Sistem Syaraf
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Jumat, 10 Juni 2011 - Sistem syaraf hewan vertebrata (termasuk manusia) terbagi menjadi sistem syaraf pusat (SSP) dan sistem syaraf tepi (SST). SSP manusia mencakup otak, sumsum tulang belakang, dan retina. Sementara SST manusia adalah sel-sel syaraf sensorik, kluster sel syaraf yang disebut ganglia, dan pembuluh-pembuluh syaraf yang menghubungkannya satu sama lain dan antara dirinya dengan SSP.
Manusia dan sebagian besar hewan adalah mahluk bilateria, yang artinya bagian kiri tubuhnya merupakan cerminan dari bagian kanan tubuhnya, dan sebaliknya. Cacing adalah hewan bilateria paling sederhana, dan mengungkapkan struktur dasar sistem syaraf bilateria yang paling jelas. Sebagai contoh, cacing tanah memiliki lengkung syaraf ganda sepanjang tubuhnya dan menyatu di ekor dan mulut. Lengkung syaraf ini dihubungkan oleh syaraf transversal seperti anak tangga. Syaraf transversal membantu mengkoordinasi kedua sisi hewan. Dua ganglia di ujung kepala berfungsi sama dengan otak sederhana. Fotoreseptor pada bintik mata hewan ini memberikan informasi sensorik cahaya terang dan gelap.
Sinapsis
Sel syaraf mengirim sinyal ke sel-sel lain sebagai gelombang elektrokimia yang berjalan sepanjang serat tipis bernama akson, yang menyebabkan kimiawi bernama neurotransmitter dilepaskan pada sambungan bernama sinapsis. Sinapsis terdiri dari dua jenis, listrik atau kimia. Sinapsis listrik membuat hubungan listrik langsung antara sel syaraf, sementara sinapsis kimia jauh lebih banyak jenis maupun fungsinya. Pada sinapsis kimia, sel yang mengirim sinyal disebut prasinaptik, dan sel yang menerima sinyal disebut postsinaptik. Kedua daerah prasinaptik dan postsinaptik penuh dengan permesinan molekuler yang membawa proses pensinyalan. Daerah prasinaptik mengandung sejumlah besar kendaraan bulat kecil yang disebut vesikel sinaptik, dikemas dengan kimiawi neurotransmitter. Ketika terminal prasinaptik dirangsang secara listrik, sekumpulan molekul yang tertempel di selaputnya teraktivasi, dan menyebabkan isi vesikel dilepaskan ke ruang sempit antara selaput prasinaptik dan postsinaptik yang disebut klep sinaptik. Neurotransmitter kemudian berikatan dengan reseptor yang berada dalam selaput postsinaptik, menyebabkannya memasuki kondisi aktif. Tergantung pada tipe reseptor, efek yang dihasilkan pada sel postsinaptik dapat berupa perangsang, penghambat, atau pemodulasi dalam jalur yang lebih rumit. Sebagai contoh, pelepasan neurotransmitter asetilkolin pada kontak sinaptik antara sebuah sel syaraf motorik dan sebuah sel otot menyebabkan kontraksi cepat sel otot. Seluruh proses transmisi sinaptik terjadi hanya dalam pecahan milidetik, walaupun efek pada sel postsinaptik dapat berlangsung lebih lama (bahkan tidak terbatas dalam kasus dimana sinyal sinaptik membawa pembentukan jejak ingatan).
Proses mengindera
Deteksi tampilan adalah kemampuan mensarikan informasi yang relevan secara biologis dari kombinasi-kombinasi sinyal sensorik. Dalam sistem penglihatan misalnya, reseptor sensorik di retina mata hanya mampu mendeteksi secara individual titik-titik cahaya di dunia luar. Sel syaraf penglihatan level kedua menerima input dari sekelompok reseptor primer, sel syaraf level lebih tinggi menerima input dari sekelompok sel syaraf level kedua, dst, membentuk tahap-tahap pengolahan berjenjang. Pada tiap tahapan, informasi penting disarikan dari rakitan sinyal dan informasi tidak penting dibuang. Pada akhir prosesnya, sinyal input yang mewakili “titik-titik cahaya” telah diubah menjadi representasi objek di dunia sekitar dan sifat-sifatnya. Pengolahan sensorik paling memuaskan terjadi di dalam otak, namun ekstraksi tampilan kompleks juga terjadi di tulang belakang dan organ sensorik tepi seperti retina.
Mekanisme Stimulus-Respon
Walaupun mekanisme stimulus-respon adalah yang termudah untuk dipahami, sistem syaraf juga mampu mengendalikan tubuh tanpa memerlukan stimulus luar, dengan membangkitkan irama aktivitas secara internal. Karena keragaman saluran ion sensitif tegangan yang dapat ditempelkan dalam selaput sebuah sel syaraf, banyak tipe sel syaraf mampu, bahkan sendirian, membangkitkan urutan berirama potensial aksi, atau perubahan berirama antara letupan laju tinggi dan ketenangan. Ketika sel syaraf yang secara intrinsik berirama terhubung satu sama lain oleh sinapsis perangsang atau penghambat, jaringan yang dihasilkan mampu melakukan beraneka ragam perilaku dinamis, termasuk dinamika penarik, periodisitas, dan bahkan chaos. Sebuah jaringan sel syaraf yang menggunakan struktur dalamnya untuk membangkitkan output terstruktur sementara, tanpa membutuhkan stimulus terstruktur sementara yang terkait disebut generator pola pusat.
Sumber
Wikipedia. Nervous System.
Referensi lanjut
- Adey WR (February 1951). “The nervous system of the earthworm Megascolex”. J. Comp. Neurol. 94 (1): 57–103
- Hormuzdi SG, Filippov MA, Mitropoulou G, et al. (2004). “Electrical synapses: a dynamic signaling system that shapes the activity of neuronal networks”. Biochim. Biophys. Acta 1662 (1–2): 113–37
- Kandel ER, Schwartz JH, Jessel TM, ed (2000). Principles of Neural Science. McGraw-Hill Professional.
- Tingkat-Tingkat Kesadaran
- Individu Hidup Tertua di Bumi adalah Rumput Laut Purba Berusia 100 ribu Tahun
- Dimensi Waktu selain Satu
- Penemuan Protein Berusia Sangat Panjang
- Hidup di Pedalaman Kalimantan dalam Setengah Milenium
- Iman Pada Teori Fisika: Tafsir Multijagad Mekanika Kuantum
- Tuhan dan Sains Modern (Part 3): Tuhan dalam Sains
- Para Insinyur Mengelas Kawat Nano dengan Cahaya
- Bagaimana Gelembung Finansial Meletus?
- Teori Asal Usul, Evolusi, dan Sifat Kehidupan Ditarik Karena Terbukti Tidak Ilmiah



