangat mirip dengan anak-anak dan orang dewasa pada spektrum autisme. Hewan-hewan ini juga merespon dengan baik obat yang disetujui FDA, yang diresepkan bagi pasien autisme dalam mengobati perilaku repetitif yang sering dikaitkan dengan penyakit tersebut.

“Meskipun banyak gen yang telah dikaitkan dengan autisme, namun masih belum jelas kesalahan apa yang meningkatkan kerentanan seseorang terhadap gangguan ini,” jelas Dr. Daniel Geschwind, profesor neurologi di David Geffen School of Medicine, UCLA. “Kami mengembangkan model tikus untuk mengamati bagaimana varian-varian gen yang sering dikaitkan dengan autisme manusia, mengungkapkan dirinya pada tikus.”

Tim riset UCLA berfokus pada gen yang disebut CNTNAP2 (contactin yang terkait dengan protein 2). Ilmuwan meyakini bahwa gen ini memainkan peran penting dalam sirkuit otak yang bertanggung jawab pada bahasa dan bicara. Penelitian sebelumnya telah mengaitkan varian-varian umum CNTNAP2 memiliki risiko tinggi autisme pada populasi umum, sedangkan varian-varian yang langka dapat menyebabkan bentuk warisan autisme yang disebut cortical dysplasia-focal epilepsy syndrome (CDFE).

Para peneliti UCLA mempelajari tikus yang kekurangan CNTNAP2 dan menemukan bahwa hewan ini menunjukkan banyak fitur autisme pada manusia, termasuk komunikasi vokal yang abnormal, interaksi sosial yang tidak teratur dan perilaku repetitif. Hewan-hewan itu hiperaktif dan mengalami serangan epilepsi seperti pasien penderita CDFE.

Dengan melihat lebih dekat pada otak hewan tersebut sebelum mengalami kejang, terungkap adanya perkembangan abnormal dalam sirkuit sel otak. Masalahnya meliputi penyimpangan pada bagaimana neuron melakukan perjalanan dari situs asal ke posisi akhir dalam otak dan bagaimana kelompok-kelompok neuron berkomunikasi satu sama lain.

Hewan-hewan juga memiliki lebih sedikit sel-sel saraf yang menghubungkan neuron pembawa impuls ke sistem saraf pusat dengan neuron yang mengirimkan impuls ke seluruh tubuh.

Temuan ini melanjutkan penelitian Geschwind sebelumnya, yang menemukan bahwa anak-anak yang memiliki varian CNTNAP2 mengalami otak yang terputus-putus. Lobus frontal mereka terkoneksi ke dirinya sendiri dan kurang terkoneksi ke seluruh otak. Komunikasi dengan bagian belakang otak terutama berkurang.

“Pengamatan kami konsisten dengan teori-teori yang menunjukkan bahwa autisme melakukan penyambungan ulang otak untuk mengurangi jarak koneksi dan meningkatkan koneksi jarak pendek,” kata Geschwind. “Bagian depan otak sebagian besar berbicara dengan dirinya sendiri. Ia tidak berkomunikasi banyak dengan bagian-bagian otak lainnya dan tidak memiliki jarak koneksi ke belakang otak.”

Geschwind mengakui bahwa ia pada awalnya kurang berharap banyak dengan model tikus, namun kemudian terkejut dengan temuannya ini. Dia tidak pernah menduga perilaku tikus autis dan orang autis sangat mirip satu sama lain.

“Saya tidak menduga bisa melihat perilaku tikus yang sama dengan manusia karena kami tidak tahu berapa banyak kedua spesies ini berbagi jalur saraf yang sama,” kata Geschwind. “Ini menunjukkan jalur-jalur yang sangat mirip – sungguh mengejutkan.”

Tikus juga merespon baik terhadap pengobatan dengan risperidone, obat antipsikotik yang pertama yang memenangkan persetujuan FDA untuk mengobati gejala gangguan spektrum autisme.

Tikus yang diberi obat tersebut menjadi kurang hiperaktif, kurang menunjukkan perilaku berulang-ulang dan bisa memperoleh perawatan yang lebih baik. Hanya saja, tikus tidak menunjukkan peningkatan dalam interaksi sosial seperti pengamatan sebelumnya pada pasien manusia.

“Temuan kami menunjukkan bahwa evolusi telah mempertahankan perilaku repetitif yang berhubungan dengan autisme pada seluruh spesies,” kata Geschwind. “Jika persamaan perilaku sosial ini adalah benar, maka kami akan menggunakan model tikus untuk mempelajari terapi potensial yang mungkin suatu saat bisa membantu para penderita autisme.”

Laboratorium berikutnya bertujuan mengembangkan terapi obat untuk meningkatkan keterampilan sosial dan menggunakan model tikus untuk mengeksplorasi jalur-jalur sel otak yang berbeda yang mempengaruhi perilaku inti autis.

Penelitian ini didukung pendanaan dari National Institute of Mental Health, Dr. Miriam and Sheldon G. Adelson Medical Research Foundation dan UCLA Center for Autism Research & Treatment/Autism Center of Excellence.

Kredit: University of California – Los Angeles Health Sciences
Jurnal: Olga Peñagarikano, Brett S. Abrahams, Edward I. Herman, Kellen D. Winden, Amos Gdalyahu, Hongmei Dong, Lisa I. Sonnenblick, Robin Gruver, Joel Almajano, Anatol Bragin, Peyman Golshani, Joshua T. Trachtenberg, Elior Peles, Daniel H. Geschwind. Absence of CNTNAP2 Leads to Epilepsy, Neuronal Migration Abnormalities, and Core Autism-Related Deficits. Cell, 2011; 147 (1): 235-246 DOI: 10.1016/j.cell.2011.08.040

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.