Mekanisme Makan Vertebrata Pertama yang Aneh
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login
Minggu, 22 Mei 2011 - Sebuah gigi mirip taring di bibir atas yang ganda,gigi-gigi tajam di lidah dan mekanisme mirip katrol untuk menggerakkan lidah maju dan mundur – gigitan aneh ini milik dari seekor konodon.
Sebuah fosil segar yang ditemukan telah dianalisa dan direkonstruksi oleh sebuah tim peneliti Swiss-Perancis diketuai paleontolog dari Universitas Zurich. Analisa mereka memberi petunjuk pada asal usul evolusi rahang. Menggunakan model animasi 3D, rekonstruksinya menunjukkan pertama kali bagaimana vertebrata pertama makan.
Rahang tersusun dari tulang yang umum ditemukan dalam kerajaan hewan. Walau begitu, bagaimana rahang berkembang dalam arah evolusi masih merupakan misteri. Dalam arahan paleontolog Nicolas Goudemand, sebuah tim peneliti dari Universitas Zurich dan Fasilitas Radiasi Sinkrotron Eropa mencoba memecahkan teka-teki ini. Hewan tanpa rahang yang masih hidup dan telah punah dapat memberi petunjuk mengenai perkembangan rahang.
Para peneliti mempelajari fosil konodon – hewan punah berbentuk belut yang hubungan pastinya dengan vertebrata aktual masih diperdebatkan.
Untuk proyek mereka, yang didanai oleh Yayasan Sains Nasional Swiss dan baru saja diterbitkan dalam jurnal PNAS Amerika, para peneliti menganalisa fosil-fosil konodon baru yang berasal dari masa peristiwa kepunahan massal terbesar pada perbatasan antara periode Perm dan Trias.
Gigi di Bibir Atas dan Lidah
Dalam beberapa fosil yang baru ditemukan di China ini, para peneliti menemukan beberapa struktur menyatu mirip gigi yang berada pada posisi yang aneh di mulut. Berdasarkan penemuan ini dan evaluasi ulang aparat makan konodon yang konstruksinya aneh lainnya, para ilmuan mengembangkan sebuah model animasi 3D yang menunjukkan bagaimana konodon makan: sebagian besar konodon memiliki dua bibir atas, satu di atas yang lain yang mana ada sebuah struktur mirip taring. Konodon juga memiliki sejenis lidah yang diselubungi sederetan gigi mirip sisir atau duri. Lidah ini berada pada tulang rawan mirip katrol dan dapat digerakkan maju mundur karena dua otot berlawanan. Konodon menggunakan lidah dan bibir ini untuk menangkap makanan sebelum dua pasang gigi tenggorokan yang relatif kuat dan kadang mirip geraham menggilas dan memotongnya.
Kesamaan dengan lamprey
Mekanisme makan yang unik dari konodon ini sama dengan lamprey, yang secara luas dipandang sebagai kerabat terdekat konodon yang telah punah. Penemuan baru ini membenarkan kalau konodon dapat dipandang sebagai vertebrata primitif dari sudut pandang evolusi. Lebih jauh, karena mekanisme makan yang sebanding dan kesamaan lainnya, lamprey dan konodon mestinya memiliki leluhur yang sama yang merupakan salah satu vertebrata pertama. Leluhur bersama ini harus juga memiliki lidah yang berada pada tulang rawan mirip katrol dan karenanya makan dengan cara yang sama dengan konodon.
Sumber berita : University of Zurich.
Referensi jurnal:
N. Goudemand, M. J. Orchard, S. Urdy, H. Bucher, P. Tafforeau. Synchrotron-aided reconstruction of the conodont feeding apparatus and implications for the mouth of the first vertebrates. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2011; DOI: 10.1073/pnas.1101754108
- Tujuan Hidup yang Lebih Besar Melindungi Perubahan Berbahaya di Otak yang Berasosiasi dengan Penyakit Alzheimer
- Resiko Cacat Lahir Lebih Tinggi pada Reproduksi yang Dibantu
- Pandangan Berbeda Mengenai Tuhan Mempengaruhi Perilaku Mencontek
- Manfaat Pengasuhan Anak Bermutu Tinggi Tetap Terasa Ketika Individu telah Berusia 30 Tahun
- Korupsi Menghambat Pertumbuhan Ekonomi Negara Berpenghasilan Rendah
- Asal Usul Suku-Suku Di Indonesia
- Kelelawar, Paus, dan Bio-Sonar: Temuan Baru Tentang Perilaku Mencari Makan Paus Mengungkapkan Konvergensi Evolusi Mengejutkan
- Tuhan dan Sains Modern (Part 11): Penutup
- Untuk Mendorong Kepuasan Konsumen, Pemilik Harus Memperhatikan Kepuasan Kerja Karyawan
- Kepulauan Pasifik di Khatulistiwa Dapat Menjadi Tempat Pengungsian Terumbu Karang dalam Iklim yang Menghangat Karena Perubahan Arus Samudera
