Diposting Rabu, 22 Juni 2011 jam 4:37 pm oleh Evy Siscawati

Manusia Modern

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 22 Juni 2011 -


 

Penemuan kerangka manusia yang sangat kecil di pulau Flores, Indonesia, menunjukkan kalau spesies manusia lainnya dapat hidup cukup awal bersama Homo sapiens, walaupun penamaan mereka sebagai Homo floresiensis memunculkan pertanyaan mengenai definisi spesies dan legitimasi penamaan tersebut. Masyarakat kerdil ini, yang hidup paling baru sekitar 13 ribu tahun lalu, tingginya hanya satu meter ketika dewasa dan memiliki tampilan anatomi berbeda dengan manusia cebol, yang merupakan anggota H. sapiens walaupun ukurannya kecil.

Dalam 35 ribu tahun terakhir manusia menjadi spesies yang sepenuhnya kosmopolitan yang menyebar di muka Bumi, dengan hanya sedikit perbedaan genetik antar ras. Evolusi fisik pada manusia tidak berhenti, namun tidak lebih penting dari evolusi budaya, yang mengalami perubahan besar dalam waktu singkat.

Manusia sapiens modern pertama disebut sebagai Cro-Magnon, hidup di gua-gua di Perancis selatan dimana kerangka mereka ditemukan. Dalam periode Paleolitikum Atas, dari sekitar 35 ribu hingga 8 ribu BC, mereka menyusun landasan budaya kita. Lewat metode yang semakin baik, mereka belajar membentuk batu lalu tulang menjadi alat yang baik. Kita menemukan mata tombak dan mata pancing seperti yang dibuat pemburu-pengumpul modern, dan jarum yang menunjukkan kalau mereka pasti membuat pakaian dari kulit hewan. Mereka mungkin memiliki kecerdasan dan kemanusiaan yang sama dengan kita. Mereka dengan hati-hati merawat anggota mereka yang wafat, yang kadang dilumuri warna merah dan dikubur dengan berbagai artefak – bukti adanya pemikiran mengenai hari akhir. Mereka juga mengekspresikan diri mereka lewat lukisan dan pahatan. Sebagian pahatannya mampu sebanding dengan realisme dan rasa seni kita; sebagian lagi jelas merupakan pembesar-besaran dari wanita hamil yang mungkin digambarkan dalam ritual kesuburan. (Kesuburan adalah hal penting bagi orang yang terus diancam oleh cedera dan kematian; laju kematian bayi dan anak-anak mereka pasti besar, dan tidak lebih dari 10 persen saja yang hidup mencapai usia 40 tahun.) Lukisan dari setidaknya 12 ribu tahun lalu di beberapa gua di Perancis dan Spanyol masih memberikan inspirasi dan kekaguman bagi kita. Orang-orang ini telah belajar membuat cat dari tanah liat dan lemak hewan yang diwarnai dengan arang dan oksida logam; pemandangan yang mereka lukis menekankan pada hewan yang mereka buru, mungkin untuk tujuan ritual dan sihir untuk memastikan pemburuan yang berhasil atau kembalinya migrasi hewan, atau untuk menunjukkan kesuksesan di masa lalu.

Bersamaan dengan Cro-Magnons, kebudayaan pemburu-pengumpul yang sama di Paleolitikum Atas tersebar di Asia dan Afrika. Namun sekitar 10 ribu tahun lalu, banyak diantaranya memulai pemukiman dalam masyarakat permanen dimana makanan melimpah. Pada masa ini, ada pemanasan global di Bumi, mundurnya glasier, dan transisi ke kondisi neotermal dimana sekarang kita hidup.

Masyarakat Eropa Utara, misalnya, telah lama sangat tergantung pada kerumunan rusa, namun kondisi panas membuat kerumunan ini harus beradaptasi dengan makanan tanaman baru dan perluasan hutan ke dataran Eropa. Ini juga merupakan bukti yang baik mengenai periode yang sangat kering di masa ini. Faktor-faktor ini memaksa masyarakat menemukan sumber makanan baru. Beberapa suku tinggal di tepi danau atau laut dimana mereka menciptakan kebudayaan transisi, yang disebut Mesolitikum, dengan industri yang efisien untuk menangkap ikan dan kerang-kerangan. Sementara itu, masyarakat Eropa terus bertahan dengan berburu, memancing, dan mengumpul, yang lain di Timur telah menemukan sesuatu yang kelak akan mengubah wajah planet ini: pertanian. Dan pada titik ini, kita meninggalkan dunia antropologi dan evolusi, masuk ke dunia sejarah manusia.

Sumber

 

Guttman, B. 2005. Evolution: A Beginners Guide.Oxford: One World.

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.