Diposting Rabu, 1 Juni 2011 jam 12:57 pm oleh Evy Siscawati

Keyakinan Pemimpin mengenai Pengikutnya mempengaruhi Kesuksesan Perusahaan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 1 Juni 2011 -


 

Bagaimana para pemimpin melihat karyawannya cenderung menjadi nubuat yang terpenuhi, simpul Thomas Sy, asisten profesor psikologi UC Riverside dan seorang konsultan kepemimpinan bisnis jangka panjang.

Dalam apa yang ia sebut studi pertama untuk memeriksa konsepsi para pemimpin mengenai bawahannya, psikolog ini menemukan kalau “jika para manajer memandang bawahannya secara positif – kalau mereka orang yang baik, produktif dan antusias – mereka akan memperlakukan karyawan mereka dengan positif. Bila mereka berpikir secara negatif pada karyawannya – kalau mereka tidak patuh, dan tidak kompeten – mereka akan memperlakukannya demikian,” kata beliau. “Keyakinan para manajer mengenai karyawannya berpengaruh pada hasil organisasi.” Hal ini termasuklah kualitas hubungan dan kesenangan antarpribadi antar pemimpin dan bawahan, serta kepuasan kerja karyawan serta kepercayaan para pemimpin.

Sy menyarankan kalau mungkin untuk mengubah apa yang diyakini para pemimpin mengenai pengikutnya, sebuah strategi bisnis yang dapat meningkatkan kinerja para pekerja. Hasil studi ini tampil dalam makalah berjudul “What do you think of followers? Examining the content, structure, and consequences of implicit followership theories,” yang diterbitkan dalam jurnal tinjau kerabat Organizational Behavior and Human Decision Processes.

Dalam sebuah studi lima tahap melibatkan ratusan pemimpin dunia kerja, Sy menemukan enam konsepsi inti dimana para manajer mengkategorikan karyawannya – industri, entusiasme dan warga yang baik, kualitas mencerminkan konsepsi positif pengikut; dan insubordinasi, inkompetensi dan konformitas, kualitas yang mencerminkan konsepsi negatif pada pengikut.

Proses mengkategorisasi orang lain bekerja secara otomatis dan spontan, katanya. Para manajer bertindak berdasarkan konsepsi tersebut – yang disebut teori-teori kepengikutan implisit (implicit followership theories – IFTs) – bahkan bila mereka tidak sadar kalau memiliki keyakinan tersebut pada pengikutnya.

Para pemimpin yang memiliki konsepsi atau IFT lebih positif dapat berperilaku berbeda pada pengikutnya daripada mereka yang memiliki IFT lebih negatif, tulisnya. Karena bagaimana pemimpin berpikir sering mempengaruhi apa yang pemimpin lakukan, IFT dapat menentukan gaya kepemimpinan dan perlakuan pemimpin pada bawahan.

“…Perbedaan kinerja antara bawahan dapat merupakan hasil dari persepsi pemimpin pada interaksi dengan pengikutnya … Penelitian telah menunjukkan kalau para pengikut cenderung memenuhi persepsi yang dimiliki para pemimpinnya.”

Karena evaluasi kinerja sering berkaitan dengan teori implisit atasan, pemimpin lebih mudah mengenali potensi pengikutnya yang sesuai dengan teori implisit kepengikutannya dan tidak mengenali potensi pada pengikut yang sama mampunya namun menunjukkan kongruensi yang lemah, jelas Sy.

“Hal ini lebih relevan lagi dalam lingkungan multibudaya,” tulisnya. “Sebagai contoh, diantara sifat lainnya, para pemimpin Barat dapat mengenali potensi pengikutnya yang menunjukkan antusiasme, dan memberi label serta memperlakukan individu ini sebagai ‘berpotensi tinggi.’ Walau begitu, para pemimpin Barat dapat meremehkan potensi yang sama dari bawahan yang sama mampunya namun tidak menunjukkan antusiasme karena nilai budaya mereka dapat menghambat ekspresi emosinya (misalnya kebudayaan Timur seperti Jepang dan China). Bias ini dapat juga terjadi pada gender.”

Keputusan personil sering berdasarkan pada persepsi pemimpin pada bawahan, yang sering kali bias secara sistematis, kata Sy. “Individu yang memeluk teori kepengikutan yang lebih negatif rentan terhadap pemberian evaluasi penghukuman pada pengikutnya. Begitu juga, individu yang memeluk teori kepengikutan yang lebih positif akan rentan dalam memberikan evaluasi positif pada bawahan. Dengan demikian, implikasi praktis yang penting adalah pemimpin harus mengembangkan kesadaran profil IFT nya dan bagaimana persepsi ini dapat memberi bias pada kognisi dan perilakunya pada bawahan.”

Sebagai bagian dari penelitian ini, Sy juga mengembangkan perangkat manajemen untuk menilai keyakinan pemimpin mengenai pengikutnya.

“Kami mengkonfirmasi apa yang orang telah ketahui secara intuitif,” tambahnya. “Sekarang kami menyediakan cara praktis untuk mempengaruhi hasil kepemimpinan.”

Sumber berita :

University of California – Riverside.

Referensi jurnal :

Thomas Sy. What do you think of followers? Examining the content, structure, and consequences of implicit followership theories. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 2010; 113 (2): 73 DOI: 10.1016/j.obhdp.2010.06.001

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.