Diposting Minggu, 26 Juni 2011 jam 1:12 pm oleh Evy Siscawati

Kobaran Surya

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 26 Juni 2011 -


 

Kobaran surya digolongkan sebagai kelas A, B, C, M, atau X menurut fluks puncak (dalam watts per meter persegi, W/m2) dari sinar X 100 hingga 800 pikometer dekat Bumi, sebagaimana diukur oleh pesawat antariksa GOES. Setiap kelas fluks puncak sepuluh kali lebih besar dari sebelumnya, dengan kobaran kelas X memiliki fluks puncak dalam ordo 10?4 W/m2. Dalam suatu kelas, ada skala linier dari 1 hingga 9, sehingga kobaran X2 dua kali lebih kuat dari kobaran X1, dan empat kali lebih kuat dari kobaran M5. Kobaran kelas M dan X yang lebih kuat sering dihubungkan dengan berbagai efek di lingkungan antariksa dekat Bumi. Klasifikasi logaritmik yang diperluas ini perlu karena energi total kobaran mencakup banyak ordo kekuatan, mengikuti distribusi yang seragam dengan frekuensi kobaran kurang lebih sebanding dengan kebalikan energi total. Kobaran bintang dan gempa bumi memiliki distribusi hukum pangkat yang sama.

Klasifikasi kobaran lainnya berdasarkan pada pengamatan spektrum hidrogen alpha. Skema menggunakan intensitas dan permukaan pemancar. Klasifikasi intensitasnya kualitatif, dengan menyebutkan kobaran sebagai : kabur (f), normal (n), atau cemerlang (b). Permukaan pemancar diukur dalam seperjuta hemisfer dan dijelaskan dibawah (luas permukaan hemisfer total AH=6.2 1012 km2.)

KlasifikasiLuas koreksi
[perjuta hemisfer]
S< 100
1100 – 250
2250 – 600
3600 – 1200
4> 1200

Sebuah kobaran digolongkan dengan mengambil S atau sebuah angka yang mewakili ukurannya dan sebuah huruf yang mewakili intensitas puncaknya, sebagai contoh: Sn berarti subkobaran normal.

Kobaran matahari sangat mempengaruhi cuaca antariksa lokal di sekitar Bumi. Ia dapat menghasilkan aliran partikel energi tinggi dalam angin surya, yang disebut peristiwa proton surya, atau pelontaran massa korona (CME). Partikel ini dapat menghantam magnetosfer Bumi dan menghasilkan bahaya radiasi pada pesawat antariksa, astronot, dan kosmonot.

Kobaran paling kuat yang pernah diamati juga merupakan kobaran pertama yang pernah diamati, terjadi tanggal 1 September 1859, dan dilaporkan oleh astronom Inggris, Richard Carrington, dan secara independen oleh pengamat independen bernama Richard Hodgson. Peristiwa ini dinamakan badai surya 1859, atau peristiwa Carrington. Kobarannya terlihat oleh mata telanjang (dalam cahaya putih), dan menghasilkan aurora mengagumkan hingga ke lintang tropis seperti Cuba atau Hawaii, serta menyebabkan sistem telegrafi terbakar. Kobaran ini meninggalkan jejaknya di es Greenland dalam bentuk nitrat dan berilium-10, yang memungkinkan kekuatannya diukur saat ini. Cliver dan Salvgaard (2004) merekonstruksi efek dari kobaran ini dan membandingkannya dengan peristiwa lain dalam 150 tahun terakhir. Dengan kata lain: Sementara peristiwa 1859 memiliki tandingan dekat atau superior dalam setiap kategori aktivitas cuaca antariksa, ia adalah satu-satunya peristiwa yang didokumentasikan dalam 150 tahun terakhir yang muncul pada puncak semua daftar.

Sumber

Wikipedia. Solar Flare.

Referensi lanjut

  1. Cliver & Salvgaard (2004)
  2. http://science.nasa.gov/science-news/science-at-nasa/2008/06may_carringtonflare/
  3. Kopp, G.; Lawrence, G and Rottman, G. (2005). “The Total Irradiance Monitor (TIM): Science Results”. Solar Physics 20 (1–2): 129–139.
  4. Tamrazyan, Gurgen P. (1968). “Principal Regularities in the Distribution of Major Earthquakes Relative to Solar and Lunar Tides and Other Cosmic Forces”. ICARUS (Elsevier) 9: pp. 574–592.
  5. Tandberg-Hanssen, Einar; Emslie, A. Gordon (1988). “The physics of solar flares”.
Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.