Diposting Selasa, 27 September 2011 jam 2:35 pm oleh Gun HS

Studi DNA Menunjukkan, Asia Mengalami Beberapa Gelombang Migrasi

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 27 September 2011 -


Sebuah tim peneliti internasional yang mempelajari pola-pola DNA dari manusia modern dan purba telah menemukan petunjuk baru tentang pergerakan dan pencampuran populasi lebih dari 40.000 tahun yang lalu di Asia.

Dengan menggunakan metode analisis genom, para ilmuwan dari Harvard Medical School dan Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi di Leipzig, Jerman, telah menemukan bahwa Denisovan – yang baru-baru ini diidentifikasi sebagai sekelompok manusia purba, di mana DNA-nya telah diekstraksi tahun lalu dari tulang jari yang digali di Siberia – mengkontribusikan DNA tidak hanya pada orang New Guinea masa kini, tetapi juga pada populasi asli Australia dan Filipina.

Studi ini bertentangan dengan temuan dari studi terbesar genetik sebelumnya, manusia modern menetap di Asia pada lebih dari satu migrasi. David Reich, seorang profesor genetika di Harvard Medical School, mengatakan, “DNA Denisova adalah seperti pewarna pencitraan medis yang melacak pembuluh darah seseorang. Sangat diketahui bahwa Anda bisa mendeteksinya meskipun hanya sedikit dalam satu individu. Dengan cara yang sama, kami mampu melacak DNA Denisova dalam migrasi orang-orang. Ini menunjukkan kekuatan pengurutan DNA purba sebagai alat untuk memahami sejarah manusia.”

Pola-pola yang ditemukan para peneliti hanya dapat dijelaskan oleh setidaknya dua gelombang migrasi manusia: kemunculan pertama populasi asli yang saat ini hidup di Asia Tenggara dan Oseania, dan kemudian menimbulkan migrasi kerabat Asia Timur yang sekarang adalah populasi utama di Asia Tenggara.

Penelitian ini juga memberi wawasan baru tentang di mana para Denisovan purba hidup. Menurut Mark Stoneking, seorang profesor di Institut Max Planck yang adalah penulis senior dalam makalah, para Denisovan pastilah telah menghuni berbagai ekologis dan geografis yang luar biasa besar, dari Siberia hingga Asia Tenggara tropis. “Fakta bahwa DNA Denisovan hadir dalam beberapa populasi asli di Asia Tenggara namun tidak hadir pada yang lainnya menunjukkan bahwa terdapat kotak-kotak populasi dengan dan tanpa bahan genetik dari Denisova lebih dari 44.000 tahun yang lalu,” katanya. “Kehadiran materi genetik Denisovan dalam beberapa kelompok tapi tidak semua kelompok adalah paling mudah bisa dijelaskan jika para Denisovan tinggal di Asia Tenggara itu sendiri.”

Jejak genetik

Studi baru ini diprakarsai oleh Stoneking, seorang ahli variasi genetik di Asia Tenggara dan Oceania yang telah merakit beragam sampel dari kawasan-kawasan tersebut. Penelitian ini melihat lebih dekat pada jejak genetik Denisovan. Para peneliti menganalisis DNA dari puluhan populasi di Asia Tenggara dan Oseania masa kini, termasuk Kalimantan, Fiji, Indonesia, Malaysia, Australia, Filipina, Papua Nugini dan Polinesia. Beberapa data sudah ada, dan beberapanya baru dikumpulkan untuk penelitian.

Analisis mereka menunjukkan bahwa, di samping orang New Guinea, Denisovan juga mengkontribusikan bahan genetik pada aborigin Australia, sebuah kelompok “Negrito” Filipina yang disebut Mamanwa, serta populasi lain di timur Asia Tenggara dan Oseania. Namun, kelompok di barat atau barat laut, termasuk kelompok Negrito lainnya seperti Onge di Kepulauan Andaman dan Jehai di Malaysia, serta daratan Asia Timur, tidak melakukan kawin silang dengan Denisovan.

Para peneliti menyimpulkan bahwa:

Para peneliti dari Institut Broad MIT dan Harvard, dari Jerman, India, Taiwan, Jepang, Malaysia, dan Belanda juga memberikan kontribusi. Penelitian ini didanai oleh Max Planck Society dan National Science Foundation HOMINID program.

Kredit: Harvard Medical School
Jurnal: David Reich, Nick Patterson, Martin Kircher, Frederick Delfin, Madhusudan R. Nandineni, Irina Pugach, Albert Min-Shan Ko, Ying-Chin Ko, Timothy A. Jinam, Maude E. Phipps et al. Denisova Admixture and the First Modern Human Dispersals into Southeast Asia and Oceania. American Journal of Human Genetics, September 22, 2011 DOI: 10.1016/j.ajhg.2011.09.005

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.