Diposting Kamis, 19 Mei 2011 jam 7:33 pm oleh Evy Siscawati

Relung Mamalia Darat di Indonesia

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 19 Mei 2011 -


 

Teori Evolusi lewat seleksi alam sebenarnya ditemukan bersamaan oleh Darwin dan Wallace. Hanya karena Darwin lebih komprehensif dalam kajiannya, maka kita lebih mengenai Darwin sebagai penemu teori evolusi lewat seleksi alam. Jika Darwin mendapat ilham dari kepulauan Galapagos di Pasifik Timur, maka Wallace mendapat ilham dari kepulauan Indonesia.

Salah satu bukti evolusi lewat seleksi alam adalah bukti dari biogeografi. Di masa lalu, para ilmuan dipusingkan oleh teka-teki, mengapa fauna Eropa dan Amerika Utara, relatif amat mirip, padahal terpisah oleh Samudera Atlantik. Mengapa fauna Afrika dan Amerika Selatan, relatif amat mirip, padahal mereka juga terpisah oleh Samudera Atlantik. Mengapa fauna di Australia berbeda sekali dengan fauna di Asia? Mengapa hampir tidak ada mamalia di pulau-pulau yang terisolasi di tengah Samudera Pasifik?

Jawabannya terkait dengan pergerakan lempeng tektonik dalam waktu geologis selama jutaan tahun. Di masa lalu, Eropa menyatu dengan Amerika Utara, Afrika dengan Amerika Selatan, sementara Amerika Utara dan Amerika Selatan terpisah jauh. Dahulu pulau-pulau di tengah Samudera Pasifik tetap seperti itu begitu juga Australia, mereka pernah menyatu tapi jauh di masa lalu, di masa dimana mamalia belum ada (pulau-pulau Pasifik), atau mamalia masih dalam tahap sangat purba (Australia). Fauna melintasi jalan darat dan sekarang terpisah oleh samudera atau terhubung dengan daratan sempit. Mereka berevolusi lewat seleksi alam secara sendiri-sendiri dan memunculkan perbedaan, walau tetap memiliki kemiripannya.

Dahulu, Sumatera, Kalimantan dan Jawa menyatu dengan Asia, dan tidak heran jika hewan-hewan di ketiga pulau besar ini mirip dengan fauna Asia. Begitu pulau Papua, dahulu menyatu dengan Australia, sehingga hewan-hewan di Papua mirip dengan fauna Australia. Sungguh demikian, lebih dari 100 spesies burung Papua sangat tidak senang menyeberangi lautan sehingga mereka tetap terisolasi, bahkan dari pulau-pulau sekitar Papua yang hanya berjarak 1 mil dari pantainya. Beberapa lagi dapat menyeberang dengan baik ke pulau-pulau sehingga dapat umum ditemukan di Maluku. Dari barat, hewan-hewan Asia dapat menyeberang ke Sulawesi dan menghuni pulau ini, namun dalam keragaman yang kecil. Lebih kecil lagi proporsi fauna mamalia yang mampu menyeberang ke Maluku. Selanjutnya, keanekaragaman terbentuk lewat seleksi alam di Pulau Sulawesi sehingga menyusun hewan-hewan khas pulau ini.

Garis Wallace memisahkan Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumatera dengan bagian timur Indonesia. Garis ini menandai perbedaan khas mamalia di Indonesia barat dan Timur. Namun, garis Wallace ternyata direvisi oleh Weber. Berdasarkan analisa Weber, fauna di Sulawesi lebih mirip fauna Asia ketimbang fauna Papua, sementara itu fauna di Maluku lebih mirip fauna di Papua daripada di Sulawesi. Karenanya  Weber membuat garisnya sendiri yang menandai keseimbangan fauna Asia dan Papua, yaitu garis Weber. Garis Weber memisahkan Indonesia dari barat hingga ke Maluku dengan Maluku dan Papua.

Garis Wallace dan Weber hanya memisahkan mamalia darat, burung dan hewan jenis lain lebih cair sehingga mampu menyebar di seluruh Nusantara.

Selain keunikan burung di sebelah timur garis Weber (Papua), beberapa keunikan burung juga ditemukan di sebelah barat garis Wallace (Kalimantan-Sumatera-Jawa-Bali). Daerah barat garis Wallace sangat kaya dengan spesies pelatuk. Ada 28 spesies burung Pelatuk di daerah ini, sementara tidak ada sama sekali di Papua. Padahal hutan di sebelah barat garis Wallace maupun hutan di sebelah timur garis Weber sangat mirip dimana genus pohon yang dominan relatif sama. Pelatuk sangat mudah tinggal di Papua jika mereka mampu kesana, sama seperti orang Eropa sebelum penjelajahan samudera menemukan Amerika. Para pelatuk tidak mampu menyeberangi Sulawesi dan Maluku sehingga relung (niche) pelatuk di Papua kosong.

 

Referensi

Mayr, E. 2001. What Evolution Is.

Referensi Lanjut

Mayr, E. 1944. Wallace’s Line in the light of Recent Zoogeographic Studies. Quaterly Review of Biology 19(1): 1-14

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.