Diposting Senin, 30 Mei 2011 jam 4:32 pm oleh Evy Siscawati

Perilaku Kawin unik Cacing Laut Khas Indonesia : Bonellia viridis

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 30 Mei 2011 -


 

Cacing Bonellia viridis secara visual tidaklah menarik, ia seperti cacing laut pada umumnya. Cacing laut B. viridis menghabiskan sepanjang waktunya dalam sebuah gundukan di bawah lumpur rawa-rawa bakau di perairan hangat Kalimantan. Untuk makan, cacing ini mendorong keluar sebuah belalai yang sangat panjang, hampir satu meter panjangnya, yang menyapu daerah di mulut gundukannya untuk menangkap makanan.

Anehnya, semua cacing ini betina; para ilmuan tidak berhasil menemukan seekorpun jantan. Ternyata sang jantan sesunguhnya hidup di dalam tubuh betinanya. Walaupun lidahnya hampir satu meter panjangnya, tubuh sang betina hanya mencapai 8-10 centimeter. Lalu bagaimana jantannya? Bukankah ia tinggal di dalam tubuh betinanya? Berarti lebih kecil dong? Ya, ukuran jantannya hanya 5 milimeter.

Bonelia betina dan jantan

Sang jantan  Bonellia viridis jika ukurannya diperbesar menjadi seukuran manusia, maka betinanya akan seukuran King Kong. Bagaimana bisa cowok kawin dengan King Kong?

Kalau kamu menonton film King Kong, ada sebuah parodi nakal yang tak terlihat. Bagaimana King Kong cowok kawin dengan manusia cewek? Secara logis udah gak mungkin, ukuran itunya beda banget. Tetapi, jika King Kong cewek yang kawin dengan manusia cowok, itu mungkin. Cowoknya masuk ke dalam liang senggama sang King Kong, gua raksasa tempat masuknya penis (eh maksudnya cowok itu). Tetapi di alam memang demikian, setidaknya dalam kasus Bonellia viridis.

Mustahil bisa masuk

Sang jantan tinggal di dalam rahim sang betina, dimana ia memakan mutrisinya dan hanya diwajibkan untuk menghasilkan sperma ketika sang betina siap bertelur. Bayangkan memiliki suami seperti itu, sistem pengirim sperma puncak, tidak terlihat dan hidupnya hanya satu – menghasilkan sperma saja. Kawin dengan sperma.

Ini sebuah perilaku fantastis yang mengutamakan efisiensi dan mungkin pengakuan mutlak cowok kalau dia itu pemalas. Hehe. Namun ia sesuai dengan bagaimana  cara alam menentukan jenis kelamin cacing sejak awalnya. Bonellia muda melewati tahap larva dimana mereka berjalan-jalan di lumpur. Saat ini, tidak ada yang jantan atau betina, semua sama dan punya potensi untuk menjadi jantan atau betina.

Ketika waktunya tiba untuk menjadi dewasa, mereka diam di permukaan lumpur. Bila tempat diam yang dipilih sang cacing ternyata berada dalam jangkauan sapuan lidah ibunya atau betina lain di depan gua, sebuah hormon yang terletak di belalai tersebut menentukan jenis kelamin sang anak, jika ia tersapu, sudah pasti ia akan menjadi jantan. Sekali tersentuh dengan lidah penjelajah ini dan diracuni oleh hormonnya, sang larva bergeser tanpa bisa lari menuju ke mulut sang betina, memasuki rahimnya dan tinggal di sana selamanya.

Cacing kecil lidah gede, cabang dua lagi

Dalam beberapa minggu, semua organ yang dibutuhkan telah berkembang dan jantan yang diperbudak tersebut mulai memompa sperma. Larva yang berada di luar jangkauan lidah betina tetap dimana ia berada dan tumbuh menjadi betina yang  ketika dewasa, mulai memancing para jantan dengan lidahnya.

Referensi

Sykes, B. 2004. Adam’s Curse: A Future Without Men. Corgi Books.

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.