Diposting Senin, 20 Juni 2011 jam 2:43 pm oleh Evy Siscawati

Misteri Galaksi Ramping

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 20 Juni 2011 -


 

Tahun 2004, Kormendy bekerja sama denan Ralf Bender dari Lembaga Fisika Luar Bumi Max Palnck di Munich, Jerman, mulai memeriksa secara detail citra galaksi spiral dekat yang besar. Citra ini diambil oleh teleskop antariksa Hubble dibantu dengan pengamatan spektrum dari Teleskop Hobby-Eberly Universitas Texas. Hasilnya mengejutkan. Dari 19 galaksi spiral dekat besar yang diamati, setidaknya 11 diantaranya tidak punya tonjolan, menunjukkan kalau penyatuan besar tidak terjadi di masa lalu. Diantaranya mirip dengan galaksi Pinwheel dan Bima Sakti.

Ini bukan satu-satunya hal aneh tentang galaksi-galaksi ini. Dua puluh tahun lalu, Kormandy dan kawan-kawan mengajukan kalau lubang hitam supermasif berperan besar dalam evolusi galaksi. Kita menduga kalau lubang hitam ini ada di jantung sebagian besar galaksi karena materi di dekat inti terlihat mengspiral mengelilingi penumpukan massa besar yang padat. Tahun 1990an, Kormendy dkk menemukan kalau semakin besar gembungan semakin besar pula lubang hitamnya, menunjukkan kalau keduanya berkembang serentak. Tapi pada galaksi-galaksi spiral dekat besar khusus yang disebut galaksi ramping ini, tidak ada hubungan demikian. Faktanya, para ilmuan menduga kalau galaksi-galaksi ini punya lubang hitam yang sangat kecil di intinya, padahal ukuran galaksinya sendiri besar.

Sebagian ilmuan mengajukan kalau masalah ini muncul karena persekitaran Bima Sakti merupakan daerah unik di alam semesta. Para ilmuan menghitung hanya kurang dari 1% daerah di alam semesta yang memiliki konfigurasi mirip persekitaran Bima Sakti. Masalah ini terpecahkan bila beberapa galaksi dapat berevolusi ke bentuk finalnya lebih cepat. Galaksi yang terbentuk cepat ini akan menyedot daerah sekitarnya sehingga mengeringkan materi. Dengan lebih sedikit materi di dalamnya untuk menarik bersama secara gravitasi, saat alam semesta mengembang pasca Big Bang, daerah kosong ini mengembang lebih cepat dan lebih kosong dan akhirnya menciptakan kekosongan lokal dengan galaksi-galaksi yang kita lihat sekarang di sekitar Bima Sakti.

Itu kembali pada peran materi gelap dalam menyusun galaksi. Konsentrasi materi gelap terbesar berada di galaksi terterang dan kluster-kluster galaksi. Namun bila materi gelap memiliki sifat berbeda, itu dapat mengubah secara dramatis bagaimana galaksi terbentuk.

Sumber

New Scientist, 11 Juni 2011.

 

Referensi lanjut

John Kormendy, Niv Drory, Ralf Bender and Mark E. Cornell. Bulgeless Giant Galaxies Challenge Our Picture of Galaxy Formation by Hierarchical Clustering. The Astrophysical Journal, vol 723, p 54

P. J. E. Peebles & Adi Nusser. Nearby galaxies as pointers to a better theory of cosmic evolution. Nature, vol 465, p565

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.