Diposting Kamis, 30 Juni 2011 jam 5:49 pm oleh Evy Siscawati

Mengasuh setelah kematian seorang anak sulit dilakukan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 30 Juni 2011 -


 

Dari saat anak meninggal, orang tua berhadapan dengan dua ekstrim antara kehilangan dan kehidupan – sedihnya kehilangan seorang anak dan tuntutan harian dari anak yang selamat, kata Fleming, salah seorang penulis dari sebuah buku yang baru diterbitkan, Parenting After the Death of a Child: A Practitioner’s Guide.

Fleming, seorang profesor psikologi di Fakultas kesehatan Universitas York, dan penulis kedua Jennifer Buckle, sekarang profesor di Universitas Memorial, melakukan penelitian untuk buku tersebut ketika Buckle menjadi mahasiswa pasca sarjana di York. Penelitian mereka berdasarkan wawancara mendalam dengan orang tua yang kehilangan anaknya dan memiliki satu atau lebih anak yang selamat.

Mereka menemukan kalau orang tua tidak pulih dari kehilangan. Justru, orang tua yang berduka berusaha meregenerasi – mengambil potongan-potongan memori dengan putus asa, dan meregenerasi ulang naluri diri dan naluri keluarga.

“Ayah cenderung menjadi peratap instrumental. Mereka kembali kerja, bekerja untuk keluarganya, dan mereka cenderung mengatasi rasa takut menyebabkan anaknya memasuki dunia yang tidak aman, lebih cepat dari ibu,” kata Fleming. “Ibu lebih cenderung menjadi peratap intuitif, lebih berfokus pada perasaan mendalam, dan mereka memiliki rasa takut yang amat sangat bila satu anaknya telah mati, yang lain dapat segera mati pula. Jadi, sering kali, ibu harus diingatkan untuk segera melakukan pengasuhan pada anak yang selamat.”

Parenting After the Death of a Child mengisi celah penelitian mengenai pengaruh kematian anak, karena ia berfokus bukan hanya pada duka yang dialami, namun pada tindakan menyeimbangkan antara duka dan pengasuhan di saat yang sama. Sebagai seorang psikolog klinis, Flaming mengatakan ia berharap panduan ini akan mendidik para konselor mengenai pentingnya melihat implikasi psikologis dalam menyesali kehilangan seorang anak – sebagai contoh, depresi, gangguan anxiety umum, dan gangguan stress pasca trauma. Terlalu sering, orang tua tidak dibekali atas reaksi ini, dan mereka dapat mengalami trauma oleh bayang-bayang kematian atau penyakit anaknya, dan melepaskannya, kata beliau.

Sumber berita:

York University.

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.