Diposting Selasa, 24 Mei 2011 jam 8:11 pm oleh Evy Siscawati

Bintik Merah Yupiter

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 24 Mei 2011 -


 

Seperti sebagian besar fenomena astronomi, bintik merah raksasa tidak terprediksi dan tidak dipahami dengan baik ketika ia ditemukan. Bahkan sampai sekarang, detail tentang bagaimana dan mengapai bintik merah raksasa berubah bentuk, ukuran dan warna masih misteri.  Pemahaman yang lebih baik pada cuaca Yupiter dapat membantu pemahaman yang lebih baik pada cuaca yang ada di Bumi.

Selain Bintik merah raksasa, juga ada dua sistem badai baru yang tumbuh dengan warna kemerahan yang sama, diberi nama bintik merah junior dan bintik merah bayi. Bintik merah junior ditemukan terbentuk pertama kali tahun 2006, sementara bintik yang lebih kecil baru ditemukan  tahun 2008. Bintik merah junior bergerak horizontal dari kiri ke kanan melintasi bintik merah raksasa, dibawahnya, lalu menarik bintik merah bayi dari bintik merah besar. Seiring waktu, Bintik merah bayi kembali tertarik ke arah bintik merah raksasa dan warnanya semakin pucat. Diduga bintik merah bayi pada akhirnya kembali ditelan oleh bintik merah raksasa. Ukuran kedua bintik kecil ini kurang dari ukuran diameter Bumi.


Awal tahun 2007, pesawat New Horizon arah Pluto, mengambil citra Yupiter. Selain terkenal dengan bintik merah besarnya, yupiter juga terkenal dengan pita awal khatulistiwanya yang beraturan, terlihat bahkan lewat teleskop biasa. Yupiter mungkin memiliki keanekaragaman pola awan terbanyak di tata surya. Bahkan bagian yang terlihat terang, ternyata menunjukkan struktur mengagumkan dengan pola gelombang yang kompleks. Energi yang mengendalikan gelombang-gelombang ini tampaknya datang dari bawahnya.

Pita-pita gelap dan zona terang di pita awan Yupiter disusun oleh angin-angin menggelinding planet ini yang mencapai kecepatan 500 kilometer per jam. Menuju kutub Yupiter, struktur awan menjadi lebih bertumpuk dan memuntir hingga lebih mirip otak manusia! Perubahan pola awan dari khatulistiwa menuju kutub ini tidak dimengerti oleh para astronom namun diduga sebagian disebabkan oleh rotasi cepat Yupiter dan vorteks-vorteks konveksi yang muncul di lintang tinggi akibat pelepasan panas internal planet masif.

Referensi

APOD: 2011 May 2 – Jupiter’s Great Red Spot from Voyager 1

APOD: 2008 July 24 – When Storms Collide
APOD: 2008 May 23 – Jupiter’s Three Red Spots
APOD: 2007 October 15 – Jupiter’s Clouds from New Horizons
APOD: 2006 July 25 – Jupiters Two Largest Storms Nearly Collide
APOD: 2006 May 5 – Jupiter and the Red Spots

APOD: 2006 March 18 – Red Spot Jr.

APOD: 2005 September 11 – Jupiters Clouds from Cassini

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Fans Facebook

Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.