Diposting Minggu, 5 Juni 2011 jam 1:02 pm oleh Evy Siscawati

Misteri yang tak dapat dijelaskan Teori Lempeng Tektonik : Indonesia Perlahan Tenggelam dan Menyeret Australia

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 5 Juni 2011 -


 

Pada segala peristiwa, tektonik lempeng bukan hanya menjelaskan dinamika permukaan Bumi – bagaimana Hipparion purba bisa datang dari Perancis ke Florida, misalnya – namun juga banyak aksi internalnya. Gempa bumi, pembentukan rantai kepulauan, siklus karbon, lokasi pegunungan, datangnya zaman es, asal usul kehidupan itu sendiri – secara langsung atau tidak dipengaruhi oleh teori baru ini. Geologiwan, seperti dicatat oleh McPhee, berada dalam posisi kalau “Seluruh planet bumi akhirnya masuk akal.”

Namun hanya pada satu titik. Distribusi benua di masa lalu lebih rumit daripada sebagian besar orang diluar geofisika pikirkan. Walaupun buku teks memberi representasi yang penuh percaya diri tentang masa purba seperti Laurasia, Gondwana, Rodinia, dan Pangaea, hal ini kadang berdasarkan kesimpulan yang tidak kuat. Seperti diamati oleh George Gaylord Simpson dalam karyanya Fossils and the History of Life, species tanaman dan hewan dari masa purba memiliki kebiasaan muncul dimana mereka seharusnya tidak ada di situ dan gagal berada di tempat seharusnya ia ada.

Outline Gondwana, sebuah benua yang dulunya besar menghubungkan Australia, Afrika, Antartika, dan Amerika Selatan, dibuat berdasarkan sebagian besar distribusi genus pakis lidah bernama Glossopteris, yang ditemukan di semua tempat yang benar. Namun, Glossopteris lain kemudian ditemukan di bagian dunia yang tidak diketahui berhubungan dengan Gondwana. Hal ini bermasalah dan terus menjadi masalah, namun sebagian besar diabaikan.

Begitu juga, sejenis reptil Trias, bernama Lystrosaurus ditemukan dari Antartika hingga ke Asia, mendukung gagasan kalau ada hubungan di antara kedua benua tersebut sebelumnya, namun ia tidak pernah ada di Amerika Selatan atau Australia, yang diyakini merupakan bagian benua yang sama di saat tersebut.

Ada juga banyak tampilan permukaan yang tidak dapat dijelaskan teori lempeng benua. Ambil contoh Denver. Ia tingginya satu mil, namun naiknya relatif baru. ketika Dinosaurus menguasai Bumi, Denver adalah bagian dari dasar samudera, ribuan kaki lebih rendah. Namun batuan tempat berdirinya Denver tidak pecah atau berubah bentuk dengan cara seharusnya bila Denver didorong oleh lempeng yang bertumbukan, dan lagi pula Denver terlalu jauh dari ujung lempeng untuk menjadi rentan atas kejadian ini. Seolah seperti anda mendorong pinggiran karpet berharap bagian tengah karpet yang terangkat. Secara misterius dan selama jutaan tahun, terlihat kalau Denver naik, seperti roti yang dibakar.

Gejala yang sama di amati di Afrika Selatan; sebagian darinya yang panjangnya ribuan mil telah naik hampir satu mil dalam 100 juta tahun tanpa aktivitas tektonik apapun yang dapat diamati. Australia sementara itu, memuntir dan tenggelam. Selama 100 juta tahun ia hanyut ke utara menuju Asia, bagian depannya telah tenggelam sekitar 200 meter. Indonesia seolah tenggelam dengan sangat perlahan, dan menarik Australia bersamanya. Teori lempeng tektonik tidak mampu menjelaskan ini. Kita butuh teori baru.

Referensi

Bill Bryson. 2003. A Short History of Nearly Everything. New York: Broadway Books.

Referensi Lanjut

George Gaylord Simpson. Fossils and the History of Life.

John McPhee. 1980. Basin and Range.

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.