Diposting Sabtu, 13 Agustus 2011 jam 3:35 pm oleh Evy Siscawati

Pemujaan Rasio Emas

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 13 Agustus 2011 -


Walaupun orang masa kuno memang tahu dan memahami Rasio Emas, mereka tidak memandangnya signifikan dalam penggunaan geometri. Beberapa pemikir Renaissans, di sisi lain, melihat pentingnya bilangan ini secara mistis (yang mereka istilahkan “proporsi agung”) namun hal ini sangat berbeda sifatnya dengan versi modern. Sebagai awal, mereka adalah para matematikawan dengan pandangan dunia yang sangat Platonis. Rasio Emas dipandang suci karena pentingnya ia dalam konstruksi padatan Platonik dan polihedra lainnya.

Kuil Parthenon
Penganut Rasio emas modern secara umum relatif rentan pada geometri. Minat mereka berada pada mensucikan Segi Empat Emas (yaitu segiempat dimana rasio sisinya sama dengan Rasio Emas) dari potret-potret gereja dan lukisan. Segiempat Emas, menurut mereka, selalu dipandang sebagai yang paling indah dari segala segiempat dan inilah mengapa mereka digunakan secara luas pada arsitektur kuil klasik, paling terknal di Parthenon Athena.

Realitasnya ternyata tidak ada bukti untuk mendukung klaim ini. Ketika benar-benar diukur, Parthenon tidak menunjukkan rasio emas sama sekali. Faktanya setelah pemeriksaan lebih teliti, menjadi jelas kalau konstruksi kuil ini tidaklah cermat baik dalam hal tinggi tiang dan ruang antara tiang yang berbeda di tiap lokasi. Selain itu, ada alasan yang baik mengapa orang Yunani tidak memakai Rasio Emas dalam arsitektur mereka. Pertama, bilangan ini irasional (faktanya ia adalah yang paling irasional di antara semua bilangan irasional) yang membuatnya sangat sulit untuk dikerjakan dengan sistem bilangan bulat dan rasio. Vitruvius, satu-satunya penulis kuno yang karya arsitekturnya masih bertahan, menyebut kalau arsitek Parthenon, Ictinos, sebenarnya menulis sebuah buku yang menjelaskan perbandingannya namun sayangnya ia tidak mengerjakannya lebih mendalam. Walau memiliki pengetahuan ini, Vitruvius tidak membuat referensi apapun pada Rasio Emas dalam karyanya, hanya menggunakan rasio-rasio sederhana.

Nisan Bernoulli

Nautilus pompilius

Mahluk yang disalahgunakan oleh pemuja Rasio Emas adalah si purba Nautilus pompilius. Hewan ini sekarang hampir punah dan merupakan kerabat gurita. Ia menjadi semacam totem bagi desainer grafis yang tidak pernah gagal mengeksploitasinya kapanpun mereka membutuhkan grafis untuk cover buku yang membahas tentang rasio emas.
Jelas, tidak perlu dipertanyakan kalau spiral nautilus menarik secara matematis. D’arcy Thompson menunjukkan dalam karyanya tahun 1917 berjudul On Growth and Form , kalau cangkang nautilus tumbuh dalam bentuk spiral logaritmik atau ekuiangular dan hal ini memungkinkan mahluk tersebut tumbuh dengan tetap tanpa perlu mengubah bentuknya. Selain itu, studi matematika juga berhasil mengukur dimensi fraktal dari cangkang ini.

Spiral logaritmik jelas kurva yang unik, sehingga Jakob Bernoulli menyebutnya Spiral Miribilis dan bahkan dipahat di nisannya (dan ternyata itu adalah spiral Archimedes). Namun walaupun langka menemukan artikel yang membahas Rasio Emas tanpa menyertakan gambaran cangkang ini, realitasnya tidak ada hubungan yang nyata diantaranya. Ada banyak cara membangun spiral logaritmik sedemikian hingga mendekati bentuk cangkang nautilus namun tidak satupun dekat dengan Rasio Emas.

Menyenangkan bagi Mata
Klaim kalau Segi Empat Emas adalah yang paling “menyenangkan” bagi mata datang dari Adolf Zeising yang sendirian memulai kampanye Rasio Emasnya. Tahun 1855, ia menerbitkan buku yang ia beri judul:

Teori baru mengenai proporsi tubuh manusia, dikembangkan dari hukum morfologi dasar yang tidak diketahui asalnya, dan merasuk pada seluruh alam dan seni, disertai rangkuman lengkap sistem-sistem dibaliknya.

Darinya lah kalau kita belajar bahwa proporsi tubuh manusia berdasarkan Rasio Emas. Sebagai contoh, ambil tinggi seseorang dari daerah naval ke jari kaki dan bagi dengan tinggi total menghasilkan Rasio Emas. Begitu juga tampaknya dengan membagi tinggi wajah dengan lebarnya. Dari sini Zeising membuat hubungan antara proporsi berpusat manusia dan arsitektur kuno dan Renaissans. Bukan hal yang tidak beralasan, namun hubungan dengan Rasio Emas tidak punya landasan di dunia nyata. Ketika mengukur apapun serumit tubuh manusia, mudah menemukan contoh rasio yang sangat dekat dengan 1.6 (atau 5/3). Namun tidak perlu melompat dari sini ke kesimpulan apapun mengenai Rasio Emas.

Cocologi

Setelah masa Zeising, antusiasme untuk mencari Segi Empat Emas hanya tumbuh dalam seni dan arsitektur. Seniman pertama yang lukisannya dianalisis untuk mencari segiempat emas adalah pointilis Perancis, Georges Seurat. Konjektur ini pada akhirnya terbukti tidak berdasar.

Lukisan Mona Lisa

Perhatian kemudian bergeser ke karya Leonardo Da Vinci yang memiliki reputasi besar sebagai inovator dan visioner, yang dapat dibayangkan sebagai tokoh yang terlalu menarik untuk tidak dikaji. Hubungan Leonardo dengan Rasio Emas diperkuat oleh hubungannya dengan Luca Pacioli, seorang pendeta Fransiskan dan matematikawan terkenal dan juga bapak akuntan, yang menulis buku mengenai rasio yang diberi judul The Divine Proportion. Leonardo sendiri memberikan ilustrasinya untuk buku tersebut.

Leonardo mungkin memang telah mempelajari penggunaan Rasio Emas, mungkin karena pengaruh Pacioli, namun tidak ada bukti kalau ia melakukannya. Justru kita memiliki bukti kalau ia menggunakan pendekatan untuk menggambar segilimanya, hal yang tidak diharapkan dari seseorang yang paham tentang Rasio Emas. Sementara beberapa orang mengajukan kalau ia menggunakannya dalam beberapa tempat dalam lukisan-lukisannya, tidak satupun tempat tersebut memang mengandung Rasio Emas (seperti dalam dimensi wajah Mona Lisa atau tubuh St.Jerome yang tidak selesai). Dari tak terhitung segi empat yang diajukan, tidak satupun cocok dengan tepat dan kurangnya presisi ini menghapus semua argumen yang berbasis pada geometri. Selain itu, perlu dicatat kalau Virgin on the Rocks , St. Jerome dan Last Supper semuanya dilukis Leonardo beberapa tahun sebelum ia bertemu dengan Pacioli.

Lukisan Seurat, The Parade

Kesimpulan

Memang Rasio Emas memang merupakan bilangan yang unik dengan banyak sifat matematika yang menarik. Namun yang mengesalkan adalah perannya sebagai magnet dari berbagai klaim yang tidak berdasar.

Sumber

Laputan Logic. 19 January 2007. The Cult of Golden Ratio.

Referensi lanjut

The Dimensions of the Parthenon

George W. Hart. 1998. Johannes Kepler’s Polyhedra

Luís Madureira. 2003. THE MOST PLEASING
RECTANGLE WEB POLL.

L. Murphy Smith. 2008. Luca Pacioli: The Father of Accounting

George W. Hart. 1999. Leonardo da Vinci’s Polyhedra

Kumpulan Klaim mengenai rasio emas

Definisi matematis Rasio Emas.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.