Diposting Rabu, 13 Juli 2011 jam 5:22 pm oleh Evy Siscawati

Api Abadi: Bahaya Kebakaran Bawah Tanah Alami (dan Buatan)

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 13 Juli 2011 -


Ribuan kebakaran bawah tanah saat ini membakar planet kita, dengan sebagian besar ada di Asia, dimana diperkirakan sekitar 20 persen produksi batu bara tahunan China terbakar dalam kebakaran bawah tanah.

Kebakaran bawah tanah memberikan sejumlah bahaya. Pertama, mereka melepaskan gas beracun lewat retakan, patahan, dan bukaan lainnya ke permukaan. Uap ini membunuh tanaman dan mencemari udara dan memberi sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer, karenanya menyumbang pada pemanasan global. Diperkirakan kalau jutaan ton karbon dioksida saja ditambahkan ke atmosfer per tahun oleh pembakaran batu bara bawah tanah. Volume karbon dioksida yang diproduksi per tahun oleh kebakaran batu bara bawah tanah di China diperkirakan sama dengan yang diproduksi oleh semua mobil dan truk kecil di Amerika Serikat.

Ketika kebakaran bawah tanah membakar sebuah wilayah, cadangan batu bara hilang dan menyisakan atap yang tidak ditopang dari cadangan sebelumnya. Hal ini menyebabkan ketidakstabilan, dan atap ini dapat rubuh ke ruang yang sebelumnya didiami batu bara. Keruntuhan tersebut sering meluas ke permukaan, dimana lubang hisap dan struktur runtuh lainnya dapat menelan lahan yang sebelumnya produktif. Dalam kasus dimana kebakaran terjadi dekat permukaan, subsidensi dapat terjadi ketika kebakaran, mengubah lahan menjadi seperti permukaan bulan yang penuh kawah dan clinker.

Kebakaran bawah tanah dapat terjadi lewat beberapa cara. Pertama, bila sebuah batuan mudah terbakar seperti batu bara terpapar permukaan, ia dapat dibakar oleh api atau petir di permukaan. Ketika terbakar, ia dapat menyebar ke bawah tanah dan terbakar selama puluhan, ratusan, atau ribuan tahun hingga seluruh bahan bakar habis. Satu kebakaran batu bara bawah tanah di Australia, yang disebut Burning Mountain, telah terbakar setidaknya sejak dua ribu tahun lalu. Kebakaran juga dapat terjadi secara spontan. Mineral dalam batu bara seperti pyrite melepaskan sejumlah kecil panas ketika terpapar ke oksigen. Bila batu bara berada dalam wilayah tertutup, seperti sebuah tambang atau rongga alami, maka panas dapat pula tertumpuk dan akhirnya membakar batu bara. Batu bara dan gambut bawah tanah juga dapat terbakar akibat kebakaran hutan dan sambaran petir, seperti yang membakar wilayah hutan di Indonesia tahun 1997, setelah bertahun-tahun kekeringan. Asap dari kebakaran hutan dan kebakaran bawah tanah di Indonesia tertiup melintasi samudera menuju Australia dan kepulauan Pasifik. Kebakaran bawah tanah yang dipicu oleh kebakaran permukaan di Indonesia terus terbakar hingga hari ini.

Manusia juga menjadi penyebab kebakaran bawah tanah lainnya. Sebagai contoh, kebakaran bawah tanah di tumpukan batu bara di Centralia, Pennsylvania, telah terbakar semenjak 1961 dan menghancurkan sebagian besar kota dalam jalur kebakaran. Kebakaran dipicu oleh sampah yang dibuang ke bekas pertambangan yang terbakar dan menyalakan tumpukan batu bara yang terpapar ke dinding tambang. Kebakaran menyebar lewat terowongan-terowongan yang ada yang memberi campuran sempurna antara bahan bakar, udara, dan panas. Ketika api bergerak menelusuri terowongan dan keluar sepanjang tumpukan batu bara, lahan di atasnya ikut terbakar dan berubah menjadi clinker. Pemerintah AS harus membeli lahan dan memindahkan seluruh warga Centralia, dengan biaya sekitar $40 juta.

Sangat sulit memadamkan api bawah tanah. Beberapa metode telah dicoba dengan kesuksesan yang terbatas. Pertama, penghalang dapat dibuat di terowongan untuk memblokir gerakan api, namun dalam banyak kasus api dapat membakar daerah sekitar penghalang. Terowongan dapat diisi dengan bahan padat atau busa, namun bila kebakaran telah berpindah dari terowongan ke tumpukan batu bara, hal ini juga tidak efektif. Gas yang tidak dapat terbakar juga dapat dipompakan ke dalam gua atau tambang untuk mencekik kebakaran dengan menghabiskan bahan bakarnya. Hal ini juga sulit, karena banyak tambang sangat berpori, dan gas tidak terbakar dapat kabur ke luar sementara oksigen dapat bergerak masuk. Dalam beberapa contoh, daerah permukaan pada kebakaran bawah tanah dibendung atau dibanjirkan, menyebabkan air meresap ke bawah tanah dan memadamkan api. Walau begitu, dalam sebagian besar kasus, kebakaran bawah tanah terus terjadi, dan penduduk sekitar harus beradaptasi dengan situasi yang ada. Banyak tumpukan batu bara di China dan India secara aktif ditambang saat ia terbakar, dan masyarakat sekitar bernafas dengan uap beracun.

Hidup di dekat kebakaran batu bara bawah tanah sangatlah berbahaya, seperti yang ditunjukkan oleh tambang Jharia di India, yang telah terbakar semenjak 1916. Kebakaran jangka panjang ini menyebabkan dinding tambang runtuh tahun 1995 dan melepaskan air permukaan ke dalam tambang. Serangan mendadak air menyebabkan ledakan uap, yang membunuh 60 penambang. Sungguhpun demikian, bencana ini tidak mencegah operasi lebih lanjut di tambang ini. Populasi di sekitar tambang telah berlipat dua dalam 20 tahun terakhir, memberi resiko yang lebih besar lagi.

Sumber

Kusky, T. 2008. Landslides: Mass Wasting, Soil, and Mineral Hazards. Facts on File.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.