Diposting Rabu, 18 Mei 2011 jam 8:47 pm oleh Evy Siscawati

Asal usul Manusia

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 18 Mei 2011 -


Pandangan yang dominan diantara para ilmuan mengenai asal usul manusia modern secara anatomis adalah hipotesis yang dikenal sebagai hipotesis “Keluar dari Afrika” yang berpendapat kalau Homo sapiens muncul di Afrika dan bermigrasi keluar dari benua tersebut 50 hingga 100 ribu tahun lalu, menggantikan Homo erectus di Asia dan Homo neanderthalensis di Eropa.

Klasifikasi manusia dan kerabatnya telah berubah besar seiring waktu. Australopithecus sekarang dipandang sebagai leluhur genus Homo, kelompok yang mencakup manusia modern. Baik Australopithecus maupun Homo sapiens merupakan bagian dari tribe Hominini. Data terbaru menunjukkan kalau Australopithecus adalah kelompok yang luas dan A. africanus mungkin bukan leluhur langsung manusia modern. Klasifikasi ulang Australopithecus yang awalnya terbagi menjadi varietas kecil atau kekar telah ditempatkan dalam genusnya sendiri, yaitu Paranthropus. Ahli taksonomi menempatkan manusia, Australopithecus dan spesies terkait dalam famili yang sama dengan kera besar lainnya, yaitu Hominidae.

Asal Usul dari Leluhur Catarhini Primitif

Di masa Miosen awal, sekitar 22 juta tahun lalu, banyak jenis catarhini primitif yang teradaptasi untuk tinggal di pohon dari Afrika Timur menyarankan sejarah panjang keanekaragaman. Fosil dari 20 juta tahun lalu mencakup potongan-potongan milik Victoriapithecus, monyet dunia lama tertua. Diantara genera yang diduga berada dalam silsilah kera hingga 13 juta tahun lalu adalah Proconsul, Rangwapithecus, Dendropithecus, Limnopithecus, Nacholapithecus, Equatorius, Nyanzapithecus, Afropithecus, Heliopithecus,  dan Kenyapithecus, semua dari Afrika Timur. Keberadaan non cercopthecidae lain yang umum dari zaman Miosen tengah dari lokasi jauh seperti Otavipithecus dari endapan gua di Namibia dan Pierolapithecus dan Dryopithecus dari Perancis, Spanyol dan Austria adalah bukti keanekaragaman besar pada bentuk di Afrika dan lembah Mediterania selama rezim iklim relatif hangat dan sama di awal dan pertengahan Miosen. Hominoid Miosen termuda, Oreopithecus, berasal dari 9 juta tahun lalu di dasar batu bara di Italia.

Batu Tajam, salah satu alat pertama yang digunakan manusia

Keturunan mereka adalah hominin yang beradaptasi pada lingkungan yang lebih kering di luar sabuk khatulistiwa, bersama antelop, hyena, anjing, babi, gajah dan kuda. Sabuk khatulistiwa mengembang setelah sekitar 8 juta tahun lalu. Fosil-fosil hominan ini – spesies dalam silsilah manusia mengikuti divergensi dari simpanse – relatif diketahui dengan baik.

Asal Usul dari genus Homo

Spesies Homo terawal adalah Homo gautengensis yang ditemukan di Afrika Selatan bulan Mei 2010. Ia muncul lebih awal dari Homo habilis yang sebelumnya dipandang spesies Homo paling awal.

Fosil Homo erectus pertama ditemukan oleh dokter Belanda bernama Eugene Dubois tahun 1891 di Jawa. Pada awalnya ia memberinya nama Pithecanthropus erectus berdasarkan morfologinya yang dilihat bentuk perantara antara kera dan manusia.

Divergensi DNA Mitokondria manusia

Pasca kemunculan Homo erectus, muncul pula Homo antecessor yang dikenal dari fosil-fosilnya di Spanyol dan Inggris yang berusia 1,2 juta tahun hingga 500 ribu tahun serta Homo cepranensis yang hanya ditemukan satu fosil berupa tudung tengkorak dari Italia, yang diperkirakan berusia 800 ribu tahun. Kemudian muncul Homo heidelbergensis 800 hingga 300 ribu tahun lalu.

Homo neanderthalensis hidup dari 400 ribu tahun hingga 30 ribu tahun lalu. Sebagian pakar menganggapnya merupakan varian (ras) dari Homo sapiens saja sehingga diberi nama Homo sapiens neanderthalensis sementara kita, manusia modern, diberi nama Homo sapiens sapiens. Bukti dari pembarisan DNA mitokondria menunjukkan tidak adanya aliran gen yang signifikan antara Homo neanderthalensis dan Homo sapiens, dan karenanya keduanya merupakan spesies berbeda yang memiliki leluhur yang sama sekitar 660 ribu tahun lalu. Tahun 1997, Mark Stoneking mengatakan :

“Hasil ini [berdasarkan DNA mitokondria yang diekstrak dari tulang Neanderthal] menunjukkan kalau Neanderthal tidak menyumbangkan DNA mitokondrianya pada manusia modern … Neanderthal bukan leluhur kita.”

Penyelidikan lebih lanjut dari sumber DNA Neanderthal lainnya mendukung kesimpulan ini.

Penelitian terbaru menunjukkan kalau manusia sangat homogen secara genetik; yaitu, DNA individu jauh lebih mirip dari pada individu sebagian besar spesies, yang mungkin dihasilkan dari evolusinya yang relatif baru atau kemungkinan penyempitan populasi akibat bencana alam besar seperti letusan Toba. Karakteristik genetik berbeda memang ada, terutama merupakan hasil sekelompok kecil orang yang bergerak ke lingkungan baru. Sifat-sifat adaptif ini merupakan komponen yang sangat kecil dari genom Homo sapiens, namun mencakup berbagai karakteristik seperti warna kulit dan bentuk hidung, selain karakteristik internal seperti kemampuan bernafas dengan efisien pada daerah tinggi.

Terdapat perdebatan sengit mengenai apakah Homo floresiensis yang baru ditemukan adalah spesies yang berbeda. Beberapa ilmuan saat ini yakin kalau Homo florensiensis adalah Homo sapiens modern yang menderita kecebolan patologis. Hipotesis ini didukung sebagian karena beberapa manusia modern yang hidup di Flores, pulau dimana kerangka tersebut ditemukan, memang cebol. Pencebolan patologis ini dapat menciptakan manusia mirip hobbit. Serangan lain pada Homo floresiensis adalah ia hanya ditemukan dengan alat-alat yang hanya berasosiasi dengan Homo sapiens.

 

Tabel Perbandingan Spesies Homo (sumber: Wikipedia)

SpesiesMasa (dalam juta tahun)LokasiTinggi dewasaMassa dewasaKapasitas otak (cc)Catatan fosilPenemuan
Homo antecessor1.2 – 0.8Spanyol1.75 m90 kg1,0002 lokasi1997
Homo cepranensis0.9 – 0.8?Italia1,0001 tudung tengkorak1994/2003
Homo erectus1.5 – 0.2Afrika, Eurasia (Jawa, China, India, Kaukasus)1.8 m60 kg850 (awal) – 1,100 (akhir)Banyak1891/1892
Homo ergaster1.9 – 1.4Afrika Timur dan Selatan1.9 m700–850Banyak1975
Homo floresiensis0.10? – 0.012Indonesia1.0 m25 kg4007 individu2003/2004
Homo gautengensis>2 – 0.6Afrika Selatan1.0 m1 individu2010/2010
Homo georgicus1.8Georgia6004 individu1999/2002
Homo habilis2.3 – 1.4Afrika1.0–1.5 m33–55 kg510–660Banyak1960/1964
Homo heidelbergensis0.6 – 0.35Eropa, Afrika, China1.8 m60 kg1,100–1,400Banyak1908
Homo neanderthalensis0.35 – 0.03Eropa, Asia Barat1.6 m55–70 kg (kekar)1,200–1,900Banyak(1829)/1864
Homo rhodesiensis0.3 – 0.12Zambia1,300Sangat sedikit1921
Homo rudolfensis1.9Kenya1 tengkorak1972/1986
Homo sapiens idaltu0.16 – 0.15Ethiopia1,4503 tengkorak1997/2003
Homo sapiens sapiens (manusia modern)0.2 – sekarangDunia1.4–1.9 m50–100 kg1,000–1,850Masih hidup—/1758

 

Penggunaan Alat

Penggunaan alat telah ditafsirkan sebagai tanda kecerdasan, dan diteorikan kalau alat dapat merangsang aspek tertentu evolusi manusia – paling jelas perluasan berkelanjutan otak manusia. Paleontologi masih belum menjelaskan perluasan organ ini selama jutaan tahun walaupun sangat menuntut dalam konsumsi energi. Otak manusia modern mengkonsumsi sekitar 20 watt (400 kilokalori per hari) yang merupakan seperlima konsumsi energi tubuh manusia. Peningkatan penggunaan alat memungkinkan berburu produk daging karya energi, dan memungkinkan pengolahan produk tanaman yang lebih kaya energi. Para peneliti menyarankan kalau manusia purba ada dalam tekanan evolusi untuk meningkatkan kapasitasnya menciptakan dan menggunakan alat.

Tepatnya kapan manusia purba mulai menggunakan alat sulit ditentukan karena semakin primitif alat ini (sebagai contoh, batu berujung tajam) semakin sulit memutuskan apakah ia benda alamiah atau buatan manusia. Ada beberapa bukti kalau australopithecus (4 juta tahun lalu) mungkin memakai patahan tulang sebagai alat, namun ini masih diperdebatkan.

Plesiadapis, salah satu leluhur manusia dari masa 58-55 juta tahun lalu

Periode dari 700 hingga 300 ribu tahun lalu diberi nama periode Acheulean, ketika Homo ergaster (atau erectus) membuat kapak genggam batu besar dari serpih dan quartzit, pada awalnya cukup kasar (Acheulian awal), lalu dipoles dengan pukulan yang lebih lembut pada sisi serpih. Setelah 350 ribu tahun lalu, teknik Levallois yang lebih halus dikembangkan. Ia terdiri dari sederetan pukulan berurutan, dimana pemecah, pengiris, jarum dan jarum pelempeng dibuat. Akhirnya, setelah sekitar 50 ribu tahun lalu, alat serpih yang lebih baik lagi dibuat oleh Neandertal dan Cro-Magnon imigran (pisau, parang). Dalam periode ini mereka juga mulai membuat alat dari tulang.

Hingga sekitar 50 hingga 40 ribu tahun lalu penggunaan alat batu terlihat maju selangkah demi selangkah. Tiap fase (H. habilis, H. ergaster, H. neanderthalensis) berawal pada level yang lebih tinggi dari sebelumnya, namun ketika fase tersebut mulai perkembangan lanjut menjadi lambat. Spesies Homo ini konservatif secara budaya, namun setelah 50 ribu SM, kebudayaan manusia modern mulai berubah pada kecepatan yang jauh lebih tinggi. Jared Diamond, pengarang The Third Chimpanzee, dan beberapa antropolog menyebutnya sebagai “Lompatan Maju Besar.”

Asal Usul dari Afrika

Saat ini semua manusia adalah satu populasi spesies Homo sapiens sapiens, tidak terpisah oleh penghalang spesies. Namun, menurut model Keluar dari Afrika, ini bukanlah spesies manusia pertama: Homo habilis berevolusi di Afrika Timur setidaknya 2 juta tahun lalu, dan anggota spesies ini mempopulasi berbagai daerah di Afrika dalam waktu relatif singkat. Homo erectus berevolusi lebih dari 1,8 juta tahun lalu dan pada 1,5 juta tahun lalu telah menyebar di seluruh Dunia Lama.

Antropolog terbagi menjadi dua kubu, kubu yang percaya kalau populasi manusia masa kini berevolusi sebagai satu populasi yang saling hubung (seperti diajukan oleh hipotesis Evolusi Multiregional), dan kubu yang percaya bahwa manusia hanya berevolusi di Afrika Timur, terspesiasi, lalu bermigrasi keluar Afrika dan menggantikan populasi manusia di Eurasi (yang disebut Model Keluar Afrika atau Model Penggantian Lengkap).

Divergensi populasi manusia purba

Menurut model Keluar dari Afrika, yang dikembangkan oleh Chris Stringer dan Peter Andrews, Homo sapiens modern berevolusi di Afrika 200 ribu tahun lalu. Homo sapiens mulai bermigrasi dari Afrika antara 70 hingga 50 ribu tahun lalu dan akhirnya menggantikan spesies manusia purba yang ada di Eropa dan Asia. Keluar dari Afrika mendapat dukungan dari penelitian menggunakan DNA mitokondria wanita (mtDNA) dan kromosom Y pria. Setelah menganalisa pohon kekerabatan yang disusun menggunakan 133 tipe mtDNA, para peneliti menyimpulkan kalau semua dari kita adalah keturunan dari seorang wanita dari Afrika, yang disebut Hawa Mitokondria. Keluar dari Afrika juga didukung oleh fakta kalau keanekaragaman genetik mitokondria tertinggi ada pada populasi Afrika.

Saat ini sebagian ilmuan berpendapat kalau evolusi manusia telah mengalami percepatan sebagai akibat dari perkembangan pertanian dan peradaban sekitar 10 ribu tahun lalu. Hal ini menghasilkan perbedaan genetik mendasar pada berbagai populasi manusia saat ini.

Kesimpulan

Setiap mahluk hidup di Bumi memiliki leluhur yang sama jika ditelusuri hingga asal usul kehidupan, sekitar 3,8 miliar tahun lalu. Begitu pula manusia yang menghuni salah satu pucuk pohon evolusi raksasa seluruh mahluk hidup yang berakar di leluhur bersama tersebut (LUCA – Last Universal Common Ancestor). Jika kita batasi asal usul manusia dari 22 juta tahun lalu, maka kita berasal dari dahan catarrhini primitif yang tersebar luas di dunia saat itu. Jika kita batasi asal usul manusia pada 6 juta tahun lalu, maka kita berada pada cabang yang memuat seluruh keluarga Hominin. Jika kita telusuri hingga ke 2 juta tahun lalu, kita adalah penghuni ranting yang memuat genus Homo. Leluhur spesies kita terakhir adalah leluhur bersama manusia (Homo sapiens) dengan Homo neanderthalensis yang hidup 660 juta tahun lalu. Kita dan Homo neanderthal yang telah punah merupakan penghuni dua pucuk di ranting genus Homo

Sumber

Wikipedia. Human Evolution.

 

Referensi lanjut

  1. “Modern Humans Came Out of Africa, “Definitive” Study Says”. News.nationalgeographic.com. 2010-10-28.
  2. “Origins of Modern Humans: Multiregional or Out of Africa?”. ActionBioscience.
  3. “Out of Africa Revisited – 308 (5724): 921g – Science”. Sciencemag.org. 2005-05-13.
  4. “Toothy Tree-Swinger May Be Earliest Human”. News.discovery.com. 2010-05-21.
  5. Ambrose, Stanley H. (2005). “Volcanic Winter, and Differentiation of Modern Humans”. Bradshaw Foundation.
  6. Argue D, Donlon D, Groves C, Wright R (2006). “Homo floresiensis: microcephalic, pygmoid, Australopithecus, or Homo?”. J. Hum. Evol. 51 (4): 360–74.
  7. Bermúdez de Castro JM, Arsuaga JL, Carbonell E, Rosas A, Martínez I, Mosquera M (1997). “A hominid from the lower Pleistocene of Atapuerca, Spain: possible ancestor to Neandertals and modern humans”. Science 276 (5317): 1392–5.
  8. Cann RL, Stoneking M, Wilson AC (1987). “Mitochondrial DNA and human evolution”. Nature 325 (6099): 31–6
  9. Carbonell, Eudald; José M. Bermúdez de Castro et al. (2008-03-27). “The first hominin of Europe”. Nature 452 (7186): 465–469.
  10. Cochran G & Harpending H. 2009. The 10,000 Year Explosion. Basic Books N.Y.
  11. Gibbons, Ann (1998). “Solving the Brain’s Energy Crisis”. Science 280 (5368): 1345–47.
  12. Green RE, et al. (2008). “A Complete Neandertal Mitochondrial Genome Sequence Determined by High-Throughput Sequencing”. Cell 134 (3): 416–426
  13. Harvati K (2003). “The Neanderthal taxonomic position: models of intra- and inter-specific craniofacial variation”. J. Hum. Evol. 44 (1): 107–32.
  14. Herrera, K. J.; Somarelli, J. A.; Lowery, R. K.; Herrera, R. J. (2009). “To what extent did Neanderthals and modern humans interact?”. Biological Reviews 84 (2): 245–257
  15. Krings M, Stone A, Schmitz RW, Krainitzki H, Stoneking M, Pääbo S (1997). “Neandertal DNA sequences and the origin of modern humans”. Cell 90 (1): 19–30.
  16. Manzi G, Mallegni F, Ascenzi A (2001). “A cranium for the earliest Europeans: phylogenetic position of the hominid from Ceprano, Italy”. Proc. Natl. Acad. Sci. U.S.A. 98 (17): 10011–6.
  17. Martin RD, Maclarnon AM, Phillips JL, Dobyns WB (2006). “Flores hominid: new species or microcephalic dwarf?”. The anatomical record. Part A, Discoveries in molecular, cellular, and evolutionary biology 288 (11): 1123–45.
  18. Nature (2003-06-12). “Access : Human evolution: Out of Ethiopia”.
  19. Plummer T (2004). “Flaked stones and old bones: Biological and cultural evolution at the dawn of technology”. Am. J. Phys. Anthropol. Suppl 39: 118–64.
  20. Serre D, Langaney A, Chech M, et al. (2004). “No evidence of Neandertal mtDNA contribution to early modern humans”. PLoS Biol. 2 (3): E57.
  21. Stanley H. Ambrose (1998). “Late Pleistocene human population bottlenecks, volcanic winter, and differentiation of modern humans”. Journal of Human Evolution 34 (6): 623–651.
  22. Stringer CB, Andrews P (March 1988). “Genetic and fossil evidence for the origin of modern humans”. Science 239 (4845): 1263–8. doi:10.1126/science.3125610. PMID 3125610.
  23. Supervolcanoes, BBC2, 3 February 2000
  24. Turner W (1895). “On M. Dubois’ Description of Remains recently found in Java, named by him Pithecanthropus erectus: With Remarks on so-called Transitional Forms between Apes and Man”. Journal of anatomy and physiology 29 (Pt 3): 424–45.

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.