Diposting Rabu, 8 Juni 2011 jam 5:01 pm oleh Evy Siscawati

Bayi yang Menangis Berlebihan lebih mungkin mengalami masalah Perilaku di masa Kanak-kanak

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 8 Juni 2011 -


 

Sekitar 20% dari semua bayi menunjukkan gejala menangis berlebihan, masalah tidur, dan/atau masalah makan dalam tahun pertama kehidupannya dan hal ini dapat membawa pada gangguan bagi keluarga dan biaya kesehatan bertambah. Penelitian sebelumnya telah menyarankan kalau masalah regulatori ini dapat berpengaruh pada perkembangan perilaku atau kognitif di masa kanak-kanak, namun temuannya masih inkonklusif. Para peneliti dari Universitas Basel di Swiss, Universitas Warwick di Inggris dan Universitas Bochum di Jerman mencoba menemukan sifat dan kekuatan hubungan antara masalah regulatori di masa bayi dan masalah perilaku kanak-kanak.

Mereka melakukan analisis pada 22 studi dari tahun 1987 hingga 2006 untuk melihat adanya asosiasi ini yang melibatkan, secara total, 16.848 anak, dimana 1935 anak yang mengalami masalah regulatori diperiksa. Dari 22 studi, 10 studi melaporkan konsekuensi menangis berlebihan, empat pada masalah tidur, tiga pada masalah makan, dan lima studi pada masalah regulatori ganda. Masalah perilaku anak dibagi atas empat kelompok – internalisasi (anxiety, depresi, atau penarikan diri), eksternalisasi (perilaku agresif atau destruktif, masalah perbuatan, atau gejolak temperamen), hiperaktivitas / defisit atensi (ADHD), dan masalah perilaku umum.

Penelitian ini menemukan kalau bayi dengan masalah regulatori sebelumnya lebih mungkin mendapat masalah perilaku saat kanak-kanak ketimbang bayi tanpa masalah regulatori. Hasil paling mungkin untuk anak bermasalah regulatori saat bayi adalah masalah eksternalisasi dan ADHD. Semakin banyak tipe masalah regulatori yang dimiliki bayi (masalah kumulatif), semakin mungkin terjadi peningkatan resiko masalah perilaku saat anak-anak.

Para peneliti mengatakan kalau kekhawatiran tentang masalh menangis, tidur, atau makan bayi adalah alasan utama banyak orang tua mencari bantuan profesional. Secara klinis, anak yang dirujuk sering datang dari keluarga dengan banyak faktor resiko seperti masalah obstetrik, interaksional, atau psikososial selain masalah regulatori ganda. Karenanya, akumulasi gejala anak dan karakteristik keluarga yang negatif lebih prediktif pada masalah perilaku dibandingkan kombinasi manapun.

Sumber berita :

BMJ-British Medical Journal

 

Referensi jurnal:

M. H. Hemmi, D. Wolke, S. Schneider. Associations between problems with crying, sleeping and/or feeding in infancy and long-term behavioural outcomes in childhood: a meta-analysis. Archives of Disease in Childhood, 2011; DOI: 10.1136/adc.2010.191312

 

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.