Diposting Senin, 13 Juni 2011 jam 11:48 am oleh Evy Siscawati

Persepsi Gerakan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 13 Juni 2011 -


 

Ketidakmampuan mempersepsi gerakan disebut akinetopsia dan disebabkan oleh adanya lesi di daerah korteks V5 di korteks ekstrastriata. Ia juga dapat disebabkan efek samping obat antidepresan tertentu, atau karena kerusakan akibat stroke atau pembedahan otak tertentu. Dalam beberapa kasus, akinetopsia dapat dipulihkan lewat bedah otak  atau penghentian konsumsi antidepresan.

Persepsi orde pertama merujuk pada persepsi gerakan sebuah benda yang berbeda kecemerlangannya dari latar belakang, seperti kutu hitam yang berjalan di atas kertas putih. Gerakan semacam ini  dapat dideteksi lewat sensor gerak yang relatif sederhana yang dirancang untuk mendeteksi perubahan kecemerlangan pada   titik-titik persekitaran di retina setelah sebuah penundaan. Sensor yang bekerja seperti ini disebut detektor Hassensein-Reichardt yang diambil dari nama ilmuan Bernhard Hassenstein, seorang analis perilaku, dan Werner Reichardt, yang pertama membuat modelnya. Ia juga disebut sensor gerakan-energi, atau detektor Reichardt terapan. Sensor-sensor ini mendeteksi gerakan lewat korelasi ruang-waktu dan model-model yang masuk akal untuk mengetahui bagaimana sistem penglihatan mendeteksi gerakan. Proses penglihatan sendiri masih diperdebatkan oleh para ilmuan bagaimana cara kerjanya. Sensor gerakan orde pertama memiliki masalah apertur, yang berarti mereka dapat mendeteksi gerakan yang hanya tegak lurus orientasi kontur tempatnya bergerak. Pengolahan lebih lanjut dibutuhkan untuk membedakan arah gerakan global sejati.

Selain persepsi orde pertama terdapat persepsi orde kedua yang bertujuan menghilangkan masalah apertur tersebut. Sistem penglihatan kemudian mengekstrak sinyal gerakan orde pertama atau kedua dari citra retina. Setelah itu, sistem penglihatan mengintegrasi sinyal-sinyal gerakan lokal individual pada berbagai bagian bidang pandangan kedalam sebuah representasi global atau dua dimensi dari benda yang bergerak dan permukaannya.

Aliran Dorsal dari input gerakan

Masing-masing sel syaraf dalam sistem penglihatan sensitif pada masukan visual dalam bagian kecil bidang pandang, karena tiap sel syaraf melihat bidang pandang lewat jendela kecil atau apertur. Arah gerakan kontur bersifat ambigu karena komponen gerakan yang sejajar dengan garis tidak dapat diketahui berdasarkan masukan visual. Ini artinya beraneka ragam kontur dari orientasi berbeda yang bergerak pada kecepatan berbeda dapat menyebabkan respon yang identik dalam sel syaraf sensitif gerakan dalam sistem penglihatan.

Sumber

Wikipedia. Motion Perception

Referensi Lanjut

  1. Adelson, E.H., & Bergen, J.R. (1985). “Spatiotemporal energy models for the perception of motion”. J Opt Soc Am A 2 (2): 284–299.
  2. Reichardt, W. (1961). “Autocorrelation, a principle for the evaluation of sensory information by the central nervous system”. W.A. Rosenblith (Ed.) Sensory communication (MIT Press): 303–317.
  3. Todorovi?, Dejan (2002). “A  New Variant of the Barberpole Effect: Psychophysical Data and Computer Simulations.” Psihologija (Serbia, Yugoslavia: Laboratory for Experimental Psychology, University of Belgrade) 35 (3-4): 209–223
  4. van Santen, J.P., & Sperling, G. (1985). “Elaborated Reichardt detectors”. J Opt Soc Am A 2 (2): 300–321.

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.