Diposting Selasa, 5 Juli 2011 jam 5:16 pm oleh Evy Siscawati

Kawah Ijen: Danau Hiperasam alami Terbesar di Dunia

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 5 Juli 2011 -


 

Aliran air dari mata air atau danau yang berasosiasi dengan gunung berapi aktif membentuk kali dan sungai asam dalam beberapa kasus, seperti sungai Whangaehu dari danau Gunung Ruapehu, Selandia Baru, sungai Ciwidey dari danau kawah Patuha di Jawa Barat, sejumlah mata air asam di gunung berapi Poas, di Costa Rica, yang mengalir menjadi sungai Rio Agrio dan sungai Banyu Pahit (“Sungai Asam”) yang berasal dari gunung berapi Ijen di Jawa Timur. Kontaminasi air bawah tanah dan juga air permukaan berpotensi mengirimkan air gunung berapi yang sangat asam dan beracun ke lansekap. Pengaruhnya pada ekosistem dan populasi manusia setempat yang mengalami kontak dengan air demikian telah ditemukan, seperti fluorosis dan pencemaran tanaman pangan dan tanah oleh logam berat, khususnya Al. Kondisi dan proses yang sama berasosiasi dengan fluida dari tambang asam di dalam air gunung berapi seperti di atas juga telah ditemukan.

Kawah Ijen berada di sisi barat laut gunung Merapi, tepat di dalam pinggir timur gunung berapi Ijen di Jawa Timur, Indonesia. Kawah ini terbentuk lebih dari 50 ribu tahun lalu setelah keruntuhan stratovolkano dengan nama yang sama, dan bagian dari Busur Sunda, yang dihasilkan dari subduksi lempeng samudera Hindia di bawah paparan Sunda. Ke utara, sebuah dinding kawah semi melingkar membatasi kawah ini. Ke selatan, ada tiga gunung berapi pinggir yang terbentuk pasca pembentukan kawah ini : Merapi, Ranteh, dan Jampit. Trend ke arah barat-timur gunung berapi lain yang lebih kecil memotong kawah, dan kawah ijen berada di perpotongan trend gunung berapi dalam kawah dan trend gunung berapi pinggir. Sebuah danau besar terlihat mendiami hampir seluruh paruh utara kawah beradasarkan endapan sedimen lakustrin di daerah ini, dan sebuah potongan di dinding kawah utara dekat kota Blawan bertindak sebagai pembuangan bagi kawah ini.

Gunung Ijen sendiri adalah stratovolkano yang aktif mengalami degassing (? 2,346 m.a.s.l.). Lokasi astronomisnya 08°03’LS,114°14’BT. Fumarol membentuk sebuah gundukan dengan tinggi sekitar 20 meter di barat didalam bibir kawah. Aktivitas vulkanis saat ini freatik, dan erupsi magma terakhir terjadi tahun 1817, dan menyebabkan kerusakan besar hingga 25 km dari gunung berapi lewat aliran lumpur. Kerucut gunung Ijen terdiri dari satuan aliran lava bolak-balik basaltik dan andesitik, lahar dan aliran piroklastik, dan endapan skoria dari berbagai fase eruptif gunung ini. Kontak antar lapisan, dan satuan-satuan yang relatif permeabel, bertindak sebagai lahan aliran cairan bawah tanah. Mineralogi dan geokimia berbagai batuan dan fluida kawah ijen, juga setting geologi dan tektonik gunung berapi ini telah dipelajari sejak tahun 1920.

Fluida hidrotermal yang muncul dari beberapa mata air di sisi barat Kawah Ijen (1995 m di atas permukaan laut) berasal dari hulu sungai Banyu Pahit. Sebelumnya diasumsikan kalau hulu Banyu Pahit adalah penyerap dari danau kawah hiper-asam, yang muncul dari seperangkat mata air lainnya (2090 m dapl). Baik penyerapan danau kawah dan fluida hidrotermal ternyata juga berasal dari seperangkat mata air lain (2075 m dapl). Rasio anion SO4/Cl dan SO4/F digunakan dalam model campuran untuk menentukan perbandingan fluida magma dari tiap perangkat mata air. Model pencampuran menggunakan anion, Cl, SO4, dan F, digunakan untuk menentukan proporsi air tanah meteorik dan fluida magma di tiap mata air. Debit mata air paling hulu, yang dibawa terutama dari peresapan danau kawah, adalah 1,2 liter per detik dan menginfiltrasi endapan sekitar 100 meter dari lokasi pembuangan. Mata air pada ketinggian 2075 meter melepaskan 0.9 liter per detik dan juga sepenuhnya menginfiltrasi endapan. Debit bagian paling bawah, terdiri terutama dari fluida hidrotermal, adalah 15.4 liter per detik dan menjadi sumber utama pencemaran di sekitarnya; sungai Banyu Pahit mengalir ~45 km sebelum bermuara ke selat Madura (yang terhubung dengan Laut Jawa), dan digunakan untuk irigasi pertanian. Fluks Al, Be, Cd, Cl, Cr, F, Fe, Pb, Mn, Na, dan SO4 melewati sungai Banyu Pahit melebihi batas kesehatan WHO dan dapat memberikan resiko kesehatan pada masyarakat yang hidup di lingkungan sekitarnya dan mutu produksi pertanian karena menggunakan air beracun untuk irigasi.

Sumber

Palmer, S. (2009). Hydrogeochemistry of the upper Banyu Pahit River valley, Kawah Ijen Volcano, Indonesia. Master’s Thesis. McGill University.

Referensi lanjut

  1. Deely JM, Sheppard DS. Whangaehu River, New Zealand: geochemistry of a river discharging from an active crater lake. App Geochem 1996; 11(3): 447-460.
  2. Delmelle, P. and Bernard, A., 2000. Downstream composition changes of acidic volcanic waters discharged into the Banyupahit stream, Ijen caldera, Indonesia. Journal of Volcanology and Geothermal Research 97, 55-75.
  3. Delmelle, P., Bernard, A., Kusakabe, M., Fischer, T.P., Takano, B., 2000. Geochemistry of the magmatic-hydrothermal system of Kawah Ijen volcano, East Java, Indonesia. Journal of Volcanology and Geothermal Research 97, 31-53.
  4. Giggenbach, W.F. 1974. The chemistry of crater lake, Mt. Ruapehu (New Zealand) during and after the 1971 actice period. New Zealand Journal of Science 17, 33-45.
  5. Heikens, A., Sumarti, S., van Bergen, M., Widianarko, B., Fokkert, L., van Leeuwen, K., and Seinen, W., 2005a. The impact of the hyperacid Ijen Crater Lake: risks of excess fluoride to human health. Science of the Total Environment 346, 56-69.
  6. Heikens, A., Widianarko, B., Dewi, I. C., De Boer, J. L. M., Seinen, W., and van Leeuwen, K., 2005b. The impact of the hyperacid Ijen Crater Lake. Part I: concentrations of elements in crops and soil. Environmental Geochemistry and Health 27, 409-418.
  7. Heikens, A., Widianarko, B., Dewi, I. C., de Boer, J. L. M., Seinen, W., and van Leeuwen, K., 2005c. The impact of the hyperacid Ijen Crater Lake. Part II: a total diet study. Environmental Geochemistry and Health 27, 475-483
  8. Kemmerling, G.L.L., 1921. Het Idjen Hoogland. De geologie en  geomorphologie van den Idjen. Koninklijke Natuurkundige Vereeniging Monografie II, G. Kolff & Co. Weltevreden-Batavia, 134 pp.
  9. Lohr, A. J., Bogaard, T. A., Heikens, A., Hendriks, M. R., Sumarti, S., Van Bergen, M. J., Van Gestel, C. A. M., Van Straalen, N. M., Vroon, P. Z., and Widianarko, B., 2005. Natural pollution caused by the extremely acidic crater Lake Kawah Ijen, East Java, Indonesia. Environmental Science and Pollution Research 12, 89-95.
  10. Parnell, R. A., and Burke, K. 1990. Impacts of acid emissions from Nevado del Ruiz volcano, Colombia, on selected terrestrial and aquatic ecosystems. Journal of Volcanology and Geothermal Research 42, 69-88
  11. Pringle, C. M., Rowe, G. L., Triska, F. J., Fernandez, J. F., and West, J. 1993. Landscape patterns in the chemistry of geothermally-impacted streams draining Costa Rica’s Atlantic slope: Geothermal processes and ecological response. Limnology and Oceanography 38(4), 753-774.
  12. Rowe GL Jr, Ohsawa S, Takano B, Brantley SL, Fernandez JF, Barquero J. Using crater lake chemistry to predict volcanic activity at Poas Volcano, Costa Rica. B Volcanol 1992; 54: 494–503
  13. Salomons, W. 1995. Environmental impact of metals from mining activities: Processes, predictions, prevention. Journal of Geochemical Exploration 52, 5-23.
  14. Sanford, W. E., L. E. Konikow, G. L. Rowe, Jr., and S. L. Brantley. 1995. Groundwater transport of crater-lake brine at Poás volcano, Costa Rica. Journal of Volcanology and Geothermal Research 64(3-4), 269-293.
  15. Sriwana, T., van Bergen, M. J., Sumarti, S., de Hoog, J. C. M., van Os, B. J. H., Wahyuningsih, R., and Dam, M. A. C., 1998. Volcanogenic pollution by acid water discharges along Ciwidey River, West Java (Indonesia). Journal of Geochemical Exploration 62, 161-182
  16. Takano, B., Suzuki, K., Sugimori, K., Ohba, T., Fazlullin, S.M., Bernard, A., Sumarti, S., Sukhyar, R., Hirabayashi, M., 2004. Bathymetric and geochemical investigation of Kawah Ijen crater lake, east Java, Indonesia. Journal of Volcanology and Geothermal Research 135, 299-329.
  17. van Hinsberg, V., Berlo, K., Sumarti, S., van Bergen, M., Williams-Jones, A.E., 2009. Extreme alteration by hyperacidic brines at Kawah Ijen volcano, East Java, Indonesia: II. Metasomatic imprint and element fluxes. Submitted to: Journal of Volcanology and Geothermal Research
  18. van Rotterdam-Los, A. M. D., Heikens, A., Vriend, S. P., van Bergen, M. J., and van Gaans, R. F. M. 2008. Impact of acid effluent from Kawah Ijen crater lake on irrigated agricultural soils: Soil chemical processes and plant uptake. Journal of Volcanology and Geothermal Research 178(2), 287-296
Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.