Diposting Senin, 30 Mei 2011 jam 4:07 pm oleh Evy Siscawati

Mumi menceritakan Sejarah Wabah

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 30 Mei 2011 -


 

Sebuah analisis mumi-mumi yang diketemukan di Nubia, sebuah bekas kerajaan yang berada di Sudan sekarang, memberi detail pertama kali tentang prevalensi penyakit pada populasi masyarakat kuno, dan bagaimana perubahan yang dilakukan manusia pada lingkungan masa itu menyebabkan penyebarannya.

American Journal of Physical Anthropology menerbitkan studi ini, dipimpin mahasiswa pasca sarjana Emory, Amber Campbell Hibbs, yang baru saja menerima gelar PhD dalam antropologi. Sekitar 25 persen mumi dalam studi ini berusia 1500 tahun dan ditemukan memiliki Schistosoma mansoni,  spesies schistosomiasis yang berasosiasi dengan teknik irigasi yang lebih modern.

“Seringkali dalam kasus populasi prasejarah, kita cenderung beranggapan kalau mereka bersahabat dengan lingkungan, dan mendapat berkahnya,” kata Campbell Hibbs. “Studi kami menunjukkan kalau sama saja seperti orang masa kini, penduduk kuno ini mampu mengubah lingkungannya sedemikian hingga mempengaruhi kesehatan mereka sendiri.”

Studi ini ditulis oleh antropolog Emory George Armelagos; William Secor, epidemiologis dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit; dan Dennis Van Gerven, antropolog dari Universitas Colorado di Boulder.

“Kami berharap kalau pemahaman mengenai dampak schistosomiasis di masa lalu dapat membantu menemukan jalan mengendalikan apa yang menjadi penyakit parasit paling luas di dunia sekarang, “ kata Campbell Hibbs.

Schistosomiasis disebabkan cacing parasit yang hidup dalam siput air tawar tipe tertentu. Parasit ini dapat muncul dari siput untuk mencemari air tawar, dan kemudian menginfeksi manusia yang kulitnya bersentuhan dengan air.

Infeksi dapat menyebabkan anemia dan penyakit kronis yang merusak pertumbuhan dan perkembangan kognitif, merusak organ, dan meningkatkan resiko penyakit lain. Bersama malaria, schistosomiasis merupakan salah satu penyakit parasit paling merusak secara sosio-ekonomi di dunia.

Sejak tahun 1920an, bukti-bukti schistosomiasis dideteksi pada mumi dari daerah sungai Nil, namun baru tahun-tahun sekarang analisis antigen dan antibodi dari sebagian individu tersebut mungkin dilakukan.

Studi terbaru ini menguji sampel jaringan yang rusak dari dua populasi Nubia atas dugaan infeksi S. mansoni. Populasi Kulubnarti hidup sekitar 1200 tahun lalu, pada era dimana banjir Nil mencapai ketinggian rata-rata tertingginya, dan bukti arkeologis irigasinya sedikit. Populasi Wadi Halfa hidup lebih jauh di daerah selatan Nil, sekitar 1500 tahun lalu, ketika ketinggian air rata-rata lebih rendah. Bukti arkeologis menunjukkan kalau penduduk Wadi Halfa menggunakan irigasi parit untuk merawat berbagai tanaman pertanian.

Analisis sampel jaringan menunjukkan kalau 25 persen populasi Wali Halfa dalam studi ini terinfeksi S. mansoni, sementara hanya 9 persen Kulubnarti yang terinfeksi.

Air tegak yang dikumpulkan lewat saluran irigasi membantu penyebaran tipe siput yang mengandung S. mansoni. Bentuk penyakit lain, Schistosoma haematobium, menyebar lewat siput yang memilih hidup dalam air yang bebas mengalir dan lebih kaya oksigen.

“Sebelumnya secara umum dianggap kalau populasi kuno menderita schistosomiasis terutama disebabkan oleh S. haematobium, dan kalau S. mansoni tidak menyebar hingga bangsa Eropa muncul dan memperkenalkan skema irigasi intensif,” kata Campbell Hibbs. “Pandangan eurosentrik mengenai apa yang terjadi di Afrika tersebut berasumsi kalau teknologi yang lebih maju dibutuhkan untuk mengendalikan elemen-elemen, dan kalau irigasi yang dilakukan secara lebih tradisional tidak berpengaruh besar pada lingkungan.”

Penulis George Armelagos adalah bioarkeolog yang telah mempelajari populasi Nubia kuno selama lebih dari tiga dekade. Lewat analisis ekstensif, ia dan rekan-rekannya menunjukkan kalau hampir 2000 tahun lalu, bangsa Nubia secara teratur mengkonsumsi tetrasiklin, paling mungkin dalam bir mereka, pada level yang cukup tinggi hingga memperoleh efek antibiotiknya.

“Bangsa Nubia mungkin bangsa paling sehat dibandingkan banyak populasi di masanya, karena iklim yang kering, yang mengurangi beban bakteri, dan karena mengkonsumsi tetrasiklin,” kata Armelagos. “Namun prevalensi schistosomiasis yang ditunjukkan dalam studi ini menyarankan kalau beban parasit mereka ternyata cukup berat.”

Sumber berita :

Emory University.

Referensi jurnal:

Amber Campbell Hibbs, W. Evan Secor, Dennis Van Gerven, George Armelagos. Irrigation and infection: The immunoepidemiology of schistosomiasis in ancient Nubia. American Journal of Physical Anthropology, 2011; DOI: 10.1002/ajpa.21493

 

 

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.