Diposting Rabu, 1 Juni 2011 jam 1:18 pm oleh Evy Siscawati

Catatan Indah Charles Darwin di Pulau Kelapa : Alam Tropis, Melayu, dan Jailangkung

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 1 Juni 2011 -


 

Kami tiba di kepulauan Keeling atau Cocos. Kepulauan Cocos adalah sekelompok pulau di Samudera Hindia, sekitar 600 mil jaraknya dari lepas pantai Sumatera. Ini adalah salah satu pulau laguna formasi koral (atau atol), sama dengan kepulauan Low yang baru saja kami lewati. Ketika kapal berada dalam selat di pintu masuk, Tuan Liesk, seorang warga Inggris, turun dengan perahunya. Sejarah pulau ini dalam sedikit mungkin kata adalah sebagai berikut.

Sekitar sembilan tahun lalu, Tuan Hare membawa sejumlah budak Melayu dari kepulauan Hindia Timur yang sekarang, termasuk anak-anak, berjumlah lebih dari seratus orang. Segera setelah itu, kapten Ross, yang sebelumnya pernah mengunjungi kepulauan ini dengan kapal dagangnya, tiba dari Inggris, membawa keluarga dan barang-barangnya: bersama dengannya adalah Tuan Liesk, yang menjadi temannya dalam kapalnya. Para budak melayu segera lari dari pulau tempat Tuan Hare bertambat dan bergabung dengan kelompok Kapten Ross. Tuan Hare karena hal ini akhirnya meninggalkan daerah ini.

Para melayu sekarang bebas, dan jelas bebas, sejauh mengenai pengurusan diri pribadi mereka; namun dalam point lainnya mereka dipandang sebagai budak. Dari kondisi mereka yang tidak nyaman, dari perpindahan dari pulau ke pulau, dan juga mungkin karena kesalahan manajemen kecil, kehidupan tidaklah sejahtera. Pulau ini tidak punya hewan ternak berkaki empat, kecuali babi, dan produksi tanaman utama adalah kelapa. Seluruh kesejahteraan bergantung pada pohon ini: barang yang bisa dijual hanyalah minyak kelapa dan tentu saja kelapanya sendiri, yang dibawa ke Singapura dan Mauritius, dimana mereka umum digunakan sebagai minyak goreng dan makanan lainnya. Selain manusia, kelapa juga dimakan oleh babi yang gemuk dengan lemak serta bebek dan ayam. Bahkan kepiting darat yang besar diolah oleh alam untuk membuka dan memakan produk paling berguna ini.

Karang berbentuk cincin dari pulau laguna ini dikelilingi pulau-pulau linier. Di sisi utara, ada  bukaan dimana kapal dapat masuk dan membuang sauh. Saat masuk, pemandangan sangat mengesankan dan indah; keindahannya, walau begitu, sepenuhnya tergantung pada kecemerlangan warna sekitarnya. Air tenang yang dangkal dan jernih di laguna, dikelilingi sebagian besar oleh pasir putih, yang ketika dipancari matahari tegak, menjadi berwarna kehijauan. Warna cemerlang ini, lebarnya beberapa mil, ada di semua sisi, baik lewat barisan ombak seputuh salju dari air gelap samudera, hingga dari birunya langit yang dibatasi pita-pita pulau, yang bermahkotakan pepohonan kelapa. Awan putih di sana sini memberikan warna kontras dengan langit biru azura, sehingga di dalam laguna, pita-pita koral yang hidup menggelap pada air hijau emerald.

Setelah makan malam, kami tinggal untuk melihat pertunjukan menarik dan separuh mistik dari para wanita Melayu. Sebuah sendok kayu besar dibusanakan dengan garmen, dan dibawa ke kuburan seorang yang meninggal, mereka berlaku seperti diberkahi bulan purnama, dan akan menari dan melompat. Setelah persiapan, sang sendok, dipegang oleh dua wanita, menjadi berayun, dan menari selaras dengan lagu anak-anak dan wanita yang mengelilinginya. Ini terlihat seperti hal yang konyol; namun Tuan Liesk berkata kalau banyak orang Melayu percaya kalau gerakan itu bersifat spiritual. Tarian tidak dilakukan sebelum bulan tinggi, dan mereka harus memegang obor terangnya sehingga bersinar senyap melewati lengan-lengan panjang pohon kelapa saat mereka bergerak menembus dinginnya malam. Pemandangan tropis ini sendiri begitu lezat, sehingga mereka hampir sama dengan yang ada di rumah, yang diikat oleh ingatan terindah kita.

Hari selanjutnya aku memilih pergi memeriksa struktur yang sangat menarik namun sederhana dan asal usul kepulauan ini. Ada yang aneh pada airnya, ia halus. Saya berjalan di barisan karang yang mati dan datar di bagian luar jauh sehingga mencapai gundukan koral yang hidup, dimana iapun berbatasan dengan lautan terbuka

Lokasi Pulau Kelapa (Pulau Keling)

Dalam beberapa lubang dan celah, ada ikan-ikan hijau dan warna lainnya, dan bentuk serta pola dari aneka jenis zoofita ini mengagumkan. Dapat dipahami antusiasme kita pada tak terhingga mahluk organis yang melimpah ruah hidup di lautan tropis; namun saya harus mengakui hal ini telah lama diungkapkan oleh para naturalis yang menjelaskan, dengan kata-kata yang lebih dapat dimengerti, mengenai arsitektur bawah laut yang beratapkan ribuan keindahan, dalam bahasa yang sedikit berbeda.

 

Sumber :

Charles Darwin. 1845. Journal of Researches into the Natural History and Geology of the Country Visited during the Voyage of H.M.S. Beagle Round the World. Chapter XX.

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.