Diposting Minggu, 25 September 2011 jam 7:37 pm oleh Evy Siscawati

Filsafat Sains: Sintesis Modern, Tesis Paritas, dan Interaksionisme

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 25 September 2011 -


Sintesis Modern memandang gen adalah segalanya, ia disebut juga genosentrisme. Tanpa gen, seberapapun kuat lingkungan, ia tidak berpengaruh. Seberapapun diajarkan, kalau gennya tidak mendukung, ia tetap bodoh. Itu kata Sintesis Modern, pihak yang mengatakan kalau kecerdasan itu 100% gen.

Pendukung Sintesis Modern seperti Maynard Smith mengizinkan proses perkembangan dan morfogenetik dapat dipengaruhi, bahkan dengan kuat, oleh kendala non genetik. Neo-Darwinisme tidak melarang hal ini, karena premis dasar Sintesis Modern adalah hanya perubahan-perubahan yang diwariskan oleh DNA dapat diturunkan pada keturunan tidak ditentang.

Tesis Paritas mengatakan kalau gen dan lingkungan tidak dapat dipisahkan. Dialah pihak yang mengatakan kalau kecerdasan itu 100% gen-lingkungan. Teori Sistem Perkembangan mendahului Tesis Paritas dalam usahanya menawarkan alternatif menyeluruh atas Sintesis Modern dengan menghadapi berbagai tantangannya dan menawarkan kerangka konseptual yang baru.

Formulasi dominan mengenai Tesis Paritas menyatakan kalau kita tidak dapat secara prinsip membedakan antara ciri berbasis nature (yaitu berbasis gen) dan berbasis nurture (yaitu berbasis lingkungan) dalam perkembangan mahluk hidup karena informasi yang dibutuhkan untuk karakteristik yang dihasilkan terkandung baik dalam lingkungan maupun gen. Karenanya, gen (yaitu molekul DNA) hanyalah bagian dari proses perkembangan, dan dikotomi nature/nurture runtuh karena “nature” mewakili fenotipe perkembangan, bukannya determinan sebab akibat. Fenotipe hanyalah bagian dari konstruksi perkembangan. Karenanya, informasi genetika tidak pernah dikirim dari satu molekul master dalam nutfah terisolasi namun selalu di konstruksi ulang dalam perkembangan, dan tugas ahli biologi adalah memecahkan sandi ontogeni informasi demikian. Dengan kata lain, evolusi adalah “sebuah perubahan dalam distribusi dan konstitusi sistem perkembangan (organisme-lingkungan), bukan semata perubahan dalam frekuensi gen sebagaimana dinyatakan oleh genosentrisme yang berbasis Sintesis Modern.

S. Oyama, pendukung paling gigih Tesis Paritas, menekankan kalau fenotipe selalu dikonstruksi secara perkembangan. Ini tidak memungkinkan partisi antara lingkungan dan gen karena keduanya perlu namun merupakan bagian independen dari perkembangan (begitu juga morfogenesis) yang dapat dianalisis secara demikian (dimana pengaruh gen memang dapat ditemukan dalam sebagian kasus). Dengan kata lain, “tesis paritas tidak menuju pada ‘interaksionisme’ konvensional yang menerima kategori tradisional nature dan nurture, biologi dan budaya bahkan bila keduanya ‘penting’ dan ‘berinteraksi’. Karenanya, konsekuensi dari karakterisasinya pada perbedaan antara karakteristik yang diwarisi dan diperoleh dari lingkungan ditekankan untuk membuat point yang jauh lebih kuat dari bahkan versi paling liberal dari interaksionisme, yang, berbeda dengan interaksionisme konvensional, memperlakukan nature dan nurture sebanding. Beliau menulis “tidak ada perbedaan nyata antara karakteristik yang diwarisi (biologis, berbasis genetik) dan yang didapatkan (dimediasi lingkungan) … Begitu perbedaan antara yang diwariskan dan yang didapatkan terhapus, bukan semata dalam hal ekstrim (ujung), namun juga dalam hal kontinuum, evolusi tidak dapat dikatakan tergantung pada perbedaan.”

Interaksionisme seperti telah dibahas di atas, mengatakan kalau gen dan lingkungan saling berinteraksi, keduanya dapat dipisahkan, mungkin 50% gen 50% lingkungan.

Ada juga yang mendukung minoritas yaitu 100% lingkungan, tetapi mazhab ini telah berhasil dijamah sains dan tidak mampu berdiri kokoh, walaupun memang ada organisme yang 100% gennya tidak berperan untuk perkembangannya. Organisme itu adalah siliata.

Bukti drastis untuk ketidakmampuan gensentrisme atau nutfahsentrisme adalah pewarisan struktural protozoa siliata, dimana molekul DNA dan RNA tidak berperan signifikan sama sekali. Dalam hal ini, pengendalian bidang seluler morfogenetik mengendalikan pewarisan maupun morfogenesis. Begitu juga, beberapa struktur non genetik sungguh diwariskan oleh mekanisme epigenetika. Karena sel dapat berbeda dalam fenotipenya sementara genotipenya dapat identik, mekanisme replikasi DNA belum cukup untuk menjelaskan perkembangan maupun pewarisan organisme.

Sumber

Perovic, S., Radenovic, L. Is Nativism in Psychology Reconcible with the Parity Thesis in Biology?

Referensi lanjut

Frenkel, J. 1989. Pattern Formation: Ciliate Studies and Models. Oxford: Oxford University Press.

Maynard Smith, J. 1998. Shaping Life: Genes, Embryos, and Evolution. London: Weidenfeld and Nicholson.

Oyama, S. 2000. The Ontogeny of Information: Developmental Systems and Evolution. Duke University Press.

Oyama, S. 2000. Causal Democracy and Causal Contributions in Developmental Systems Theory. Philosophy of Science, 67, Supplement, Proceedings of the 1998 Biennial Meeting of the Philosophy of Science Association, Part II: Symposia Papers, 332-347.

Oyama, S. 2001. What Do You Do When All the Good Words Are Taken? Cycles of Contingency: Developmental Systems and Evolution, ed. S. Oyama, P.E. Griffiths, and R.D. Gray, Massachusetts Institute of Technology, 177-195

Sterelny, K., Griffiths, P.E. 1999. Sex and Death: An Introduction to the Philosophy of Biology. Chicago: University of Chicago Press.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.