Diposting Senin, 30 Mei 2011 jam 4:17 pm oleh Evy Siscawati

Air Mata Buaya

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 30 Mei 2011 -


 

Bulan Oktober 2007, seorang peneliti Universitas Florida menyimpulkan kalau buaya memang menangis ketika makan – namun atas alasan fisiologis bukannya kesedihan.

Zoologis UF Kent Vliet mengamati dan merekam empat caiman dan tiga aligator tangkapan, keduanya kerabat dekat buaya, ketika makan disebuah lahan kering di Taman Zoologi Peternakan Aligator St Augustine Florida.

Ia menemukan kalau lima dari ketujuh hewan ini menangis ketika mereka merobek makanannya, dengan air mata yang menetes dan bahkan membasahi.

“Ada banyak referensi dalam literatur umum mengenai buaya makan dan menangis, namun hampir semuanya bersifat anekdotal,” kata Vliet. “Sementara itu, dari sudut pandang biologi ada kebingungan mengenai subjek ini dalam literatur ilmiah, jadi kami memutuskan untuk melihat lebih dekat.”

Vliet mengatakan kalau ia memulai proyek ini setelah ada ajakan dari D. Malcolm Shaner, seorang konsultan neurologi di Kaiser Permanente, Los Angeles Barat, dan asisten profesor neurologi klinis di UCLA.

Shaner, yang ikut menulis paper penelitiannya, menyelidiki sindrom yang relatif langka pada palsi wajah manusia yang menyebabkan penderita menangis ketika makan. Untuk presentasi yang akan ia berikan pada sebuah konferensi neurologis klinis, ia ingin tahu apakah istilah umum para dokter mengenai sindrom ini, air mata buaya, punya basis fakta biologis.

Shaner dan Vliet mempelajari sejumlah besar referensi air mata buaya di buku yang diterbitkan sejak ratusan tahun lalu hingga sekarang.

Istilah ini mungkin memiliki popularitas yang luas sebagai hasil dari sebuah kalimat dalam buku “The Voyage and Travel of Sir John Mandeville,” pertama diterbitkan tahun 1400 dan dibaca luas, tulis mereka.

Kalimat tersebut mengatakan, “Dalam negara tersebut ada banyak buaya … mahluk ini memangsa manusia dan mereka memakannya sambil menangis.”

Shaner dan Vliet juga menemukan referensi tangisan buaya dalam literatur ilmiah, namun sifatnya kontradiktif dan memusingkan, kata mereka.

Seorang ilmuan, pada awal abad yang lalu, memutuskan menentukan apakah mitos ini benar dengan menggosokkan bawang putih dan garam ke mata buaya, kata Shaner. Ketika mereka ternyata tidak menangis, maka sang ilmuan menyimpulkan kalau hal tersebut mitos. Kata Shaner, “Masalah dalam eksperimen tersebut adalah ia tidak memeriksanya ketika mereka makan. Ia hanya meletakkan bawang putih dan garam di mata mereka.”

Hasilnya, Vliet memutuskan untuk melakukan pengamatannya sendiri.

Dalam mitos, buaya sering menangis ketika memakan manusia. Walau begitu, “kita tidak dapat memberi makan buaya dengan manusia,” kata Shaner.

Vliet memilih makanan aligator mirip biskuit anjing yang dibuat di peternakan aligator St. Augustine. Ia memutuskan mengamati aligator dan caiman, bukannya buaya, karena mereka dilatih di peternakan tersebut untuk makan di lahan kering. Hal tersebut sangat penting karena jika di lahan basah, air dapat membasahi mata sang hewan sehingga tidak dapat diketahui apakah ia mengeluarkan air mata atau tidak.

Pemilih peternakan tidak melatih buaya untuk makan di darat karena mereka sangat liar dan agresif, kata Vliet. Namun ia mengatakan kalau ia yakin reaksi yang sama terjadi pada aligator dan caiman, karena semuanya berkerabat dekat dengan buaya.

Apa yang menyebabkan air mata buaya masih merupakan misteri.

Vliet mengatakan kalau ia percaya ini merupakan hasil perilaku mendesis dan menghembus, perilaku yang sering dilakukan saat ia makan. Udara terdorong melewati sinus dan dapat bercampur dengan air mata dalam lacrimal buaya, atau kelenjaran air mata yang menjadi kosong dan airnya tumpah ke mata.

Namun satu hal yang pasti, sang buaya tidak karena menyesal, kata Vliet. “Berdasarkan pengalaman saya, ketika buaya memangsa sesuatu, mereka memang sungguh-sungguh, tanpa rasa iba.”

Sumber berita :

University of Florida.

 

 

 

 

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.