Diposting Jumat, 1 Juli 2011 jam 6:43 am oleh Gun HS

Studi Terbaru di Bengawan Solo: Manusia Modern dan Homo Erectus Tak Pernah Berdampingan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 1 Juli 2011 -


Manusia modern tak pernah hidup bersama dengan Homo erectus berdasarkan penggalian terbaru di Indonesia dan analisis penanggalan. Penelitian yang dilaporkan dalam jurnal PLoS ONE ini menawarkan wawasan baru tentang sifat evolusi manusia, menunjukkan peran yang berbeda pada Homo erectus daripada yang telah diperkirakan sebelumnya.

Penelitian ini dikerjakan oleh Proyek Solo River Terrace (SoRT), sebuah kelompok ilmuwan internasional di bawah arahan antropolog Etty Indriati dari Universitas Gadjah Mada di Indonesia dan Susan Anton dari Universitas New York.

Homo erectus secara luas dianggap sebagai nenek moyang manusia – menyerupai manusia modern dalam banyak hal, kecuali otaknya yang lebih kecil dan tengkoraknya yang berbentuk berbeda – dan merupakan yang pertama dari nenek moyang kita yang bermigrasi keluar dari Afrika, sekitar 1,8 juta tahun yang lalu. Homo erectus punah di Afrika dan sebagian besar Asia sekitar 500.000 tahun yang lalu, namun tampaknya bertahan di Indonesia sampai sekitar 35.000 hingga 50.000 tahun yang lalu di lokasi Ngandong di Sungai Bengawan Solo. Para anggota akhir Homo erectus berbagi lingkungan dengan anggota awal spesies kita, Homo sapiens, yang tiba di Indonesia sekitar 40.000 tahun yang lalu.

Keberadaan dua spesies secara bersamaan ini memiliki implikasi penting bagi model tentang asal-usul manusia modern. Salah satu model, Out of Africa atau model pengganti, memprediksi keberadaan yang tumpang tindih tersebut. Namun, model multiregional lainnya, yang menyatakan bahwa manusia modern asalnya sebagai hasil kontribusi genetik dari populasi hominin di seluruh Dunia Lama (Afrika, Asia, Eropa), berpendapat lain. Homo erectus akhir yang bertahan di Indonesia telah digunakan sebagai satu garis dukungan bagi model Out of Afrika.

Namun, berdasarkan temuan dari Proyek SoRT menunjukkan bahwa masa Homo erectus di wilayah tersebut berakhir sebelum manusia modern tiba di sana. Analisisnya menunjukkan bahwa Homo erectus telah menghilang setidaknya 143.000 tahun yang lalu – dan mungkin lebih dari 550.000 tahun yang lalu. Artinya, kepunahan Homo erectus terjadi jauh sebelum kedatangan Homo sapiens.

“Jadi, Homo erectus kemungkinan tidak berbagi habitat dengan manusia modern,” kata Indriati.

Investigasi Proyek SoRT dilakukan di Ngandong dan Jigar, dua situs di “teras 20 meter” Sungai Bengawan Solo, Indonesia. Sedimen-sendimen di teras terbentuk akibat banjir sungai purba, namun saat ini terletak di atas Sungai Bengawan Solo karena sungai telah memotongnya ke bawah seiring waktu. Teras telah menjadi sumber yang kaya untuk penemuan fosil Homo erectus dan fosil hewan lainnya sejak tahun 1930-an.

Di tahun 1996, sebuah tim peneliti yang melakukan penanggalan karbon pada situs fosil-fosil hominin ini memperoleh hasil 35.000-50.000 tahun. Analisisnya menggunakan teknik penanggalan gigi, dan dengan demikian menunjukkan pula umur beberapa hewan yang ditemukan di lokasi tersebut. Namun, peneliti lain berpendapat bahwa situs itu meliputi campuran hominin tua dan hewan muda, memunculkan pertanyaan soal usia hominin yang sesungguhnya.

Tujuan dari tim SoRT, termasuk anggota kelompok 1996 beserta kritikusnya, adalah untuk memahami bagaimana situs di teras itu terbentuk, adakah bukti pencampuran yang lebih tua dan lebih muda, dan seberapa tua situs tersebut.

Sejak tahun 2004, para anggota tim riset telah melakukan analisis sisa-sisa hewan, survei geologi, dan penggalian arkeologi. Hasil dari semua itu tidak memberikan bukti adanya pencampuran yang lebih tua dan lebih muda. Semua bukti menunjukkan situs itu hanya mewakili jangka waktu yang singkat.

“Kerusakan pasca kematian pada fosil-fosil hewan adalah konsisten dan menunjukkan pergerakan fosil yang sangat sedikit oleh air,” jelas Briana Pobiner, arkeolog dalam proyek dan seorang paleoantropolog di Institusi Smithsonian Museum Nasional Sejarah Alam. “Artinya, tidak mungkin yang sangat tua bercampur ke yang lebih muda.”

Selain itu, petunjuk dari sedimen-sendimen yang terekspos selama penggalian menunjukkan pada para geoarkeolog dalam proyek – Rhonda Quinn, Chris Lepre, dan Craig Feibel, dari Seton Hall, Columbia, dan universitas Rutgers – bahwa pengendapan terjadi selama periode waktu yang singkat. Gigi yang ditemukan dalam penggalian lapisan yang berbeda di Jigar juga semuanya hampir identik dalam hal usia, mendukung kesimpulan bahwa pencampuran pada periode-periode geologi tersebut tidak pernah terjadi.

“Berapapun usia geologi situs tersebut, hominin, hewan, dan sedimen di Ngandong dan di Jigar semuanya berusia sama,” kata pemimpin pendamping proyek, Susan Anton.

Tim riset menerapkan dua teknik penanggalan yang berbeda pada situs itu. Seperti pekerjaan sebelumnya, mereka menggunakan teknik U-seri dan Resonansi Spin Elektron, atau ESR, yang diterapkan pada fosil gigi. Mereka juga menggunakan teknik yang disebut penanggalan argon-argon, yang diterapkan pada mineral vulkanik dalam sedimen. Semua tiga metode tersebut menggunakan peluruhan radioaktif dengan cara yang berbeda untuk menilai usia; dan semuanya menghasilkan hasil yang kuat serta metodologis yang valid, tapi usia-usia yang dihasilkan tidak konsisten dengan satu sama lain.

Argon-argon menghasilkan hasil yang sangat tepat untuk usia sekitar 550.000 tahun pada pumices – produk vulkanik berpori yang sangat ringan yang ditemukan di Ngandong dan Jigar.

“Pumices sulit untuk pembentukan ulang jika tanpa dipecahkan, dan usia-usianya cukup baik, jadi ini menunjukkan bahwa hominin dan fauna sama dengan usianya,” kata Carl Swisher, seorang geoarkeolog proyek dari Universitas Rutgers.

Sebaliknya, hasil usia yang tertua dari U-seri dan ESR – yang dikerjakan di Universitas Nasional Australia oleh Rainer Grün – hanya 143.000 tahun.

Perbedaan usia ini artinya bahwa salah satu sistem menunjukkan usia untuk sesuatu yang lain selain pembentukan situs dan fosil di dalamnya. Salah satu kemungkinan adalah bahwa pumices, pada kenyataannya, terbentuk ulang, atau tercampur, dari batuan yang lebih tua. Kemungkinan lain adalah bahwa ESR dan U-seri melakukan penanggalan sebuah peristiwa yang terjadi setelah situs terbentuk, mungkin suatu perubahan aliran bawah air bergerak melalui situs.

Bagaimanapun juga, usia-usia ini memberikan maksimum dan minimum pada situs – dan kedua usia ini lebih tua dari fosil Homo sapiens awal di Indonesia. Dengan demikian, para penulis studi menyimpulkan bahwa gagasan tentang populasi Homo erectus bertahan hidup sampai masa akhir di Indonesia dan berpotensi berinteraksi dengan Homo sapiens tampaknya tidak terbukti.

Penulis pendamping lainnya dalam studi ini adalah Rusyad Suriyanto dan Agus Hascaryo dari Universitas Gadjah Mada di Indonesia dan Wendy Lee dan Maxime Aubert dari Universitas Nasional Australia.

Kredit: Universitas New York
Jurnal: Etty Indriati, Carl C. Swisher, Christopher Lepre, Rhonda L. Quinn, Rusyad A. Suriyanto, Agus T. Hascaryo, Rainer Grün, Craig S. Feibel, Briana L. Pobiner, Maxime Aubert, Wendy Lees, Susan C. Antón. The Age of the 20 Meter Solo River Terrace, Java, Indonesia and the Survival of Homo erectus in Asia. PLoS ONE, 2011; 6 (6): e21562 DOI: 10.1371/journal.pone.0021562

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Fans Facebook

Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.