Diposting Kamis, 29 September 2011 jam 11:45 am oleh Gun HS

Ilmuwan Memodifikasi HIV agar Tidak Mampu Menyerang Sistem Kekebalan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 29 September 2011 -


Para peneliti dari Johns Hopkins telah memodifikasi HIV (human immunodeficiency virus) dengan cara membuatnya tidak lagi mampu menekan sistem kekebalan tubuh. Dalam laporan yang dipublikasikan online 19 September dalam jurnal Blood, mereka menyebut bahwa hal ini bisa menghapus rintangan utama dalam pengembangan vaksin HIV dan mengarah pada pengobatan baru.

“Hal tentang HIV adalah menurunkan respon kekebalan tubuh, bukan memicunya, sehingga sulit untuk mengembangkan vaksinnya,” kata David Graham, Ph.D., asisten profesor molekul dan patobiologi dan obat-obatan komparatif. “Kami sekarang sepertinya memiliki cara untuk menghindari penghalang ini,” tambahnya.

Biasanya, ketika sel-sel sistem kekebalan tubuh terserang virus, mereka mengirimkan alarm dengan melepaskan zat kimia yang disebut interferon untuk memperingatkan seluruh tubuh akan adanya infeksi virus. Namun, ketika sel-sel kekebalan menghadapi HIV, mereka melepaskan interferon terlalu banyak, sehingga menjadi kewalahan dan menutup respon untuk melawan virus berikutnya.

Para peneliti telah belajar dari penelitian lain bahwa ketika sel-sel kekebalan tubuh manusia (sel darah putih) kehabisan kolesterol, HIV tidak bisa lagi menginfeksi mereka. Ternyata selubung yang mengelilingi dan melindungi genom HIV juga kaya dengan kolesterol, mengarahkan tim riset Johns Hopkins untuk menguji apakah HIV yang kurang kolesterol juga masih bisa menginfeksi sel.

Sebuah model HIV yang menunjukkan organisasi kolesterol membran yang terkait (warna kuning). (Kredit: Johns Hopkins Medical Institutions/Jenny Wang)

Para peneliti memasukkan HIV dengan bahan kimia yang bisa menghilangkan kolesterol dari selubung virus. Kemudian mereka memasukkan HIV yang sudah berkurang kolesterolnya ini ke dalam sel-sel kekebalan tubuh manusia yang bertumbuh dalam tabung kultur, serta mengukur bagaimana sel-sel tersebut meresponnya. Hasilnya, sel-sel yang terkena HIV kurang-kolesterol tidak melepaskan interferon, sedangkan sel-sel yang terpapar HIV normal melepaskan interferon.

“Pengubahan HIV tidak membanjiri sistem dan alih-alih memicu respon imun bawaan untuk bereaksi, sepertinya ini melakukannya pada setiap pertemuan virus pertama,” kata Graham.

Selanjutnya, para peneliti memeriksa apakah HIV kurang-kolesterol mengaktifkan respon imun adaptif – respon yang membantu tubuh mengingat patogen spesifik jangka panjang sehingga tubuh mengembangkan imunitas dan melawan infeksi di masa depan. Untuk melakukannya, mereka menempatkan HIV normal atau yang kurang kolesterol pada sampel darah, yang berisi semua sel berbeda yang diperlukan untuk respon imun adaptif.

Lebih spesifik lagi, mereka menguji sampel darah dari orang yang sebelumnya sudah terkena HIV untuk melihat apakah darah mereka mampu menunggangi respon imun adaptif. Sampel darah yang digunakan berasal dari 10 orang positif HIV dan dari 10 orang sehat yang berulang kali dipaparkan HIV. Saat HIV kurang-kolesterol dipaparkan pada darah yang tidak terinfeksi dalam tabung, sel-sel respon imun adaptif bereaksi terhadap virus. Dengan mengubah virus, para peneliti mampu membangkitkan kembali respon sistem kekebalan terhadap HIV dan meniadakan sifat-sifatnya, jelas Graham.

“Selain aplikasi vaksin, penelitian ini juga membuka jalan bagi pengembangan obat untuk menyerang selubung virus HIV sebagai terapi tambahan terhadap promosi deteksi virus pada sistem kekebalan tubuh,” kata Graham.

Penelitian ini didukung pendanaan dari Wellcome Trust dan Institut Kesehatan Nasional.

Kredit: Johns Hopkins Medical Institutions
Jurnal: A. Boasso, C. M. Royle, S. Doumazos, V. N. Aquino, M. Biasin, L. Piacentini, B. Tavano, D. Fuchs, F. Mazzotta, S. Lo Caputo, G. M. Shearer, M. Clerici, D. R. Graham. Over-activation of plasmacytoid dendritic cell inhibits anti-viral T-cell responses: a model for HIV immunopathogenesis. Blood, 2011; DOI: 10.1182/blood-2011-03-344218

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.