Diposting Senin, 13 Juni 2011 jam 11:54 am oleh Evy Siscawati

Porphyrin, Revolusi Amerika, dan Drakula

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 13 Juni 2011 -


 

Revolusi Amerika

Raja George III, penguasa Inggris dari tahun 1760 hingga wafatnya tahun 1820, adalah salah satu penguasa terlama memerintah di Inggris. Di bawah kekuasaannya, kekaisaran Inggris mendominasi ekonomi dengan menguasai perdagangan internasional dan supremasi kelautan. Menariknya, akibat penyakit aneh yang dideritanya, Raja George III kadang membuat keputusan yang tidak rasional yang membawa pada Perang Revolusi Amerika dan lenyapnya koloni-koloninya di Amerika.

Raja George

Perang kemerdekaan Amerika pada dasarnya berakhir dengan menyerahnya Lord Cornwallis di Yorktown tanggal 19 Oktober 1781, diikuti dengan pelepasan klaim Inggris pada Amerika Serikat dengan perjanjian Paris tahun 1783.

Drakula

Vlad III, lahir tahun 1431, adalah Pangeran dari Wallachia, sebuah wilayah di Rumania, pada pertengahan hingga akhir abad ke-15. Ia adalah keturunan dari Mircea yang agung, raja Wallachia dari 1386 hingga 1418. Vlad adalah ksatria dari Ordo Naga, sebuah ordo religius dan ksatria yang diciptakan di Hungaria dengan tujuan melindungi minat-minat kekaisaran Roma suci, khususnya melawan kekaisaran usmaniyah. Vlad adalah penguasa otoriter yang membangun organisasi militer yang kuat yang memungkinkan meningkatnya keamanan dan perdagangan dengan negara tetangga.

 

Pada masa kecil, Vlad pernah ditangkap dan disiksa oleh kekaisaran Usmaniyah. Akibatnya ia sangat kejam terhadap pasukan Arab-Turki yang menginvasi. Tahun 1462, ketika Sultan Mehmed sang Penakluk mengejar Vlad, ia menemukan 20 ribu mayat tawanan Turki. Secara keseluruhan, Vlad dikatakan telah membunuh sebanyak 100 ribu orang Turki.

 

Sifatnya yang haus darah membuat dirinya menjadi model tokoh fiksi bernama Drakula. Mahluk abadi yang memangsa darah mahluk hidup juga sering ditemukan dalam banyak kebudayaan lain dari masa yang lebih tua. Istilah vampir berkembang pada awal abad ke-18 di Eropa. Bram Stoker, seorang penulis Irlandia, mendengar kisah Vlad pertama kali tahun 1890 saat bertemu profesor dari Hungaria, Ármin Vámbéry. Stoker menjadi terkesan dengan kepribadian aneh sang pangeran dan mengembangkan karakter fiksinya dari paparan kekejaman Vlad. Ia mengerjakan novelnya beberapa tahun dan menerbitkan Dracula bulan Mei 1897. Pilihan nama Dracula sendiri diambil dari hidup pangeran Wallachia. Vlad dan ayahnya merupakan Ksatria dari Ordo Naga. Dalam bahasa Rumania, Naga diterjemahkan sebagai Dracul, dan keluarga istana Rumania memanggil ayah Vlad dengan panggilan Dracul. Dracula sendiri berarti anak dari Dracul, dan Vlad menggunakan ini sebagai nama aliasnya.

Porphyrin

Raja George III dan Vlad III keduanya memiliki perilaku aneh yang kadang tidak rasional. Keduanya memiliki emosi yang tidak stabil dan ciri fisik tertentu yang berbeda dari manusia pada umumnya. Para ilmuan mencoba mengetahui penyakit apa yang mereka berdua alami, dan jawabannya adalah gangguan jalur porphyrin di tubuh akibat mutasi genetik.

Jalur porphyrin adalah jalur perakitan bagi sebagian besar pigmen paling melimpah di alam. Ia ada pada tubuh hewan (termasuk manusia) dan juga tumbuhan. Molekul porphyrin berbentuk cincin yang mengikat array ion logam, dengan tiap kombinasinya berasosiasi dengan berbagai fungsi biologis. Klorofil mengikat magnesium untuk berperan penting dalam fotosintesis. Heme mengikat besi untuk mengkoordinasi transpor oksigen dan karbon dioksida, mendukung rantai transpor elektron yang dibutuhkan untuk respirasi sel dan berperan pula dalam aktivitas katalitis banyak jenis enzim. Porphyrin mengikat nikel untuk membentuk koenzim F430, yang berperan kritis pada bakteri yang memetabolisme metana. Vitamin B12 terbentuk dari pengikatan kobalt pada salah satu turunan porphyrin; ketiadaan vitamin mengakibatkan anemia dan kerusakan fungsi otak dan sistem syaraf. Bersama-sama, pigmen-pigmen turunan porphyrin ini dapat disebut “warna kehidupan” karena cincin-cincin ini perlu untuk mempertahankan aktivitas kunci pada hampir semua organisme.

Senyawa Porphyrin

Raja George III mengalami mutasi yang membuat fungsi porphyrin di tubuhnya rusak. Akibatnya fungsi otak dan sistem syarafnya terganggu yang membuat pertimbangannya kabur dan menjadikan dirinya bersifat temperamental. Seandainya Raja George III tidak mengalami penyakit ini, ia mungkin mampu menghindari Perang Revolusi Amerika.

Sementara itu, Drakula mengalami penyakit berbeda namun lebih kompleks. Ia bukan hanya sangat temperamental, namun kemungkinan juga sensitif pada cahaya. Akumulasi pigmen fotodinamik di epidermis dan retina membuat penderita sangat sensitif dengan cahaya. Ini menjelaskan mengenai drakula yang takut dengan sinar. Efek demikian dapat membawa pada disfigurasi di jari, bibir, dan gusi. Para vampir ditunjukkan memiliki taring panjang. Pada penderita gangguan jalur porphyrin, taring panjang ini adalah ilusi dari pengerutan gusi. Naiknya gusi lebih tinggi meninggalkan noda-noda merah di gigi yang terungkap karea meningkatnya level porphyrin.

Walau begitu, perlu diingat kalau korban porphyrin tidak memakan darah seperti dalam film vampire. Mereka hanya sensitif cahaya dan mengalami disfigurasi tubuh, dan karenanya harus mencari bantuan medis dan tidak merasa terstigma.

Sumber :

Dayan, F.E., Dayan, E.A. 2011. Porphyrins: One Ring in the Colors of Life. American Scientists, June 2011.

Referensi lanjut :

  1. Dayan, F. E., P. R. Daga, S. O. Duke, R. M. Lee, P. J. Tranel and R. J. Doerksen. 2010. Biochemical and structural consequences of a glycine deletion in the ?-8 helix of protoporphyrinogen oxidase. Biochimica et Biophysica Acta 1804:1548.
  2. Layer, G., J. Reichelt, D. Jahn and D. W. Heinz. 2010. Structure and function of enzymes in heme biosynthesis. Protein Science 19:1137.
  3. Mochizuki, N., R. Tanaka, B. Grimm, T. Masuda, M. Michael, A. G. Smith, A. Tanaka and M. J. Terry. 2010. The cell biology of tetrapyrroles: a life and death struggle. Trends in Plant Sciences 15:488.
  4. Peters, T. J., and D. Wilkinson. 2010. King George III and porphyria: A clinical re-examination of the historical evidence. History of Psychiatry 21:3.
  5. Peters, T. J., and A. Beveridge. 2010. The madness of King George III: A psychiatric re-assessment. History of Psychiatry 21:20.
Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.