Diposting Rabu, 10 Agustus 2011 jam 4:09 pm oleh Evy Siscawati

Masalah dalam menggunakan Simpanse sebagai petunjuk Asal Usul Manusia

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 10 Agustus 2011 -


Salah satu perjalanan intelektual terbesar manusia adalah penaklukkan asal usul evolusi manusia. Kita mencari dalam gen kita dan dalam gen spesies lain untuk memperoleh petunjuk penting mengenai dari mana kita datang dan apa yang menjadikan kita manusia. Dan seperti sang wisatawan yang tersesat di pedalaman Kalimantan tersebut, kita belum memiliki tempat yang ideal untuk mulai, karena kita telah memilih simpanse. Kita tidak memiliki pilihan dalam masalah ini karena koordinat modern dalam peta sejarah evolusi kita ditandai dalam DNA dan simpanse adalah kerabat DNA hidup terdekat kita. Seharusnya jalan kita dimulai secara bertahap dengan turun menuju masa lalu evolusi kita, mengikuti titik-titik simpang DNA kita selangkah demi selangkah, memeriksa diri kita. Namun hal ini mustahil. Setelah Neanderthal, hanya 35 ribu tahun lalu, DNA meluruh. Seperti pos-pos wisatawan dalam liku-liku jalan desa di Kalimantan yang begitu membingungkan bagi wisatawan kita, DNA telah kusut ke mana-mana.

Betapa membantunya bila masih ada sekeluarga Homo erectus di sebuah gua terpencil di Kaukasus, atau sebuah suku Homo heidelbergensis dalam suaka alam di Spanyol Selatan, atau bila Frodo dari Homo floresiensis masih berburu komodo di Indonesia. Namun mereka semua telah lenyap, dan DNA serta perilaku mereka juga ikut lenyap bersama mereka. Semua yang kita miliki adalah setumpuk puzzle fosil manusia purba, yang, setelah seabad lebih penelitian lapangan, masih sangat sedikit dan terpecah-pecah, sehingga pernah ada yang bilang kalau seluruh fosil manusia purba yang ada di dunia ini dapat dimasukkan dalam satu gerobak pemulung saja. Puzzle ini datang tanpa gambar utama dan dengan sebagian besar bagiannya telah hilang.

Dalam lima belas tahun terakhir, kita telah melihat pertumbuhan eksplosif teknologi yang memungkinkan kita membariskan sejumlah besar DNA dalam genom kita, berpuncak pada draft kasar pertama genom manusia di tahun 2000, dan versi yang lebih teliti di tahun 2003. Sejak tahun 2005 kita juga telah memiliki ‘Buku Kehidupan’ bermutu tinggi dari simpanse. Hal ini memungkinkan kita melompat ke masa lalu, menuju leluhur manusia purba kita yang lebih dekat, dengan membandingkan gen kita dengan gen simpanse. Ini artinya kita mulai berusaha mendefinisikan apa yang menjadikan kita ini manusia dengan bantuan perbedaan genetik antara kita dengan sebuah spesies yang terpisah dari kita sekitar 6 juta tahun lalu. Dan karena simpanse juga berevolusi, ini artinya 12 juta tahun waktu evolusi yang memisahkan kita – 6 juta untuk tiap cabang pohon evolusi semenjak pemisahan kita dari leluhur bersama.

Pohon evolusi manusia dan posisi simpanse

Walaupun latihan ilmiah massif dan mahal ini masuk akal untuk begitu banyak ilmuan genetika yang mengerjakannya, ia juga memunculkan sejumlah kesalahan, termasuk asumsi kalau kita diturunkan dari simpanse padahal kita tidak, dan gagasan kalau kemanusiaan kita dapat dilacak pada sejumlah gen yang bermutasi diantara beberapa gen yang membedakan kita dari kera. Ia juga membawa pada pandangan sangat sempit pada evolusi manusia karena hanya bertopang pada perbandingan antara manusia dan simpanse. Kita juga menemukan kalau kita berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dalam mengadopsi simpanse sebagai titik referensi paling penting untuk memetakan evolusi kita ketika mereka berada dalam bahaya untuk lenyap dari peta tersebut – karena punah.

Sumber

Taylor, J. 2009. Not A Chimp: The Hunt to Find the Genes that Make Us Human. Oxford University Press.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.