Diposting Sabtu, 21 Mei 2011 jam 6:57 pm oleh Evy Siscawati

Kiamat dari sudut pandang Sains

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 21 Mei 2011 -


 

Demikianlah lahirnya matahari kita, salah satu bintang dari sekian banyak bintang di alam semesta. Tapi ia tidak akan selamanya demikian. Suatu saat, sekitar 5.5 miliar tahun akan datang, matahari akan mengembang menjadi raksasa merah dan memanggang Bumi, sebelum akhirnya ia sendiri menjadi cebol putih.

Kiamat

Mungkin kita di masa depan akan bermigrasi ke bintang lain atau tata surya lain ketika matahari kita berperilaku demikian. Walaupun begitu, ini tidak mungkin dilakukan selamanya. Bintang baru masih terbentuk, namun hidrogen di galaksi kita hanya akan bertahan untuk sekitar 100 juta bintang baru lagi. Bintang yang terakhir lahir di pinggiran Bima Sakti, mungkin lahir dari picuan tumbukan dengan galaksi lain. Di suatu waktu, dalam 10 triliun tahun akan datang, masa cahaya bintang akan berakhir. Cebol putih terakhir akan mendingin dan tidak akan ada lagi bintang yang bersinar.

Kondisi demikian dapat dikatakan kiamat, karena tidak ada lagi harapan kemunculan cahaya. Semuanya gelap gulita. Kehidupan lenyap dan tidak akan muncul kembali. Walau begitu, gambaran diatas adalah gambaran kasar yang tidak pasti. Ketidakpastian masa depan kita didasari oleh dua hal dasar dalam sains : Chaos dan Mekanika Kuantum.

Ketidakpastian Ramalan

Chaos

Chaos membatasi deskripsi alam secara kualitatif menggunakan presisi matematis. Karakter chaos alam juga memperendah harapan tertentu yang dimunculkan sejak zaman Pencerahan, ketika alam semesta digambarkan sebagai sebuah mesin di mana bagian-bagiannya disusun seperti roda jam, sesuai desain tertentu. Bila sebuah roda berputar dalam sudut tertentu, yang lain berputar dengan jumlah yang sesuai. Bila roda pertama berputar dua kali lipat sudut tersebut, roda kedua juga berputar dua kali lipat. Pandangan alam semesta seperti ini bersifat linier dan tidak menjelaskan pandangan sains masa kini pada dunia kita.

Mekanika Kuantum

Batasan lain pengetahuan ilmiah pada masa depan adalah ketidakpastian sistem mekanika kuantum. Karena posisi dan kecepatan tidak dapat diketahui sekaligus dan dengan ketelitian tak terhingga, perkembangan di masa depan hanya dapat diramalkan berdasarkan probabilitas. Dalam mekanika kuantum, dasar utama fisika modern, realitas termaterialisasi ketika interaksi tak balik terjadi, seperti pengamatan. Apa yang ada di masa depan sendiri masih belum ditentukan dan baru ditentukan nanti.

Dibandingkan dengan Agama

Sementara sains mengatakan bahwa kiamat demikian belum tentu terjadi (karena efek Chaos dan mekanika kuantum), agama mengatakan bahwa kiamat itu pasti lewat apa yang disebut penjelasan teleologis. Ketika diterapkan dalam sains, terjadi sebuah konflik yang tidak dapat diabaikan.

Tidak Berpengaruh pada Sains

Penjelasan teleologis (telos, Yunani untuk ‘akhir, tujuan’) memperkenalkan sebuah struktur finalitas pada sains. Ia pernah dipandang serius, dan akhirnya ditolak, namun telah pula menimbulkan banyak emosi dalam kesarjanaan rasionalistik. Hukum baru akan menjelaskan kecenderungan pada alam semesta yang memungkinkan kehidupan muncul, sama dengan karakteristik energi konstan. Berbeda dengan kekekalan energi, dimana tidak ada pengecualian yang terbukti ilmiah selain efek-efek kuantum sementara, karakter finalitas ini hanya menjamin kebutuhan kondisi awal kehidupan. Tidak mungkin pandangan ini akan menemukan konsensus dari hukum alam lainnya yang telah dinikmati fisika. Walau begitu, finalitas bukanlah hal aneh dalam struktur analitis fisika sebab akibat. Hukum kedua termodinamika mengandung finalitas dengan penekanan pada masa depan – peningkatan entropi – tanpa ada basis sebab akibat. Proses pengaturan diri memiliki sebuah penarik atau tujuan yang secara mandiri menyusun arah. Ia memberikannya arah menuju proses mikro sebab akibat yang naik. Finalitas memang tidak bertentangan dengan sebab akibat dan tidak mempegaruhi sains dalam tugasnya menemukan sebab akibat individual dari sebuah peristiwa.

Bersifat Subjektif

Pengukuran dan pengamatan ilmiah harus dapat direproduksi dan objektif. Penelitinya dapat ditukar namun hasilnya akan tetap sama. Dalam persepsi agama, justru sebaliknya, manusia selalu terlibat. Ini tidak berarti murni subjektif, persepsi ini sering kali berhubungan dengan entitas luar. Persepsi demikian bersifat universal bagi manusia dan mengubah hidup banyak orang secara nyata dan sangat positif. Jika realitas menentukan efek apa yang berkelanjutan pada hidup yang nyata, perubahan ini merupakan saksi realitas yang dialami. Manusia secara langsung ambil bagian dalam proses persepsi dan merupakan instrumen pengamatan. Karenanya pengamat tidak dapat ditukar, seperti dalam kasus pengalaman seni. Sifat persepsi inilah yang menjadi titik awal perbedaan sains dan agama. Kedua bidang ini mengalami realitas yang membentang pada metodologi dan bahasa yang berbeda.

Harapan dari Fakta Ilmiah

Harapan atas sesuatu yang baru adalah salah satu dari beberapa pola penafsiran tanda-tanda waktu. Bila kita hidup dalam pola ini, perkembangan masa lalu alam semesta kita dapat menjadi sebuah metafora untuk masa depan eksistensi kita. Lebih jauh, dengan menafsirkan fakta ilmiah, mereka dievaluasi pada basis pengalaman tambahan. Fakta ilmiah muncul dalam perspektif lain dan dalam cahaya baru: alam semesta terungkap sebagai proses penciptaan berkelanjutan, bukannya tragedi kematian terus menerus.

Referensi :

Benz, A. “Tragedy versus Hope: What Future in an Open Universe?” Dalam Is Nature Ever Evil? : Religion, Science and Value, Hal. 120-132, Willem B. Drees (ed). Routledge, 2003.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.