Diposting Minggu, 15 Mei 2011 jam 5:44 pm oleh Evy Siscawati

Bahasa Arab membuat Orang Berprasangka Buruk pada Yahudi

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 15 Mei 2011 -


 

Sebagai contoh, anggap saya ingin memberi tahu anda kalau saya mencari Kakek Vanya di jalan 42 (I saw Uncle Vanya on 42nd Street). Dalam bahasa Mian, sebuah bahasa di Papua Nugini, verba yang saya gunakan mengungkapkan apakah peristiwa ini terjadi sekarang, kemarin atau di masa lalu, sementara dalam bahasa Indonesia, verba ini tidak akan memberi tahu apakah ia telah terjadi atau akan terjadi. Dalam bahasa Russia, verbanya akan menentukan gender saya. Dalam bahasa Mandarin, saya harus mengkhususkan apakah paman yang dimaksud disini dari pihak ibu atau ayah dan apakah ia berkaitan berdasarkan pernikahan atau darah, karena ada kata-kata yang berbeda untuk semua tipe paman ini. Dan dalam bahasa Piraha, sebuah bahasa di Amazon, saya tidak dapat mengatakan 42 karena tidak ada kata untuk bilangan yang pasti, hanya kata “sedikit” atau “banyak.”

Aborigin Pormpuraaw juga unik. Berbeda dengan bahasa Inggris, bahasa Kuuk Thaayorre yang diucapkan di Pormpuraaw tidak menggunakan istilah keruangan relatif seperti kiri dan kanan. Penutur Kuuk Thaayorre bicara dalam istilah arah kardinal mutlak (utara, selatan, timur, barat dsb). Tentu saja, dalam bahasa Inggris kita juga menggunakan istilah arah kardinal namun hanya untuk skala keruangan yang besar. Kita tidak mengatakan, misalnya, “Mereka meletakkan garpu di sebelah tenggara sendok.” Namun arah kardinal Kuuk Thaayorre ia digunakan dalam semua skala. Ini artinya mereka mengatakan “mangkok di sebelah tenggara piring” atau “orang yang berdiri di selatan Maria adalah saudara saya.” Di Pormpuraaw, seseorang harus tetap memahami arah, agar dapat berbicara dengan baik.

Boroditsky dkk menguji tiga jenis penutur, bahasa Inggris, bahasa Hebrew dan bahasa Kuuk Thaayorre. Mereka diminta menyusun kartu-kartu acak di tanah sambil menghadap arah tertentu. Kartu ini terdiri dari kartu yang menunjukkan progresi waktu seperti proses orang memakan pisang, proses penuaan manusia dan proses perkembangan buaya. Setiap orang diuji dua kali, masing-masing menghadap arah kardinal berbeda. Penutur Inggris selalu menyusun kartunya dari kiri ke kanan seiring berjalananya proses yang ditunjukkan di gambar. Penutur Hebrew menyusunnya dari kanan ke kiri. Hal ini menunjukkan kalau arah menulis dalam sebuah bahasa mempengaruhi bagaimana mereka mengatur waktu. Walau begitu, penutur Kuuk Thaayorre, tidak selalu menyusun dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri. Mereka selalu menyusun dari timur ke barat. Jadi, jika mereka menghadap ke selatan, kartunya disusun dari kanan ke kiri. Jika mereka menghadap ke utara, kartunya disusun dari kiri ke kanan. Ketika menghadap timur, kartunya menjadi disusun mengarah ke dirinya, dst. Peneliti tidak memberi tahu para penutur ke arah mana mereka menghadap – penutur Kuuk Thaayorre sudah tahu dan secara spontan menggunakan orientasi keruangan ini untuk mengkonstruksi representasi waktunya.

Bahasa nonnegatif juga terdengar aneh bagi penutur bahasa Inggris. Penutur Inggris cenderung memfrase hal-hal dalam struktur orang melakukan sesuatu dengan memilih konstruksi transitif seperti “John memecahkan vas bunga (John broke the vase)” walaupun kejadian ini adalah kecelakaan. Sementara itu, bagi penutur Jepang dan Spanyol, bahasanya tidak menuntut adanya subjek dalam sebuah kalimat. Ketika menyebutkan kecelakaan, orang Spanyol menyebutnya “Se rompio el florero,” yang berarti “vas bunganya pecah” atau “vas bunganya pecah sendiri.”

Hal-hal diatas baru beberapa dari banyak penemuan mengagumkan mengenai perbedaan lintas linguistik pada kognisi. Namun bagaimana kita tahu apakah perbedaan bahasa menciptakan perbedaan pemikiran, bukan sebaliknya? Jawabannya, ternyata keduanya, cara kita berpikir mempengaruhi cara kita berbicara, namun pengaruhnya juga bisa sebaliknya. Dalam dekade terakhir, ada sejumlah besar demonstrasi yang menunjukkan kalau bahasa memang berperan kausal dalam membentuk kognisi. Berbagai studi menunjukkan kalau mengubah bagaimana orang berbicara mengubah bagaimana mereka berpikir. Mengajarkan kata baru untuk warna baru misalnya, mengubah kemampuan mereka untuk membedakan warna. Dan mengajarkan orang cara baru berbicara mengenai waktu memberi mereka cara baru untuk memikirkannya.

Cara lain menjawab pertanyaan ini adalah mempelajari orang-orang yang fasih dalam dua bahasa. Berbagai studi menunjukkan kalau para bilingual mengubah bagaimana mereka melihat dunia tergantung pada bahasa mana yang mereka tuturkan. Dua set penemuan yang dipublikasikan tahun 2010 menunjukkan kalau bahkan sesuatu yang sangat mendasar seperti siapa yang anda suka dan tidak suka tergantung pada bahasa yang digunakan saat bertanya. Studi ini, satu oleh Oludamini Ogunnaike dan rekan-rekannya di Harvard dan satunya lagi oleh Shai Danziger dkk di Universitas Ben-Gurion di Nejev, Israel, melihat pada bilingual Arab-Perancis di Maroko, bilingual Spanyol-Inggris di AS dan bilingual Arab-Hebrew di Israel, dalam tiap kasus menguji bias implisit para partisipan. Sebagai contoh, bilingual Arab-Hebrew diminta menekan tombol dengan cepat sebagai respon pada kata-kata dalam berbagai kondisi. Dalam satu kondisi, bila mereka melihat nama Yahudi seperti “Yair” atau sifat positif seperti “baik” atau “kuat,” mereka diminta menekan “M,”; bila mereka melihat nama Arab seperti “Ahmed” atau sifat negatif seperti “jahat” atau “lemah,” mereka diminta menekan “X.” Dalam kondisi lain, pemasangannya dibalik sehingga nama Yahudi dan sifat negatif memiliki tombol respon yang sama, dan nama Arab dan sifat positif memiliki tombol yang sama. Para peneliti mengukur seberapa cepat subjek mampu merespon dalam kedua kondisi. Metode ini telah digunakan luas untuk mengukur bias tak sadar atau bias otomatis – bagaimana hal-hal alamiah seperti sifat positif dan kelompok etnis terlihat bergerombol dalam pikiran manusia.

Mengejutkannya, para penyelidik menemukan pergeseran besar pada bias otomatis tak sadar ini pada bilingual tergantung pada bahasa apa yang digunakan untuk menguji mereka. Bilingual Arab-Hebrew menunjukkan lebih banyak sikap implisit positif pada orang Yahudi ketika diuji dalam bahasa Hebrew ketimbang diuji dalam bahasa Arab.

Sumber

Lera Boroditsky. How Language Shapes Thought. Scientific American, February 2011, hal. 62-66

Referensi lanjut

Caitlin M. Fausey et al. Constructing Agency: The Role of Language. Frontiers in Cultural Psychology, Vol. 1, Article 162. Published online October 15, 2010.

Shai Danziger and Robert Ward. Language Changes Implicit Associations between Ethnic Groups and Evaluation in Bilin­guals. Psychological Science, Vol. 21, No. 6, pages 799–800; June 2010.

Lera Boroditsky and Alice Gaby. Remembrances of Times East: Absolute Spatial Representations of Time in an Australian Aboriginal Community.  Psychological Science, Vol. 21, No. 11, pages 1635–1639; November 2010.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.