Diposting Kamis, 2 Juni 2011 jam 3:30 pm oleh Evy Siscawati

Video Games bagus buat Cewek kalau Orang Tua ikut Main

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 2 Juni 2011 -


 

Para peneliti dari Brigham Young University’s School of Family Life melakukan sebuah studi pada video games dan anak antara 11 hingga 16 tahun. Mereka menemukan kalau gadis yang bermain video games dengan orang tua menikmati sejumlah keuntungan. Anak perempuan tersebut berperilaku lebih baik, merasa lebih terhubung dengan keluarganya dan memiliki kesehatan mental yang kuat. Professor Sarah Coyne adalah penulis perdana studi ini yang muncul tanggal 1 Februari 2011 dalam Journal of Adolescent Health.

“Bagian mengejutkan bagi saya adalah cewek tidak bermain video games sebanyak cowok,” kata Coyne. “Namun mereka menghabiskan waktu yang kurang lebih sama untuk bermain bersama ortu seperti anak cowok.”

Penemuan ini menghasilkan satu hal penting: games harus sesuai usia. Bila game tersebut dirating M untuk dewasa, ia melemahkan hubungan statistik antara bermain bersama dan keterhubungan keluarga.

Studi ini melibatkan 287 keluarga dengan anak remaja. Mario Kart, Mario Brothers, Wii Sports, Rock Band dan Guitar Hero berada di puncak daftar games yang paling sering dimainkan anak gadis. Call of Duty, Wii Sports dan Halo beranking 1, 2 dan 3 pada anak laki-laki.

Bagi anak laki-laki, bermain dengan orang tua bukan merupakan faktor yang signifikan secara statistik dari semua hasil yang diukur para peneliti (perilaku positif, agresi, hubungan keluarga, kesehatan mental). Namun untuk anak perempuan, bermain dengan orang tua bertanggung jawab atas 20 persen variasi hasil terukur tersebut.

Coyne dan renkannya Laura Padilla-Walker menawarkan dua penjelasan yang mungkin dibalik perbedaan gender ini.

“Kami menebak kalau ini hubungan antara anak cewek dan bapaknya, karena bukan hanya mama yang mengatakan ya ketika ditanya apakah mereka bermain video games,” kata Padilla-Walker. “Bermain bersama mungkin indikator level keterlibatan yang lebih tinggi.”

Adalah mungkin kalau pada waktu anak laki-laki bermain dengan orang tua tidak bertahan lama karena mereka lebih banyak bermain bersama teman-temannya. Para peneliti berencana mempelajari basis perbedaan gender ini lebih detail dalam penelitian lebih lanjut.

Padilla-Walker mengingat protes dari para gamers dua tahun lalu ketika studi ini mengkaitkan frekuensi bermain video games dengan hubungan yang rendah pada teman dan keluarga. Walaupun beliau mendapatkan gelar Ph.D dan kepakaran dalam menganalisa jalur statistik, responnya yang paling efektif pada kritik tersebut berakar dari akal sehat.

“Kalau anda menghabiskan banyak waktu terlarut dalam aktivitas apapun, ia akan mempengaruhi hubungan anda,” kata Padilla-Walker

Dan itu memberi kita saran pengasuhan yang praktis seperti yang ditemukan dalam studi sekarang pada bermain video games bersama anak.

“Setiap waktu tatap muka antara anda dengan anak anda dapat berarti positif, khususnya bila aktivitas tersebut menarik minat anak,” kata Padilla-Walker.

Sumber berita:

Brigham Young University,

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.