Diposting Rabu, 1 Juni 2011 jam 12:38 pm oleh Evy Siscawati

Sayap Lalat dan Antibiotika

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 1 Juni 2011 -


 

Tentu saja salah satunya karena sistem kekebalan tubuh sang lalat sendiri. Para ilmuan dari jurusan ilmu-ilmu biologi, universitas Macquarie, berbekal teori kalau lalat pasti memiliki pertahanan diri anti mikroba untuk bertahan hidup dari kotoran, daging dan buah busuk, melakukan penelitian sifat-sifat antimikroba pada berbagai tahap perkembangan lalat.

Larva lalat, baik itu lalat buah ataupun lalat rumah, sudah menunjukkan sifat antibakteri di permukaan tubuhnya maupun di perutnya. Begitu pula semua lalat dewasa.

Dalam eksperimen mereka, lalat dicelupkan dalam larutan yang mengandung beraneka kuman yaitu E.coli, Staphilococcus Emas, Candida (sejenis ragi), dan patogen rumah sakit yang umum. Ketika dicelupkan terlihat adanya aksi antibiotika dari tubuh lalat terhadap serangan kuman-kuman ini.

 

Penelitian lanjutan dlakukan oleh at-Tailî dkk dari Jurusan Mikrobiologi Medis, Universitas Qassim di Arab Saudi. Sekarang mereka memeriksa sayap lalat. Satu larutan dicelupkan seluruh tubuh lalat, dan satu larutan lagi dicelupkan sayap lalatnya saja. Ternyata larutan pertama mengandung antibiotik, dan larutan kedua menunjukkan adanya kuman.

Apa hubungannya dengan Sayap Lalat ?

Apakah ini menunjukkan kalau satu sayap mengandung antibiotika sementara sayap lain mengandung kuman?

Perhatikan,  eksperimennya bukan sebagai berikut :

“Para ilmuan mengambil sayap kiri dari lalat, lalu mencelupkannya dalam larutan yang mengandung kuman. Ternyata muncul siap antibiotik. Para ilmuan kemudian mengambil sayap kanan lalat, kemudian mencelupkannya ke air, dan ternyata muncul kuman dari sayap tersebut. Para ilmuan menyimpulkan kalau salah satu sayap lalat mengandung antibiotik, sementara satu sayap lainnya mengandung penyakit.”

Seandainya eksperimennya seperti di atas, oh indahnya. Tapi eksperimennya mencelupkan seluruh lalat ke dalam larutan yang mengandung kuman. Dalam eksperimen kedua, seluruh sayap, artinya sayap kiri dan kanan. Sayang sekali. Tapi sudah terlanjur. Jadi bagaimana? Ya dicocok-cocokin saja. Cocologi.

Kenapa para ilmuan mencelupkan seluruh lalat dalam larutan? Karena mereka berdasarkan teori ilmiah dan nalar. Teorinya tidak mengatakan kalau satu sayap mengandung kuman dan satu sayap mengandung antibiotik, tapi teorinya mengatakan kalau permukaan tubuh lalat mengandung antibiotik sementara sayap tidak mengandung antibiotik. Bedanya besar antara permukaan tubuh dan sayap, semua orang tahu itu, dan wajar saja kalau mereka berteori di tubuh ada antibiotik, di sayap tidak ada. Berbeda dengan mengatakan di sayap kiri ada antibiotik, dan di sayap kanan tidak ada antibiotik.

Jika ingin membuktikan kalau di satu sayap ada antibiotik dan di sayap lain mengandung kuman, kenapa tidak melakukan eksperimennya sendiri? Karena itu berbahaya bagi teori. Orang dengan teori yang tidak kokoh tidak akan yakin untuk mengujinya. Kalau ketahuan salah, maka teorinya dapat gugur. Mungkin, mungkin sudah ada ilmuan yang mencoba teori sayap lalat tersebut, tetapi tidak ada kabarnya. Kemungkinan besar hasilnya tidak sesuai keinginan mereka. Kemungkinan besar hasilnya salah. Kalau benar, tentu di gembar-gemborkan. Bukankah itu harapan para pendukung teori sayap lalat kan? Kalau teorinya benar? Tapi kenapa justru penelitian seperti ini yang digembar gemborkan?

Para pendukung teori ini dengan malu-malu mengutip berbagai bukti penelitian tentang lalat sambil mencoba menutupi kalau komponen utamanya adalah satu sayap mengandung agen penyakit dan satu sayap mengandung antibiotik. Ya karena memang teori tersebut berbeda dengan berbagai bukti penelitian tentang lalat yang berbasis teori sayap mengandung agen penyakit dan tubuh mengandung antibiotik. Tapi bukti penelitiannya sama. Kenapa? Karena ia dirancang berdasarkan teori yang sama, dan semuanya tentang badan mengandung antibiotik dan sayap mengandung kuman.

Begini :

Teori A : Badan mengandung antibiotik, sayap mengandung kuman

Eksperimen A : Jatuhkan sayap saja, ternyata kuman ada. Celupkan lalat, ternyata kumannya dimakan antibiotik.

Teori B : Satu sayap mengandung antibiotik, satu sayap lagi mengandung kuman.

Eksperimen B : ??????

Para pendukung teori 2 justru menggunakan eksperimen A untuk mendukung teori B. Disitu letak cocologinya. Kenapa sih tidak pakai eksperimen B? Mengambil satu sayap lalat lalu memasukkannya ke larutan. Mengambil satu lagi sayap, lalu memasukkannya ke larutan? Karena teorinya telah terbukti salah namun hasilnya ditutup-tutupi atau tidak berani melakukan eksperimen demikian.

Akhirnya, bahkan bila teori B atau teori sayap lalat terbukti benar, ia membuktikan kalau teori B kemungkinan benar. Ingat pembahasan kami tentang filsafat sains. Fakta ilmiah selalu bersifat sementara.

Seandainya yang satu sayap kiri, yang satu sayap kanan

Bagaimana orang yang pertama merumuskan teori sayap dapat sampai pada teori ini? Ia tentunya seorang ilmuan. Ia menariknya dari pengamatannya atas realitas. Bila ukuran sampelnya cukup besar dan ia mengikuti metode ilmiah, ia dapat mengklaim potongan pengetahuan ini sebagai penemuannya. Sama halnya dengan Aristoteles atau Hippocrates di masa Yunani Kuno.

Bukti Evolusi

Kembali apa yang ditemukan para ilmuan tentang adanya antibiotik pada tubuh lalat merupakan bukti evolusi. Tidak mengejutkan kalau lalat (atau mahluk lainnya, seperti kumbang kotoran) yang memiliki siklus hidup dimana mereka melakukan kontak dengan bakteri berbahaya juga memiliki sifat antibakteri.

Bila para mahluk ini tidak memiliki pertahanan diri terhadap bakteri mereka akan mati, hanya yang memiliki sifat antibakteri yang akan bertahan hidup dan karenanya melanjutkan spesies.

Penemuan sifat antibiotik pada tubuh lalat dewasa bukanlah hal baru, padahal sudah lama diketahui kalau hewan yang mengkonsumsi kotoran/limbah (apakah dewasa atau larva/muda) memiliki perlindungan terhadap penyakit, coba bayangkan tikus dan selokan.

Referensi

Aj-Taili, S.I., Al-Misnid, A.A.R., Al-Utaibi, K.D. One Wing Carrying Disease and the Other Carrying the Cure. Qassim University.

Danny Kingsley, 1 Oktober 2002. The New Buzz on Antibiotics. ABC Science Online

RE Shope 1927 Bacteriophage isolated from the common house fly (Musca domestica)The Journal of Experimental Medicine, Vol 45, 1037-1044

Chew, Peter (May 9, 2009). “Insect Wings”. Brisbane Insects and Spiders.

Referensi lanjut

Ghyath Hasan Al-Ahmad. “At-Tibb An-Nabawi fi Daw’ Al-`Ilm Al-Hadith (Prophetic Medicine in the Light of Modern Science) (1995, 2:188-189)

Galko MJ, Krasnow MA (2004). Cellular and genetic analysis of wound healing in Drosophila larvae. PLoS Biol 2(8):e239. DOI: 10.1371/journal.pbio.0020239

Wikipedia. Wing (insect)

Joanne Clarke, Michael Gillings & Andrew Beattie. Hypothesis driven drug discovery. Microbiology Australia, November 2002, hal. 8-10

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.