Diposting Senin, 13 Juni 2011 jam 11:49 am oleh Evy Siscawati

Rekonstruksi Iklim 3 Juta Tahun Lalu membantu Ilmuan Memahami Perubahan Iklim

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 13 Juni 2011 -


 

Saat penguapan, isotop yang lebih ringan – oksigen 16 – terbuang dari air, menyisakan air laut yang kaya oksigen 18. Air yang menguap menyumbangkan salju yang menumpuk di tudung-tudung es. Pada periode dingin, tudung es ini tumbuh, menjebak isotop ringan, dan permukaan laut turun, yang menyisakan air laut yang diperkaya isotop yang lebih berat.

Menurut hasil pendataan isotop ini, sekitar 3 juta tahun lalu atau masa Pliosen tengah, adalah periode terbaru dimana suhu global bertahan pada level yang kita akan lihat pada akhir abad ini. Konsentrasi karbon dioksida atmosfer pada masa Pliosen hanya sedikit lebih tinggi daripada sekarang. Walau begitu, suhu global saat Pliosen tengah rata-rata 2 hingga 3 derajat lebih hangat dari sekarang, dan permukaan laut rata-rata 25 meter lebih tinggi. Paradoks tampak ini – planet yang lebih hangat dibandingkan level karbon dioksida – membuat bingung para peneliti yang bertanya apakah peningkatan kecil dalam karbon dioksida dapat berpengaruh signifikan dalam merubah iklim kita.

Sejak dimulai tahun 1989, proyek Penelitian, Penafsiran, dan Pemetaan Sinoptik Pliosen (Pliocene Research, Interpretation and Synoptic Mapping – PRISM) dari USGS telah mencoba merekonstruksi iklim zaman Pliosen. PRISM sejauh ini telah merekonstruksi iklim Pliosen tengah dengan data dari 86 lokasi lautan dan 202 daratan. Iklim Pliosen yang diperoleh ternyata sangat berbeda dari iklim modern di beberapa daerah dan sangat sama di tempat lain. Suhu di dekat khatulistiwa pada umumnya sangat mirip dengan sekarang, namun suhu di kutub jauh lebih hangat. Menjauh dari khatulistiwa, perbedaan suhu menjadi lebih ekstrim.

Para ilmuan mengumpulkan data

Hasil rekonstruksi PRISM terus menerus dibandingkan dengan berbagai model, baik untuk memperbaiki rekonstruksi maupun untuk memperbaiki model. Membandingkan data dengan hasil model mendasar untuk meningkatkan keyakinan simulasi model iklim masa depan, namun perbandingan ini masih pada tahap bayi. Aspek halus perbandingan ini memerlukan perhatian lebih lanjut. Kita masih membahas beberapa aspek dasar antar model dan rekonstruksi, seperti bagaimana mendefinisikan “modern” dan bagaimana menerapkan siklus suhu musiman. Sifat berbasis titik data dari rekonstruksi ini juga masih bermasalah. Baik inti laut dan daratan tersebar tidak seragam di bumi, menumpuk di Samudera Atlantik utara dan Eropa barat. Perkiraan suhu harusnya di ekstrapolasi diantara titik-titik. Ruang terbesar yang bebas data adalah bagian tengah Pasifik Selatan.

Dibandingkan dengan sekarang, periode hangat Pliosen dicirikan oleh keadaan iklim stabil yang sangat berbeda dari keadaan ketidak setimbangan iklim sekarang. Konsentrasi karbon dioksida misalnya, relatif stabil di masa Pliosen, dan iklim telah menyetelnya. Pelepasan karbon dioksida bersifat alami dan bertahap, dari proses-proses seperti emisi vulkanis dan peluruhan materi tanaman dan hewan. Hal ini sangat berbeda dari sekarang, dimana karbon dioksida dilepaskan jauh lebih cepat lewat penggunaan bahan bakar fosil dan penggundulan hutan. Sistem iklim masa kini masih menyetel dan perlu waktu sangat lama untuk menjadi seimbang.

Sumber

Robinson, M.M. 2011. Pliocene Climate Lessons. American Scientist, June 2011.

Referensi jurnal

  1. Dowsett, H. J., et al. 2011. Sea surface temperatures of the Mid-Piacenzian Warm Period: A comparison of PRISM3 and HadCM3. Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology, in press.
  2. Robinson, M. M., et al. 2011. Bathymetric controls on Pliocene Arctic sea-surface temperature and deepwater production. Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology, in press.
Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.