Diposting Jumat, 16 September 2011 jam 3:14 am oleh Gun HS

Pengembangan Cara Objektif untuk Mengukur Rasa Sakit

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 16 September 2011 -


Para peneliti di Stanford University di California telah mengambil langkah pertama untuk mengembangkan sebuah alat diagnostik yang dapat mengukur ada atau tidak adanya rasa sakit pada manusia.

Alat baru ini akan menggunakan pola aktivitas otak, yang dideteksi dengan pemindai, untuk memberikan penilaian fisiologis yang objektif apakah seseorang mengalami rasa sakit.

“Detektor rasa sakit telah lama diharapkan untuk waktu yang sangat lama,” kata Sean Mackey, MD, PhD, Kepala Divisi Manajemen Nyeri dan profesor anestesiologi. “Kami berharap akhirnya kita bisa menggunakan teknologi ini untuk deteksi dan pengobatan yang lebih baik terhadap rasa sakit kronis.”

Para ilmuwan menggunakan pemindai pencintraan resonansi magnetik fungsional otak, dikombinasi dengan algoritma komputer canggih untuk memprediksi rasa sakit termal pada subjek, demikian menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal online PLoS ONE, 13 September.

Hingga saat ini, para dokter hanya mengandalkan laporan dari pasien untuk mendiagnosis rasa sakit. “Kita mengandalkan laporan pasien untuk rasa nyeri, dan itu tetap menjadi standar emas,” kata Mackey, penulis senior studi tersebut. “Sebagai dokter, saya bergantung pada metode itu ketika merawat pasien yang menderita rasa sakit kronis. Tapi terdapat sejumlah besar pasien, khususnya di kalangan yang sangat muda dan sangat tua, yang tidak mampu mengkomunikasikan tingkat rasa sakit mereka. Bukankah lebih bagus jika kita memiliki teknik yang bisa mengukur rasa sakit fisiologis?”

Sean Mackey bersama rekan-rekannya bekerja untuk mengembangkan sebuah alat yang bisa menilai apakah seseorang mengalami sakit. (Kredit: Norbert von der Groeben)

Penelitian ini didasarkan pada inisiatif untuk mengembangkan perangkat lunak diagnostik pengukur rasa sakit yang akan bermanfaat bagi banyak pasien, bahkan bagi pasien yang terlalu muda atau bagi pasien yang terhalang untuk mengungkapkan situasi dan tingkat rasa sakit mereka.

Komputer menggunakan data pindaian otak dari beberapa orang untuk mempelajari pola aktivitas otak yang berbeda, ketika pemeriksa suhu panas yang dipasang pada lengan mereka menyebabkan rasa nyeri yang sedang.

“Komputer akan memberitahukan apa yang dianggapnya sebagai sakit,” kata Neil Chatterjee, penulis pendamping penelitian. Keberhasilan mencapai 81 persen dalam mendeteksi rasa sakit. Percobaan ini menjadi “luar biasa baik,” tambahnya.

Namun penelitian ini dilakukan dalam lingkungan yang terkendali dan hanya mendeteksi rasa sakit tapi tidak bisa mengukur derajat rasa sakit tersebut. Para peneliti menekankan bahwa studi masa depan diperlukan untuk menentukan apakah metode ini bekerja untuk mengukur berbagai jenis nyeri, seperti nyeri kronis, dan apakah mereka dapat membedakan secara akurat antara rasa sakit dan keadaan-keadaan emosional lainnya, seperti kecemasan atau depresi.

Sebuah studi yang dirilis oleh Institute of Medicine pada Juni lalu melaporkan bahwa lebih dari 100 juta orang Amerika menderita sakit kronis, memakan biaya sekitar 600 miliar dolar setiap tahunnya untuk biaya medis dan kehilangan produktivitas. Terlebih lagi, ditemukan pula bias kultur terhadap penderita sakit kronis – mereka sering dianggap berbohong tentang rasa sakit – mempersulit pengiriman pengobatan yang tepat. Bias serupa bisa terjadi di bidang hukum, dengan ratusan ribu kasus setiap tahun yang bergantung pada keberadaan rasa sakit, kata profesor hukum Greely Hank, seorang ahli hukum, etika dan sosial yang berkisar pada biosains.

“Sebuah cara, yang kuat dan akurat untuk menentukan apakah seseorang terkena rasa sakit atau tidak akan menjadi berkah bagi sistem hukum,” kata Greely, yang tidak berpartisipasi dalam penelitian ini.

Perkembangan baru dalam teknologi medis ini dapat menjadi keuntungan bagi para pasien dan para ahli rasa sakit, membantu mereka mendiagnosa dengan lebih akurat dan efektif. Selain itu, pengembangan perangkat lunak diagnostik yang mampu mengukur derajat nyeri, bisa menjadi kesenangan tambahan bagi mereka di masa depan.

Kredit: Stanford University Medical Center
Jurnal: Justin E. Brown, Neil Chatterjee, Jarred Younger, Sean Mackey. Towards a Physiology-Based Measure of Pain: Patterns of Human Brain Activity Distinguish Painful from Non-Painful Thermal Stimulation. PLoS ONE, 2011; 6 (9): e24124 DOI: 10.1371/journal.pone.0024124

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.