Diposting Minggu, 5 Juni 2011 jam 12:46 pm oleh Evy Siscawati

Hanya Empat Persen Galaksi Punya Tetangga Seperti Bima Sakti

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 5 Juni 2011 -


 

 

“Kami tertarik mengetahui bagaimana bima sakti sesuai dengan konteks alam semesta yang lebih luas,” kata Wechsler. “Penelitian ini membantu kita memahami apakah galaksi kita umum atau tidak, dan dapat memberi petunjuk sejarah pembentukannya.”

Tim peneliti membandingkan Bima sakti dengan galaksi yang sama dalam hal luminositas – ukuran seberapa banyak cahaya dipancarkan – dan jarak ke galaksi terang lainnya. Mereka menemukan galaksi yang memiliki dua satelit seterang dan sedekat dua satelit terdekat Bima sakti, Awan Magellan Besar dan Kecil, ternyata jarang.

Diterbitkan pada tanggal 20 mei 2011 dalam Astrophysical Journal, penemuan ini berbasis pada analisis data yang dikumpulkan oleh Sloan Digital Sky Survey (SDSS). Penelitian ini adalah yang pertama dari tiga makalah yang mempelajari sifat-sifat kedua satelit paling masif bima sakti.

Didukung sebagian oleh National Science Foundation (NSF), SDSS adalah survey paling luas pada langit optik yang dilakukan hingga saat ini.

Dalam lebih dari delapan tahun operasi, SDSS telah memperoleh citra yang mencakup lebih dari seperempat langit, dan menciptakan peta 3 dimensi yang mengandung lebih dari 930 ribu galaksi dan 120 ribu quasar. Untuk analisis ini, kelompok Wechsler mempelajari lebih dari 20 ribu galaksi dengan sifat yang sama dengan Bima Sakti dan menyelidiki galaksi-galaksi yang mengelilingi kembaran “Bima Sakti” ini, untuk menciptakan sensus galaksi yang sama dengan Bima Sakti di alam semesta.

Penelitian ini merupakan salah satu studi paling luas sejenis ini yang pernah dilakukan.

Para ilmuan juga dapat membandingkan data SDSS dengan galaksi yang disimulasi oleh model komputer. Karena mereka saat ini tidak mampu melihat mundur ke Big Bang, ini adalah salah satu cara para peneliti mencoba memahami bagaimana alam semesta seperti yang kita lihat sekarang bermula.

Untuk mempelajari lebih banyak mengenai kondisi-kondisi yang mungkin ada di awal alam semesta, kelompok ini menciptakan simulasi komputer untuk mencipta ulang alam semesta dari kondisi awal tertentu. Lalu mereka membandingkan simulasi mereka dengan data dari SDSS. Dengan cara ini, kelompok ini mampu menguji berbagai teori pembentukan galaksi untuk menentukan apakah tiap teori dapat menghasilkan alam semesta yang sesuai dengan yang kita lihat sekarang. Hasil simulasi mereka sesuai dengan hasil yang ditemukan dalam data SDSS: hanya empat persen galaksi yang disimulasi memiliki dua satelit seperti Awan Magellan.

“Ini adalah salah satu contoh ilmu yang dimungkinkan oleh data,” kata Nigel Sharp, dari Division of Astronomical Sciences NSF. “Dengan membandingkan alam semesta palsu dengan yang asli kami berhasil membedakan antara teori yang berhasil dan yang gagal. Penelitian ini menghubungkan tiga dari empat kaki sains: teori, pengamatan, dan simulasi, hasil ilmiah yang kuat.”

Hasil mereka juga mendukung teori pembentukan galaksi yang disebut teori Materi Gelap Dingin (CDM). Teori ini memberikan penjelasan termudah susunan galaksi di alam semesta pasca big bang. Diasumsikan kalau sebagian besar materi di alam semesta terdiri dari bahan yang tidak dapat diamati oleh radiasi elektromagnetiknya (gelap) dan partikel penyusunnya bergerak lambat (dingin). Materi gelap, bahan yang tak terlihat dan eksotis dengan komposisi misterius, diyakini mempengaruhi persebaran galaksi di antariksa dan pengembangan alam semesta secara keseluruhan. Kelangkaan aspek bima sakti ini memberi petunjuk pada sejarah pembentukannya.

“Karena keberadaan dua galaksi seperti Awan Magellan itu langka, kami dapat menggunakannya untuk belajar lebih banyak mengenai galaksi kita sendiri,” kata Wechsler. Dengan menggunakan simulasi mereka, tim ini menemukan sebuah sampel galaksi hasil simulasi yang memiliki satelit sesuai dengan Bima sakti dalam hal lokasi dan kecepatan.

“Kombinasi survey besar langit seperti SDSS dan sampel besar galaksi simulasi memberikan kesempatan baru untuk mempelajari tempat galaksi kita di alam semesta,” kata Wechsler. “Survey selanjutnya akan memungkinkan kita memperluas studi ini pada galaksi satelit yang lebih redup, untuk membuat gambaran pembentukan galaksi kita.”

Karya teoritis dan numerik yang menghasilkan simulasi yang digunakan sebagai perbandingan dengan data SDSS didukung oleh beasiswa yang diberikan dalam American Recovery and Reinvestment Act 2009.

Sumber berita :

National Science Foundation.

Referensi jurnal:

Lulu Liu, Brian F. Gerke, Risa H. Wechsler, Peter S. Behroozi, Michael T. Busha. How Common Are the Magellanic Clouds? The Astrophysical Journal, 2011; 733 (1): 62 DOI: 10.1088/0004-637X/733/1/62

 

 

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.