Diposting Senin, 13 Juni 2011 jam 11:37 am oleh Evy Siscawati

Belajar Bekerjasama dari Monyet Capuchin

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 13 Juni 2011 -


Seleksi kelompok adalah gagasan kalau sifat-sifat diseleksi karena memberi manfaat pada kelompok tempat organisme hidup, yang memberi manfaat individu bahkan bila ada kesintasan yang harus dikorbankan. Gagasan seleksi kelompok berkembang menjadi seleksi multilevel yang mendapat dukungan terutama dalam bahasan evolusi bersama gen-budaya.

Tiga Jenis Kerjasama

Ada tiga jenis kerjasama yaitu mutualisme by produk, kerjasama antar kerabat, dan altruisme berkebalikan.  Mutualisme by product terjadi ketika individu-individu bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Tidak ada insentif untuk menipu; individu mendapatkan keuntungan seketika dan bersama-sama. Kerjasama antar kerabat menunjukkan bagaimana individu mendapat manfaat dalam membantu kerabat. Gagasan yang diajukan Hamilton ini lebih teliti ketimbang seleksi kerabat. Dalam kerjasama antar kerabat, kesintasan dibagi dua: kesintasan langsung yang merupakan kesintasan pribadi, dan kesintasan tidak langsung, yaitu kesintasan yang kita dapatkan lewat keberhasilan kerabat lain yang bukan dalam silsilah langsung anda. Keduanya disebut kesintasan inklusif. Karena kita berbagi 50 persen gen kita dengan sepupu kita, maka anda akan membutuhkan manfaat yang lebih besar atau ongkos yang lebih rendah untuk membantu sepupu.

Mekanisme ketiga kerjasama adalah altruisme berkebalikan. Bila ongkos jangka pendek diperoleh ketika membantu yang lain dijanjikan dengan manfaat di masa depan dari sudut pandang egosentris, manfaat jangka panjangnya lebih besar dari pada ongkos masa kini. Dengan kata lain, bila saya membantu anda sekarang (yang merugikan saya dan menguntungkan anda), dan hal ini membuat anda membantu saya minggu depan, kita akan lebih baik saling membantu daripada tidak.

Monyet Capuchin

Monyet capuchin adalah spesies menarik untuk mempelajari perilaku prososial dan kerjasama. Pertama, mereka menunjukkan tipe perilaku ini di laboratorium. Lebih lanjut, banyak studi telah dilakukan untuk menyelidiki kedua tipe perilaku, dan berusaha memahami pertukaran yang dilakukan monyet saat menentukan apakah mereka harus bekerjasama atau tidak.

Monyet Capuchin dengan mudah mengkoordinasi perilaku mereka untuk menarik piring bersama untuk masing-masing mendapatkan reward yang identik. Lebih lanjut, capuchin secara aktif menyelaraskan perilaku mereka. Pertama, capuchin menatap pasangan mereka lebih sering dalam tugas koordinasi ketimbang dalam pengendalian  sendiri dimana mereka dapat menarik piring tanpa bantuan pasangannya. Kedua, ketika sebuah panel memblokir akses visual untuk menatap satu sama lain, kerjasama hampir sepenuhnya lenyap, menunjukkan kalau koordinasi visual dibutuhkan untuk meraih keberhasilan. Akhirnya, terdapat kondisi dimana pasangan dapat datang dan pergi, namun subjek tersebut tidak. Subjek menarik lebih sering ketika pasangan tersebut ada daripada tidak ada, menunjukkan kalau mereka memahami bahwa kehadiran pasangan dibutuhkan untuk keberhasilan.

Ketidaksetaraan adalah mekanisme yang berada di balik kerjasama. Individu-individu yang merespon secara negatif terhadap ketidaksetaraan dapat memperoleh hasil yang lebih baik karena mereka berhenti berinteraksi dengan individu yang tidak memberi mereka hal yang adil. Bila mereka kemudian mencari pasangan baru, hasilnya adalah perubahan untuk yang lebih baik. Terdapat bukti hal ini pada monyet capuchin. Pertama, capuchin tampaknya merespon pada ketidaksetaraan terutama dalam konteks sebuah tugas, dan tidak ketika rewardnya semata diberi gratis. Dengan kata lain, bila seekor monyet harus menyelesaikan tugas menerima reward khusus yang disukai (anggur), dan yang lain harus menyelesaikan tugas untuk menerima reward yang tidak disukai (ketimun), monyet yang menerima timun akan menolak menyelesaikan tugasnya atau menolak mengambil ketimun. Perilaku ini juga ditemukan pada tamarin dan simpanse. Seperti yang telah diduga, subjek dominan cenderung lebih mungkin menolak reward bernilai rendah ketimbang subordinat, mungkin karena mereka tidak terbiasa dalam situasi ini.

Pelajaran

Mungkin pelajaran yang paling penting adalah bahwa kerjasama dibutuhkan untuk mendapat manfaat bersama. Dengan kata lain, individu tampak mengharap kalau manfaat mereka akan dikonsumsi dengan level usaha yang mereka berikan. Bila satu individu tidak mendapat reward dengan sesuai, interaksi runtuh. Sementara pelajaran ini terlihat cukup intuitif, ia penting bagi setiap bentuk hubungan mulai dari interaksi antar pribadi hingga politik global. Seperti halnya dengan monyet, kerjasama antar manusia tidak dapat berhasil dalam situasi dimana banyak terdapat ketidaksetaraan. Di sisi lain, kita memiliki sejarah evolusi yang panjang mengenai perilaku kerjasama dan dengan sedikit kepedulian, kerjasama dapat dicapai bahkan dalam situasi yang terlihat sangat tidak mungkin.

Sumber

Brosnan, S.F. (2011). What Do Capuchin Monkeys Tell Us About Cooperation? Dalam For the Greater Good of All. Denelson R. Forsyth dan Crystal L Hoyt (ed), hal 11-28

Referensi lanjut

  1. Brosnan, S. F. (2006). Nonhuman species’ reactions to inequity and their implications for fairness. Social Justice Research, 19, 153–185.
  2. Brosnan, S. F., Talbot, C., Ahlgren, M., Lambeth, S. P., & Schapiro, S. J. (2010). Mechanisms underlying the response t o inequity in chimpanzees, Pan troglodytes. Animal Behavior, 79, 1229–1237.
  3. Dindo, M., & de Waal, F. B. M. (2006). Partner effects on food consumption in brown capuchin monkeys. American Journal of Primatology, 69, 1–6.
  4. Dubreuil, D., Gentile, M. S., & Visalberghi, E. (2006). Are capuchin monkeys (Cebus apella) inequity averse? Proceedings of the Royal Society B, 273, 1223–1228.
  5. Fehr, E., & Schmidt, K. M. (1999). A theory of f airness, competition, and cooperation. The Quarterly Journal of Economics, 114, 817–868.
  6. Hamilton, W. D. (1964). The genetical evolution of social behavior. Journal of Theoretical Biology, 7, 1–52.
  7. Mendres, K. A., & de Waal, F. B. M. (2000). Capuchins do cooperate: The advantage of an intuitive task. Animal Behavior, 60(4), 523–529.
  8. Neiworth, J. J., Johnson, E. T., Whillock, K., Greenberg, J., & Brown, V. (2009). Is a sense of inequity an ancestral primate trait? Testing social inequity in cotton top tamarins (Saguinus oedipus). Journal of Comparative Psychology, 123(1), 10–17.
  9. Richerson, P. J., & Boyd, R. (2005). Not by genes alone: How culture transformed human evolution. Chicago: University of Chicago Press.
  10. Roma, P. G., Silberberg, A., Ruggiero, A. M., & Suomi, S. J. (2006). Capuchin monkeys, inequity aversion, and the frustration effect. Journal of Comparative Psychology, 120(1), 67–73
  11. Sober, E., & Wilson, D. S. (1998). Unto others: the evolution and psychology of unselfish behavior. Cambridge, MA: Harvard University Press.
  12. van Wolkenten, M., Brosnan, S. F., & de Waal, F. B. M. (2007). Inequity responses in monkeys modified by effort. Proceedings of the National Academy of Sciences, 104(47), 18854–18859.
  13. Williams, G. C. (1966). Adaptation and natural selection: A critique of some current evolutionary thought. Princeton, NJ: Princeton University Press.
  14. Wynne-Edwards, V. C. (1962). Animal dispersion in relation to social behavior. Edinburgh: Oliver & Boyd.
Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.